5 Rekomendasi Buku Tentang Sosok Ibu yang Bikin Terenyuh

buku ibuk - iwan setyawan buku ibuk - iwan setyawan (foto: goodreads.com)

Muslimahdaily - Hari ibu Nasional yang diperingati 22 Desember 2020, kini tengah dirayakan sebagian besar masyarakat Indonesia. Tanggal ini dipilih untuk mengenang momentum 22 Desember 1928, kala pertama kalinya digelar kongres perempuan Indonesia.

Jika kamu memiliki waktu luang dan ingin lebih menghayati momen hari ibu ini, cobalah untuk membaca 5 buku rekomendasi Muslimahdaily ini yang menceritakan tentang peran ibu yang luar biasa dan menginspirasi. Yuk simak

1. Satu Hari Bersamamu (Mitch Albom)

Satu hari bersamamu menceritakan tentang Charlet Benetto yang mendapatkan kesempatan menghabiskan waktu satu hari bersama ibunya yang telah meninggal. Ibunya, Pauline Posey Benetto yang sudah meninggal delapan tahun yang lalu muncul di hadapan Charley. Sungguh tak disangka, ia bisa kembali bercakap-cakap dan menghabiskan waktunya bersama ibunya lagi. Disaat Charley memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dia malah dipertemukan lagi dengan ibunya yang begitu ia rindukan.

2. Athirah (Alberthiene Endah)

“Ibuku tak pernah pergi. Ia berjalan bersamaku. Ia hilang timbul mengikuti pikiranku yang habis tersedot dunia. Tapi seperti yang kukatakan. Ia selalu bisa menarikku kembali ketika dunia terlalu hiruk pikuk untukku. Aku bocah yang selalu diasuhnya. Masih, hingga kini.”

Buku ini bercerita soal besarnya pengaruh Athirah pada perjalanan hidup Jusuf Kalla. Athirah adalah ibunda Jusuf Kalla yang biasa dipanggil "Emma". Athirah lahir dari rahim perempuan yang merupakan istri keempat dari seorang ketua kampung di pelosok kabupaten Bone. Di usianya yang baru 13 tahun, Athirah menikah dengan seorang saudagar, Haji Kalla.

Awalnya kehidupan pernikahan mereka berjalan dengan indah. Sampai kemudian, Haji Kalla jatuh cinta dengan perempuan lain dan menikah lagi. Nasib Athira tak jauh beda dengan ibunya. Athirah adalah sosok perempuan dan ibu yang luar biasa. Dengan gaya bahasa yang indah, kisah yang dituliskan di buku ini membuat kita begitu terhanyut.

Ketegaran dan ketangguhan seorang Athirah kembali menyadarkan kita bahwa seorang perempuan bisa menjadi istri dan ibu tanpa harus kehilangan identitas dirinya. Besarnya keikhlasan dan pengorbanan seorang ibu tak pernah bisa diukur dengan apapun.

3. Ketika Ibu Melupakanku (Dy Suharya, Dian Purnomo)

Buku ini berkisah dari Dy Suharya ketika ia merasa dilupakan oleh ibunya sendiri. Sang ibu divonis menderita Alzheimer. Penyakit tersebut menurunkan fungsi otak yang membuat sang ibu mengalami gangguan ingatan serta sulit berpikir.

Di dalam buku ini, disertakan juga informasi tentang deskripsi gejala awal dan tempat rujukan perawatan untuk penyandang Alzheimer. Buku ini ditulis Dy dan dipersembahkan sebagai kado untuk sang ibunda dai hari ibu pada tahun 2014 lalu.

4. Ibuk (Iwan Setyawan)

Buku ini bercerita tentang sosok ibu yang bernama Tinah, hidup berkeluarga dan memiliki lima orang anak dalam kondisi keterbatasan. Berbagai permasalahan hidup dihadapinya dengan kuat seperti angkot yang sering rusak, rumah yang bocor di kala hujan hingga biaya pendidikan anak yang besar. Ibuk rela bekerja keras untuk kehidupan anak-anaknya yang lebih baik.

Dalam buku ini penulis juga menceritakan tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi nafas bagi kehidupan.

5. Dua Ibu (Arswendo Atmowiloto)

Dua Ibu berkisah tentang seorang ibu yang berlatar belakang rendah, yang mengabdikan hidupnya kepada keluarga termasuk membesarkan anak yang tidak ia lahirkan dari rahimnya sendiri, yakni seorang anak laki-laki berusia 13 tahun bersama Hamid.

Buku ini bercerita tentang kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Sosok ibu dalam novel ini adalah ia yang membesarkan anak-anak yang juga bukan anak kandungnya. Namun, ia menyayangi anak-anak tersebut seperti anaknya sendiri.

Dalam buku ini, sang penulis menyampaikan pesan kepada calon pembaca, ”mereka yang merasa tidak pernah dilahirkan seorang ibu, dilarang keras membaca buku ini.”