Hagia Sophia, Saksi Sejarah Penaklukan Konstatinopel

Illustrasi Illustrasi

Muslimahdaily - Jika berjalan-jalan ke Turki kita akan banyak menemukan peninggalan sejarah tentang perkembangan Islam di negeri ini. Hagia Sophia menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Dari kejauhan kemegahan bangunan bernuansa biru ini sudah mencuri perhatian. Terletak strategis di dua benua, Asia dan Eropa yang dikelilingi oleh tiga lautan sekaligus yaitu Selat Tanduk Emas, Selat Bosphorus dan Laut Marmara.

Awalnya Hagia Sophia adalah katedral gereja utama yang berdiri sejak 537 sampai dengan 1453 M. Bangunan yang dirancang oleh Isidore dari Miletus dan Anthemius dari Tralles ini merupakan lambang kejayaan Byzantium selama berabad-abad silam. Arsitektur dan interior di dalamnya sangat indah dengan ragam mozaik, dinding-dindingnya dihiasi ukiran dan tiang-tiang yang terbuat dari pualam. Tinggi bangunan ini bahkan mencapai 55 meter.

Dari sisi sejarah, perjuangan menembus pertahanan Konstatinopel ini merupakan tonggak kebangkitan Islam di Turki. Dahulu lokasi ini memiliki benteng pertahanan yang sangat kuat, kokoh dan tidak mudah ditembus oleh musuh.

Sultan Muhammad Al Fatih yang dikenal dengan Sultan Mehmet II dari bangsa Usmani di usianya yang masih 21 tahun berupaya untuk menaklukkan Konstatinopel. Bahkan sebelum Rasulullah wafat ia telah memprediksi keberadaan Muhammad Al-Fatih ini yang terekam dalam sebuah hadist dan bersabda, "Kota Konstatinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baiknya pasukan." (HR. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad).

Demi penaklukan ini beliau menyiapkan 4 juta prajurit untuk mengepung dari darat, namun sempat mengalami kegagalan karena pertahanan benteng tersebut sangatlah kuat. Muhammad Al-Fatih harus merelakan 265.000 pasukannya gugur di medan perang.

"Dikisahkan Muhammad Fatih setelah mengalami kegagalan karena jumlah pasukan yang kian sedikit, ia meminta petunjuk dari Allah Subhanhu wa ta’ala saat shalat tahajjud . Kemudian ia mendapatkan ide penyerangan dengan strategi dan dengan pasukan yang tersisa bisa melumpuhkan Konstatinopel,” tutur Kang Rashied, seorang ustadz dan pakar sejarah Islam.

Ide pun tercetus, Muhammad Fatih dan pasukannya menyiapkan 70 kapalnya melintasi Galata ke muara. Hal yang dilakukan pada satu malam saja. Akhirnya benteng terkuat simbol dari Bizantium itu pun berhasil dilumpuhkan yang di daerah tersebut terdapat Hagia Sophia.

Saat berhasil menembus Konstatinopel, beliau langsung turun dari kudanya dan melakukan sujud syukur kepada Allah Ta’ala. Akhirnya pada tahun 1453 M Konstatinopel berhasil ditaklukkan oleh Turki Utsmani dibawah kepemimpinannya, beliau pun dikenal sebagai Penakluk Konstatinopel.

Beliau kemudian memerintahkan melakukan pengubahan Hagia Sophia sebuah katedral gereja utama umat nasrani ini menjadi masjid pada 29 Mei 1453. Gereja tersebut akhirnya beralih fungsi menjadi tempat peribadatan umat Islam yang digunakan untuk shalat jumat, shalat berjamaah hingga kegiatan umat Islam lainnya.

Renovasi transisi bangunan tersebut dilakukan namun Sultan Mehmed II tidak menghancurkan apa yang sudah dibangun oleh bangsa sebelumnya. Beberapa ornamen seperti patung-patung dan lukisan sampai patung Bunda Maria dibiarkan tetap ada. Selama 400 tahun bangunan ini menjadi masjid untuk umat Islam di Turki.

Ketika Kesultanan Utsmani runtuh pada November 1922 kemudian bentuk pemerintahan digantikan menjadi Republik Turki kembali terjadi perubahan. Presiden pertamanya, Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1931 menutup sementara masjid ini. Selama lima tahun Hagia Sophia ini dipersiapkan untuk beralihfungsi sebagai museum.

Kini sejak tahun 1935 sampai sekarang kita bisa menjadi saksi bahwa bangunan bersejarah ini pernah menjadi gereja dan masjid. Beberapa hiasan yang mampu mencuri perhatian pengunjung ialah tulisan Allah dan Nabi Muhammad serta lukisan Bunda Maria milik umat nasrani.

Museum Hagia Sophia ini kemudian menjadi objek wisata yang paling terkenal di Istanbul karena memiliki sisi sejarah yang menarik tentang perkembangan kedua agama tersebut. Tak bisa dipungkiri, gaya arsitektur Bizantium tersebut kemudian banyak menginspirasi pembangunan masjid-masjid di Turki seperti Masjid Biru, Masjid Suleymaniye, Masjid Kilic Ali Pasha, Masjid Rustem Pasha dan Sehzade.

Last modified on Kamis, 15 Maret 2018 07:50

Leave a Comment