Muslim Pekojan, Jejak Awal Penyebaran Islam di Jakarta

Ilustrasi Ilustrasi ( Foto : Tirto.id )

Muslimahdaily - Dari berbagai literatur sejarah dan buku – buku peninggalan Belanda, lingkungan kampung Arab yang ada di Nusantara sudah ada. Dapat dilihat di berbagai daerah atau kota di tanah air, hampir semuanya memiliki wilayah Kampung Arab atau kampung muslim yang dikenal dengan nama Kauman. Tidak terkecuali, ibukota Jakarta yang dahulu masih populer dengan sebutan, Betawi atau Batavia.

Awal masuknya Islam ke Jakarta

Saat itu, pelabuhan Jakarta yang dikenal dengan nama Sunda Kelapa begitu ramai dan terkenal sebagai tempat bongkar – muat barang – barang komoditas asli Indonesia yang akan dijual oleh para saudagar asing.

Pada sekitar tahun 1400-an, pelabuhan Sunda Kelapa terkenal hingga mancanegara dan menjadi persinggahan para pedagang asal Arab dan India. Karena sudah lama berdagang di tanah air, mereka akhirnya berasimilasi dan menikah dengan penduduk pribumi di Jakarta.

Mereka memilih sebuah kawasan yang dekat dengan pelabuhan untuk memudahkan urusan pekerjaan mereka. Daerah ini sekarang dikenal sebagai Kampung Koja atau Pekojan.

Pada waktu itu, hampir 98% warga kampung Koja beragama Muslim. Mereka adalah keturunan asli dari para saudagar yang berasal dari Bengali, India. Sayangnya, kini sudah sulit menemukan keturunan asli Muslim Koja, karena terjadi percampuran dengan saudagar asal Arab dan Cina yang turut meramaikan persaingan bisnis di waktu itu.

Ditetapkan sebagai Kampung Arab

Selanjutnya pada tahun 1700-an, kolonial Belanda datang dan menguasai wilayah tanah air yang sangat subur. Termasuk pemerintahan dan pelabuhan. Agar bisa semakin memonopoli kekuasaan, bangsa Belanda kemudian menetapkan wilayah Pekojan sebagai sentral warga Muslim Arab atau lebih dikenal dengan Kampung Arab.

Kebijakan ini disebut sebagai Wijkenstelsel atau zona pemukiman etnis yang memudahkan pihak Belanda untuk mengawasi para pendatang.

Di masa kini, Pekojan masuk dalam wilayah Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Komunitas kampung Arab di Jakarta juga semakin berkembang, seiring waktu mereka berdagang hingga ke Tanah Abang. Akan tetapi, masih bisa dilihat peninggalan berupa masjid – masjid kuno yang dibangun oleh para saudagar India dan Arab.

1. Masjid Al Anshor (1648)

Masjid tertua di Jakarta ini menjadi kebanggaan warga di Gang Pengukiran II. Meski berada di lokasi pemukiman padat penduduk, Masjid Al Anshor sudah dilindungi cagar budaya sejak 1972 dan harus dilestarikan keberadaannya.

2. Masjid Jami Annawier (1760)

Bangunan megah yang menjadi saksi kejayaan para saudagar Muslim Pekojan ini dibangun berkonsep Mediterania klasik. Dibangun oleh keturunan Nabi Muhammad dari sang putri, Fatimah.

3. Langgar Tinggi (1829)

Sepintas bangunannya mirip seperti masjid milik KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Bangunan ini berhias ornamen kayu yang unik dengan pengaruh gaya Tionghoa, Jawa dan Eropa. Masjid akan semakin ramah sepekan menjelang Idul Fitri dengan kehadiran para keturunan Arab yang membagi – bagikan makanan ke warga sekitar.

4. Mushola Ar Raudhah (1887)

Keunikan masjid Ar Raudhah Shahabuddin terletak pada arsitektur khas Betawi dan Yogyakarta. Didirikan oleh keturunan Arab yang menjadi cikal bakal tempat dibentuknya organisasi Islam tertua, Jamiatul Khair (1901). Anggota organisasi merupakan tokoh cendekiawan Islam nasional seperti HOS Tjokroaminoto, H Agus Salim, H Samanhudi dan KH Dahlan.

Last modified on Jumat, 21 Desember 2018 10:46

Leave a Comment