4 Buku Karya Khaled Hosseini yang Seru Dibaca Saat Waktu Senggang

Khaled Hosseini Khaled Hosseini (foto: khaledhosseini.com)

Muslimahdaily - Khaled Hosseini merupakan penulis yang lahir pada tahun 1965 di kota Kabul, Afghanistan. Ia memiliki latar belakang pendidikan Biologi dan juga sekolah Kedokteran. Di tengah praktek Kedokterannya pada bulan Maret 2001, Hosseini mulai menulis buku pertamanya berjudul The Kite Runner.

Lewat buku tersebut, Hossein mulai terkenal ke seluruh dunia. The Kite Runner merupakan salah satu karir sastra terbesar pada zamannya. Karya-karyanya bahkan telah diterbitkan di lebih dari tujuh puluh negara dan terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia. Tentunya selalu jadi buku-buku best seler.

Berikut ringkasan cerita dari empat buku karya Khaled Hosseini yang bisa kamu baca di waktu senggang saat bulan Ramadhan:

1. The Kite Runner

Buku ini adalah karya pertama Khaled Hosseini yang sukses menjadi bestseller di Amerika dan seluruh dunia.

Menceritakan tetang persahabatan Amir dan Hassan di Kota Kabul, Afghanistan. Amir adalah bocah kecil yang merasa di pandang sebelah mata oleh ayahnya sedangkan Hassan adalah pelayannya. Mereka adalah saudara sepersusuan dan senang bermain layang-layang bersama.

Suatu saat, ketika Hassan sedang menangkap layang-layang untuk Amir, supaya Amir bisa pulang kepada Baba (Ayah Amir) dan menerima pujian, Hassan dikepung oleh anak-anak nakal yang sudah sering mengganggu mereka berdua. Amir tidak ada disana. Hassan harus merelakan layang-layang itu supaya bisa selamat, atau mempertahankan layang-layang itu dan menerima perlakuan buruk.

Hassan memilih layang-layang untuk Amir dan membiarkan dirinya dilecehkan. Pada saat yang sama, Amir berdiri diluar gang itu, melihat semua kejadian yang menimpa Hassan tetapi terlalu pengecut untuk berlari masuk dan membela satu-satunya saudara yang ia miliki. Pilihan Amir mengubah segalanya, sejak saat itu persaudaraan yang manis itu tidak pernah sama lagi, paling tidak dari sudut pandang Amir yang menanggung rasa bersalahnya sendiri.

Hubungan Amir dan Hassan tidak pernah sama lagi sejak peristiwa itu. Banyak yang tidak terkatakan diantara mereka sampai saat mereka terpaksa berpisah. Perasaan bersalah atas keputusan yang pernah diambilnya terus membuat dirinya terbebani. Sampai sebuah panggilan telepon dua puluh tahun kemudian memaksanya harus menghadapi beban jiwanya. (Altheisa Silvia/althesia.blogspot.com)

2. A Thousand Splendid Suns

Setelah Kite Runner, Khalid kembali mengulang kesuksesannya dengan buku A Thousand Splendid Suns. Mengambil latar belakang kisah yang sama, di Afghanistan dan era peperangan. Tokoh utama kali ini merupakan dua orang wanita Afghanistan yang berjuang untuk hidup.

Berkisah tentang dua orang wanita, Mariam dan Laila sekaligus kisah dua kota di Afghanistan, Herat dan Kabul. Di bagian awal novel mengisahkan kehidupan Mariam, seorang gadis kecil yang tinggal bersma ibunya di perbatasan Kota Herat. Ia merupakan anak “Haram” hasil pemerkosaan majikan ibunya yang kaya raya bernama Jalil.

Kisah Mariam pun mulai penuh dengan drama saat ia memutuskan untuk kabur ke rumah ayahnya. Ia tak diterima disana dan diusir begitu saja. Penyesalan makan menjadi saat ia pulang ke rumah ibunya telah tewas. Kehidupan menyedihkan Mariam pun dimilai saat ia dijodohkan oleh seorang pria beruisa 30 tahun lebih tua darinya.

