Asal - usul Ketupat Menjadi Makanan Khas Idul Fitri

Ilustrasi Ilustrasi ( Foto : Polka.id )

Muslimahdaily - Diantara berbagai macam makanan yang dihidangkan ketika hari raya Idul Fitri, Ketupat merupakan makanan yang paling khas dengan hari raya Idul fitri. Bagaimanakah asal usulnya?

Makanan ini ternyata mulai diperkenalkan ketika penyebaran Islam di Pulau Jawa. Salah satu wali songo, Sunan Kajijaga, memperkenalkan makanan ini kepada masyarakat di Pulau Jawa. Sunan Kalijaga membudayakan dua kali bakda. Kata bakda berasal dari bahasa Arab ba’da yang artinya “setelah”. Kata “bakda” di sini merujuk pada hari raya Idul Fitri, Dua kali bakda yang dibudayakan oleh Sunan Kalijaga ialah Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu seusai Lebaran. Pada hari itu, setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah dianyam, ketupat pun dimasak dan kemudian diantarkan ke kerabat yang lebih tua sebagai lambang kebersamaan. Menurut para ahli, ketupat memiliki beberapa makna, diantaranya:

1.Bentuk ketupat mencerminkan kesempurnaan, kesempurnaan yang dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya bertemu dengan hari yang fitri.

2.Isi nasi putih mencerminkan kebersihan dan kesucian hati seusai memohon ampunan dari segala kesalahan.

3.Penggunaan janur sebagai bungkus dari ketupat bermakna Janur dalam bahasa Arab yang berasal dari kata “jaa a al-nur” bermakna “telah datang cahaya”. Sedangkan masyarakat Jawa mengartikan janur dengan “sejatine nur” (cahaya). Dalam arti lebih luas berarti keadaan suci manusia setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan Ramadhan

Selain itu, Ketupat juga erat dengan tradisi Jawa pada tanggal 1 syawal. Ketupat atau kupat pada tradisi ini dapat diartikan dengan “laku papat” atau empat tindakan. Laku papat itu adalah lebaran, luberan, leburan dan laburan.

Lebaran, dari kata lebar yang berarti selesai. Ini dimaksudkan bahwa 1 Syawal adalah tanda selesainya menjalani puasa, maka tanggal itu biasa disebut dengan lebaran.

Lalu luberan, berarti melimpah, ibarat air dalam tempayan, isinya melimpah, sehingga tumpah ke bawah. Ini simbol yang memberikan pesan untuk memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin, yaitu sedekah dengan ikhlas seperti tumpahnya/lubernya air dari tempayan tersebut.

Kemudian leburan, maksudnya adalah bahwa semua kesalahan dapat lebur (habis) dan lepas serta dapat dimaafkan pada hari tersebut.

Yang terakhir adalah laburan. Di Jawa, labur (kapur) adalah bahan untuk memutihkan dinding. Ini sebagai simbol yang memberikan pesan untuk senantiasa menjaga kesucian lahir dan batin.

Sumber: www.islampos.com