Curhatan Rachel Vennya Didiagnosis Bipolar Disorder hingga Coba Bunuh Diri

Rachel Vennya Rachel Vennya ( Foto: Instagram/Rachelvennya )

Muslimahdaily - Influencer dan selebgram Rachel Vennya menceritakan pengalamannya didiagnosis gangguan bipolar. Bahkan, pada suatu kesempatan Rachel pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Melalui video berjudul Generalized Anxiety Disorder & Bipolar Disorder yang diunggah di channel Youtube keduanya, Rachel dan Niko mengungkapkan keadaan masing-masing yang mengalami gangguan mental.

Video tersebut diawali dengan Niko yang meceritakan bahwa dirinya sering merasa sesak sejak dua tahun belakangan. Setelah tak percaya dengan hasil medical checkup, Niko akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi psikiater. Hasilnya, Niko didiagnosa mengidap gangguan kecemasan atau Generalized Anxiety Disorder.

Berbeda dengan sang suami, Rachel menuturkan bahwa sejak kecil dirinya memang memiliki masalah dengan emosi. Bahkan tak jarang Rachel melukai dirinya ketika sedang merasa kecewa dan marah.

“Gue emang dari kecil emosional. Pas kecil, kalau lagi marah, suka banget keluar rumah terus jalan sampe keki gue sakit. Cara gue melampiaskan emosi gue, karena gue nggak bisa marah-marah sama orangtua gue kalau misalnya gue ngerasa sama hidup nggak sesuai sama yang gue mau,” kisahnya.

“Kalau hidup nggak sesuai apa yang gue mau itu, gue suka jedotin kepala ke tembok terus suka suicidal thought gitu,” tambahnya.

Rachel menuturkan, puncak gangguannya tersebut datang pada tahun 2013. Masalah yang terjadi pada dirinya saat itu membuat Rachel berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

“Sampe akhirnya di tahun 2013, gue menerima sesuatu yang nggak bisa gue terimalah gitu. Gue mencoba bunuh diri. Saat itu, mencoba bunuh diri dengan minum sesuatu biar aku mati ajalah gitu. Di saat itu, aku telpon mamah aku, aku minta maaf segala macem, mamahku dateng, aku dibawa ke rumah sakit jiwa,” tuturnya.

Pernah diadzani 5 kali sehari

Setelah datang ke rumah sakit jiwa, Rachel didiagnosis gangguan bipolar. Walau demikian, perlakuan orang terdekatnya saat itu justru tak membantu Rachel menghadapi masalahnya. Pihak keluarga menganggap Rachel kerasukan setan dan memutuskan untuk mengadzani Rachel 5 kali dalam sehari.

“Aku didiagnosis bipolar disorder. Orang-orang menganggap aku ini kesetanan, kurang iman, pokoknya semua berhuubungan dengan agama. Pas di situ aku inget banget hal yang tersedih itu, saat aku rawat inap ini, keluarga aku minta aku diadzanin 5 kali dalam satu hari,” kata ibu dari Xabiru dan Chava ini.

Perlakukan tersebut justru semakin memperburuk keadaan. Rachel merasa bahwa tidak ada orang yang percaya pada dirinya.

“Pertama kali diadzanin ini gue ngerasa apaan sih nih, bisa nggak sih nggak kayak gini nge-treat gue. Di situ gue ngerasa, bener-bener nggak ada ya yang percaya gue,” ujarnya.

Namun demikian, Rachel akhirnya mampu menjalani hari-harinya sebagai pengidap gangguan bipolar dengan cukup baik. Bersama dengan sang suami yang juga mengalami gangguan mental, Rachel dan Niko memutuskan untuk mencari pertolongan ahli dengan datang ke psikiater.

“Gue udah ngomong dari pertama sama Niko, kalau gue ini punya bipolar. Niko ini pasif dan gue ini agresif. Ini yang bikin kita ini rada-rada sejalan. Akhirnya gue sama Niko memutuskan untuk sama-sama berobat,” katanya.

Kini, Rachel sedikit mampu berteman dengan bipolarnya. Ia menuturkan caranya untuk mengalihkan emosinya dengan cara beraktivitas positif.

“Gue mengeluarkan emosi gue dengan cara beraktivitas. Pengalihan marah-marah gue adalah dengan cara melakukan aktivitas positif kayak misalnya review baju atau kerja,” ungkapnya.

Last modified on Rabu, 29 April 2020 14:42

Leave a Comment