Disisi lain, ada perempuan bernama Laila yang hidup berkebalikan dengan Mariam. Keluarga Laila berideologi liberal dan sangat mementingkan pendidikan. Karenanya Laila berpendidikan tinggi. Ia bahkan memiliki seorang pacar yang juga berpendidikan. Keduanya sering kali bepergian dan menonton film bersama.

Namun, kehidupan Laila yang serba bebas kemudian mengalami titik balik. Keluarga Laila mengalami tragedi mengerikan hingga membuatnya hidup seorang diri. Hingga akhirnya ia menikah dan dijadikan istri kedua oleh Rasheed, suami dari Mariam. Disitulah mereka bertemu, saling membantu dan berjuang. (Afriza Hanifa/Muslimahdaily)

3. And The Mountains Echoed

Abdullah sangat menyayangi Pari, adik perempuan satu-satunya. Pari yang cantik, Pari yang seperti namanya, peri dalam bahasa Farsi. Abdullah tinggal di desa Shadbagh, Afghanistan bersama ayahnya Saboor, dan ibu tirinya, Pawarna, serta adik tirinya Iqbal. Ibu Abdullah meninggal ketika melahirkan Pari. Dan sejak saat itu, Abdullah lah yang merawat Pari.

Suatu hari, ayah mereka mengajak Pari dan Abdullah ke Kabul, ke tempat Paman Nabi, adik Parwana, bekerja. Katanya ada pekerjaan untuk Saboor di rumah majikan Paman Nabi. Anak-anak juga diajak agar dapat menikmati Kabul.

Kabul pada tahun 1950an adalah kota yang indah. Penuh rumah-rumah mewah bernilai seni tinggi. Pasar-pasar ramai dengan orang dan mobil yang berlalu-lalang. Namun nyatanya, di sanalah kepedihan Abdullah bermula. Majikan Paman Nabi, Tuan dan Nyonya Wahdati mengambil Pari menjadi anak angkat mereka. Memisahkan ikatan cinta dan persaudaraan yang begitu kuat antara Pari dan Abdullah. Ketika Pari pergi, Abdullah berjanji akan menemukan Pari lagi, suatu hari nanti. (Ratih Cahaya/Ratihcaya.blogspot.com)

4. Sea Prayer

Cahaya rembulan menerangi pantai, tempat seorang ayah menimang anak lelakinya yang tertidur. Mereka menanti fajar merekah, menanti perahu tiba. Sang ayah bercerita tentang musim panas kala dia masih kanak-kanak, mengenang rumah kakeknya di Suriah, gemerisik pepohonan zaitun yang diterpa angina sepoi-sepoi, embik kambing-kambing neneknya, dentang panci-panci masaknya. Dia juga mengenang Kota Homs dan jalan-jalannya yang ramai, masjid, dan pasar raya sebelum bom-bom berjatuhan dari langit, dan mereka harus mengungsi.

Ketika matahari terbit, sang ayah dan anak, beserta semua pengungsi yang berkumpul di pantai, harus mengumpulkan barang bawaan mereka dan memulai perjalanan laut yang penuh bahaya demi mencari suaka.

Khaled Hosseini menulis buku ini sebagai keprihatinan atas krisis pengungsi yang saat ini terjadi di dunia. Dia tergugah oleh foto Alan Kurdi, bocah pengungsi Suriah usia 3 tahun, yang jenazahnya terdampar di sebuah pantai di Turki.

Khaled ingin memberi penghormatan pada jutaan keluarga yang tercerai-berai dan terusir dari rumah mereka gara-gara perang. Sebagian royalti buku ini akan disumbangkan ke UNHCR dan Yayasan Khaled Hosseini untuk membantu para pengungsi di seluruh dunia. (Mizanstore.com)

Selamat membaca!

Leave a Comment