Tausiyah Cinta, Film Awal Tahun yang Romantis dan Penuh Pesan Moral

Muslimahdaily - Awal tahun ini masyarakat Indonesia tidak akan risau mencari film yang bermutu untuk ditonton. Pasalnya, film Tausiyah Cinta akan hadir sebagai upaya memperjuangkan Islam sesungguhnya. Film yang diadaptasi dari sebuah puisi dari buku best seller Tausiyah Cinta ini merupakan garapan Beda Sinema Pictures. Film ini juga mengangkat peran para artis senior dan artis baru untuk beradu dalam syiar Islam agar menjadi luas.

Eksekutif Produser Izharul Haq mengatakan “Dalam film ini kami para kru mengupayakan untuk membumikan Alqur’an. Film ini akan banyak menyajikan lantunan ayat suci Alquran yang disenandugkan oleh para aktor utama” ujarnya.

Film yang dibintangi artis senior seperti Irwansyah, Peggy Melati, Meyda sefira, Rendy Herpy, Igo Ilham dan Afwan Riyadi ini mendapat animo yang luar biasa dari masyrakat. Roadshow film Tausiyah Ciinta bahkan telah terlaksana di ratusan tempat dan puluhan kota di Indonesia.

Film ini juga memadukan artis baru seperti Hamas Syahid dan Ressa Rere yang turut beradu akting bersama para aktor senior. Dalam tajuk yang diutamakan, film garapan sutradara Humar Hadi ini tidak hanya berbicara mengenai dua insan yang sedang jatuh cinta. “Film ini bukan tentang cinta antara manusia. tapi cinta yang lebih besar, yaitu cinta kepada Allah SWT” Ujar Humar Hadi atau yang lebih akrab disapa Umank.

Sinopsis :

Kehilangan seorang ibu membuat hidup Lefan (Rendy Herpy) menjadi semakin kacau. Kebencian pada sang ayah semakin menjadi tatkala ia menganggap bahwa sepanjang hidupnya, sang ayahn telah menyakiti batin sang ibu. Dalam keadaan seperti itu, kecamuk kebencian dan kehilangan Lefan membawa hidupnya menjadi kegelisahan tanpa ujung.

Hadirnya Elfa (Hidayatur Rahmi) sebagai seorang kakak kandung bagi Lefan bukan sebagai peredam kegelisahan hatinya. Elfa merupakan seorang agamawan yang mampu membimbing jamaah untuk memahami Islam lebih dalam, namun tidak bagi adiknya sendiri. Bagi Lefan, Elfa adalah sosok yang tidak pernah peduli tentang keluarga. kesibukan Elfa di dunia dakwah menjadikan Elfa tidak tahu mengenai penderitaan sang ibu selama ini.

Dendam Lefan yang semakin membuncah, mengiringi langkahnya untuk berjuang meraih kesuksesan tanpa bantuan sang ayah. Kegigihannya menjadikan Lefan sebagai konseptor bisnis yang sukses dan terkenal di Indonesia.

Namun, kesuksesannya yang telah diraih tidak meredam kegelisahan hati Lefan. Ia menemukan dirinya sebagai seorang yang sangat kehausan di padang pasir. Kebuntuan dalam perjalanan panjangnya ini mengharuskan dirinya untuk mencari jalan keluar lain. Agar kekringan dalam tenggorokannya segera bisa dibasuh air sejuk.

Hingga ia bertemu dengan seorang arsitek tampan yang juga hafidz Qur’an. Azka (Hamas Syahid Izuddin) adalah jawaban dari kegelisahan yang selama ini mengendap di hati Lefan. Menurutnya, Azka adalah sosok teladan yang tidak pernah ia temukan pada ayahnya.

Persahabatan yang dijalin dua sosok pemuda itu dibumbui dengan kehadiran seorang gadis cantik yang juga hafal Qur’an. Rein (Ressa Rere) yang merupakan mahasiswi Teknik Lingkungan tingkat akhir ini memiliki kegemaran memanah dan lincah dalam membuat gambar siluet.
Ada getaran yang dirasakan Lefan dengan kehadiran Rein. Baginya, Rein adalah jawaban tentang seorang perempuan yang didambanya. Namun.. mengapa Lefan justru menitikan air mata dibalik jawaban yang Rein berikan.

Hingga tersyair perasaan dan tangisan Lefan dalam sebuah puisi. Perasaan ini merupakan bagian dari proses ikhtiar agar selalu dekat dengan-Nya.