Jarang Diketahui, Alasan Kerajaan Utsmani Dekat dengan Kesultanan Aceh

Ilustrasi Sultan Suleiman I dan surat Sultan Selim II untuk Kesultanan Aceh Ilustrasi Sultan Suleiman I dan surat Sultan Selim II untuk Kesultanan Aceh (foto: pinterest.com,goodnewsfromindonesia.com)

Muslimahdaily - Sejarah pernah mengatakan bahwa kerajaan di Aceh memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan Utsmani pada dahulu kala. Namun, nyatanya sejarah ini belum banyak diketahui oleh orang Indonesia sendiri. Terutama tentang bagaimana hubungan tersebut bisa terjalin dan kesepakatan yang terjadi antara keduanya.

Hubungan ini ternyata ditulis langsung oleh Ismail Hakki Goskoy di dalam artikelnya berjudul “Ottoman-Aceh relations as documented in Turkish sources” yang menjelaskan tentang hubungan antara dua kesultanan tersebut berdasarkan arsip dokumen-dokumen resmi Kesultanan Utsmani.

Kesultanan Aceh Darussalam berdiri sejak abad ke-16 dan dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Pada saat itu, Aceh merupakan kerajaan yang sangat berpengaruh di kawasan Sumatera. Kesultanan mulai ekspansif pada era kepemimpinan Sultan Alauddin al-Kahhar. Pada saat itu, Aceh mulai berambisi untuk menguasai Selat Malaka demi memperluas kekuasaan dan meningkatkan perekonomian.

Untuk mewujudkan citanya, Aceh harus bersaing dengan Kesultanan Johor dan Portugis yang saat itu menguasai Malaka. Perselisihan pun terjadi antara Kesultanan Aceh dengan Portugis. Tak hanya politik, namun ekonomi dan agama pun menjadi faktor lainnya. Saat itu, kapal-kapal dagang dari Aceh yang berlayar menuju Timur Tengah menjadi sasaran serangan kapal perang Portugis.

Kesultanan Aceh saat itu merasa dirugikan dengan manuver Portugis. Pada akhirnya Aceh meminta bantuan militer pada Kesultanan Turki dan kemudian mengirimkan utusannya.

Momen tersebut terjadi pada tahun 1547 di era Sultan Suleiman I. Duta Aceh Besar mendatangi Istanbul untuk meminta bantuan militer berupa armada laut dan juga meriam untuk menghadapi serangan dari Portugis. Akhirnya permintaan tersebut diterima oleh sang Sultan. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi kapal sesama muslim.

Itulah awal mula kerjasama Aceh dengan Turki dimulai. Sejak saat itu, kerjasama mulai terjalin secara intensif sejak abad ke-16 yang kemudian berlanjut di era pemerintahan Sultan Selim II.

Bantuan yang sama juga diberikan oleh Sultan Selim II kepada Aceh. Ia mengirimkan bantuan berupa berupa kapal, pasukan artileri dan senjata lainnya yang dibutuhkan.

Berdasarkan catatan Portugis pada tahun 1582, Aceh mengirimkan utusan dan juga berbagai macam hadiah seperti emas, batu mulia, rempah-rempah dan parfum untuk sultan Utsmani. Aceh juga berdagang rempah-rempah ke daerah Timur Tengah. Turki akhirnya membalas kebaikan tersebut dengan memberikan persenjataan, ahli militer dan perlindungan untuk Aceh.

Hubungan itu pada akhirnya menjadikan Aceh sebagai wilayah protektorat Kesultanan Utsmani hingga abad ke-18.

Setelah menjadi wilayah protektorat Kesultanan Utsmani, kekuatan militer Kesultanan Aceh mulai diperhitungkan di kawasan Sumatera dan Malaka. Bahkan, Aceh beberapa kali mengalahkan Portugis dalam beberapa pertempuran.

Beberapa jejak peninggalan Kesultanan Utsmani di Aceh adalah bendera Kesultanan Aceh Darussalam yang berwarna merah dengan bulan sabit, bintang dan pedang berwanra putih menyerupai bendera Kesultanan Utsmani. Ada juga Meriam Lada Secupak pemberian dari Turki.

Sumber: GoodNews From Indonesia.

 

 

Last modified on Selasa, 21 April 2020 22:30

Leave a Comment