Achmad Ghuffar Rosyidin

Achmad Ghuffar Rosyidin

Kisah ini datang dari Ka’ab bin Ahbar pada suat hari ia bercerita bahwa Allah akan menghisab amal sekalian hamba-Nya, bila amal buruknya lebih besar dari kebajikannya maka ia akan ditempatkan di Neraka.

Nama adalah sebuah selipan harapan dan doa, oleh karena itulah setiap orangtua berusaha memberikan nama terbaik bagi sang buah hati. Bahkan Rasulullah menganjurkan untuk mengganti nama seseorang bila nama tersebut memilik arti yang tidak baik.

Laa ilaaha illallah adalah sebuah kalimat yang sangat agung, Imam Nawawi dalam kitabnya Kasyifatus Saja syarah Safinatun Najah, menuliskan perkataan syeikh Suhaimi, “Ucapan yang paling utama adalah firman Allah. Firman Allah yang paling utama adalah Al – Qur’an. Ucapan yang paling utama setelah firman Allah adalah kalimat “Laa ilaaha illallah”.

Dalam fatwa tersebut dituliskan bahwa shalat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan cara berjamaah dengan keluarga atau sendiri, bagi mereka yang berada di kawasan penyebaran covid-19 yang belum terkendali.

Rasulullah Shallallahu A'laihi Wasallam, sudah menjelaskan mengenai waktu dan tanda - tanda lailatul qadar. Imam Abu Laits as Samarqandi dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin, menuliskan sebuah hadits mengenai malam yang mulia itu.

Surga dan neraka memanglah sebuah perkara iman yang harus diyakini dengan hati bahwa benar adanya.

Beragam cara dilakukan oleh setiap otoritas Negara, mulai dari pengecekan suhu badan, meliburkan sekolah, hingga melakukan lockdown. Lantas bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan seorang muslim saat menghadapi wabah virus berbahaya ini ?

Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh penjuru alam dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik itu lelaki maupun perempuan, mulai dari aspek duniawi hingga ukhrawi, juga aspek fisikal dan mental.

Akan tiba masa ketika manusia yang pertama kali Allah hidupkan hingga manusia terakhir yang Allah matikan, akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan tiap perbuatannya semasa hidup.

Demi menawar rindu, ia menempelkan kepalanya di atas tanah kubur Laila dan kembali tak sadarkan diri. Di saat itulah, malaikat maut menjemput ruhnya dan membawanya ke langit. Jasad Majnun ditemukan kurang dari setahun setelah kematian Laila.