Menelusuri Sejarah Universitas Islam Tertua Setelah Al-Azhar

Universitas Sankore Universitas Sankore (foto:islami.co)

Muslimahdaily - Berbicara mengenai warisan ilmu pendidikan di dunia Islam dan bukti kejayaan Islam, maka kita akan ingat pada beberapa peninggalan berharga. Seperti Universitas Qawariyyin di Maroko dan Al-Azhar Mesir yang dianggap sebagai universitas tertua di dunia.

Namun ternyata sejarah juga mencatat bahwa terdapat universitas lain yang didirikan oleh umat Islam yang juga bersejarah namun jarang orang mengetahuinya. Ia adalah Universitas Sankore, Timbuktu, Afrika Barat.

Pusat pendidikan ini pertama kali memulai kegiatannya di dalam masjid yang dibangun oleh Mansa Musa pada tahun 1327 M. Berawal dari sekolah Islam atau madrasah kecil di dalam masjid, kemudian Sankore berkembang menjadi salah satu universitas terbesar di dunia pada saat itu, seperti dilansir dari ilmfeed.

Universitas Sankore mampu menampung 25.000 siswa dan 7000 manuskrip di perpustakaannya. Hal ini yang menjadikannya sebagai salah satu universitas yang memiliki perpustakaan terbesar di Afrika setelah perpustakaan Alexandria.

Meskipun berada di gurun Sahara dan jauh dari keramaian kota, Universitas Sankore saat itu sudah mempu memberikan banyak pelajaran modern seperti sains, matematika, filsafat, astronomi bahkan kedokteran. Selain itu tentunya mereka juga memberikan pelajaran ilmu agama Islam yang utama.

Kecanggihan ilmuan di Universitas Sankore telah dibuktikan lewat studi terbaru pada dokumen-dokumen peninggalannya. Salah satu dari manuskrip tersebut menunjukkan materi matematika yang digunakan untuk mengajar siswa yang belajar di universitas ini pada 600 tahun yang lalu.

Ketika teks ini diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Prancis dan dikirimkan ke Universitas Sorbone di Paris, mereka mengkonfirmasi bahwa materi matematika yang diajarkan 600 tahun lalu di universitas itu setara dengan bahan ajar tahun kedua program sarjana matematika yang paling sulit untuk dipelajari dan bisa masuk ke Prancis serta dunia barat.

Selain itu, ditemukan juga tulisan mengenai kritik sastra terhadap filsafat Yunani kuno, buku teks medis terperinci yang menjelaskan bagaimana melakukan operasi katarak mata, serta ribuan ayat puisi yang diterjemahkan dan dikomentari bukan hanya dalam bahasa Arab, tetapi dalam bahasa lokal menggunakan tradisi naskah Ajami, bahasa Afrika barat yang ditulis dengan aksara Arab.

Karena banyaknya orang yang hendak mencari ilmu di universitas ini, maka untuk masuknya saja sangat sulit. Bahkan ada kisah tentang seorang sarjana dari Hijaz yang melakukan perjalanan ke Mali untuk dapat belajar disana. Kemudian ia diberitahu bahwa ia harus mengambil 10 tahun kursus pra-syarat di Universitas Qarawiyyin, Maroko terlebih dahulu jika ingin diterima sebagai salah satu siswa Universitas Sankore.

Mengutip laman Republika, kebebasan intelektual yang muncul di universitas-universitas di Barat terinspirasi daari kebebasan yang diberikan di universitas, seperti di Sankore ataupun Qurtuba, Spanyol.

Terlepas dari mata kuliah yang diambil para mahasiswa, setiap mahasiswa di universitas ini wajib menghafal Al-Qur’an dan menguasai bahasa Arab.

Gelar tertinggi adalah setingkat PhD yang ditempuh dalam kurun waktu 10 tahun. Saat kelulusan para mahasiswa harus mengenakan sorban yang merepresentasikan nama Allah dan melambangkan cahaya ilahi, kebijaksanaan, pengetahuan dan moral baik.

Para sarjana juga dituntut untuk berperilaku baik demi menjaga nilai-nilai dan pendidikan Islam

Last modified on Jumat, 06 Maret 2020 13:15

Leave a Comment