Sejarah di Balik Hagia Shopia yang Kini Telah Kembali Menjadi Masjid

hagia shopia, istanbul hagia shopia, istanbul (foto: planetware.com)

Muslimahdaily - Hagia Sophia atau Ayasofya merupakan salah satu bangunan tua bersejarah di Istanbul Turki. Bangunan ini awalnya dibangun sebagai pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya telah berubah beberapa kali sejak berabad-abad lamanya.

Kaisar Bizantium Constantius menugaskan pembangunan Hagia Sophia pertama kali pada tahun 360 M. Pada saat pembangunan gereja pertama, Istanbul dikenal dengan nama Konstantinopel, merupakan nama yang diambil dari nama ayah Konstantius, Constantine I, penguasa pertama Kekaisaran Bizantium.

Pada awalnya Hagia Sophia memiliki atap berbahan kayu, namun pada tahun 404 SM bangunan kayu itu terbakar habis oleh api. Hal itu disebabkan oleh kerusuhan di Konstatinopel yang merajalela.

Penerus Arkadios, Kaisar Theodosios II, kemudian membangun kembali Hagia Sophia dan selesai pada tahun 415 M. Hagia Sophia baru berisi lima nave atau mihrab dan pintu masuk yang monumental dan masih dinaungi oleh atap kayu.

Namun, lebih dari satu abad kemudian, bangunan ini kembali terbakar untuk kedua kalinya. Momen ini disebut sebagai "pemberontakan Nika" terhadap Kaisar Justinian yang memerintah dari 527 hingga 565 M.

Sejarah Hagia Sophia

Setelah terjadi pembakaran untuk kedua kalinya, Justinianus akhirnya memerintahkan pembongkaran Hagia Sophia pada tahun 532 M. Ia menugaskan arsitek terkenal Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles) untuk membangun basilika baru.

Pada akhirnya, Hagia Sophia ketiga selesai pada tahun 537 M, dan masih berdiri sampai hari ini.

Ibadah keagamaan pertama di Hagia Sophia baru diadakan pada tanggal 27 Desember 537 M. Pada saat itu, Kaisar Justinian mengatakan, "Ya Tuhan, terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk membuat tempat ibadah seperti ini."

Saat itu, agama resmi yang ada di kerajaan Bizantium adalah Ortodoks Yunani. Oleh karena itu, Hagia Sophia dianggap sebagai gereja utama dan menjadi tempat di mana kaisar baru dilantik dan diberi mahkota.

Hagia Sophia benar-benar berperan penting dalam budaya dan politik Bizantium selama 900 tahun pertama keberadaannya.

Namun, selama Perang Salib, kota Konstantinopel dan bangunan Hagia Sophia, berada di bawah kendali Romawi untuk periode singkat pada abad ke-13. Sayangnya pada periode tersebut, Hagia Sophia mengalami kerusakan yang sangat parah dan kemudian diperbaiki kembali saat Bizantium sekali lagi menguasai kota sekitarnya.

Periode perubahan yang sangat signifikan berikutnya bagi Hagia Sophia dimulai kurang dari 200 tahun kemudian, ketika kerjaan Ottoman yang dipimpin oleh Kaisar Fatih Sultan Mehmed merebut kekuasaan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Barulah saat itu, Kaisar Fatih mengganti nama kotanya menjadi Istanbul.

Renovasi Hagia Sophia menjadi Masjid

Saat kerajaan Ottoman berkuasa, Islam menjadi agama utama di Turki. Oleh karena itu, Hagia Sophia akhirnya direnovasi menjadi masjid. Sebagai bagian dari konversi, kerajaan Ottoman menutupi banyak mosaik bertema Ortodoks asli dengan kaligrafi Islam yang dirancang oleh Kazasker Mustafa İzzet.

Panel atau medali, yang digantung di kolom di bagian tengah, menampilkan nama-nama Allah, Nabi Muhammad, empat khalifah pertama, dan dua cucu lelaki Nabi.

Mosaik di kubah utama yang diyakini sebagai gambar Kristus pun juga ditutupi oleh kaligrafi emas.

Mihrab atau nave dipasang di dinding, seperti tradisi di masjid-masjid, untuk menunjukkan arah menuju Mekah, salah satu kota suci Islam. Kaisar Ottoman Kanuni Sultan Süleyman (1520-1566M) memasang dua lampu perunggu di setiap sisi mihrab, dan Sultan Murad III (1574-1595M) menambahkan dua kubus marmer dari kota Bergama di Turki, yang berasal dari tahun 4 SM.

Empat menara juga ditambahkan ke bangunan asli selama periode ini, sebagian untuk tujuan keagamaan yaitu tempat muadzin mengumandangkan adzan dan sebagian untuk membentengi struktur setelah gempa bumi yang melanda kota pada waktu ini.

Di bawah pemerintahan Sultan Abdülmecid, antara tahun 1847 dan 1849, Hagia Sophia menjalani renovasi besar-besaran yang dipimpin oleh arsitek Swiss the Fossati brothers. Pada saat ini, Hünkâr Mahfili (kompartemen terpisah untuk digunakan oleh para kaisar) dipindahkan dan diganti dengan yang lain di dekat mihrab.

Dari Museum hingga kembali lagi menjadi Masjid

Sejak 1935, sembilan tahun setelah Republik Turki didirikan oleh Ataturk, bangunan legendaris tersebut telah dioperasikan sebagai museum oleh pemerintah nasional, dan dilaporkan menarik lebih dari tiga juta pengunjung setiap tahunnya.

Namun, sejak 2013, beberapa pemimpin agama Islam di negara itu berusaha agar Hagia Sophia dibuka kembali sebagai masjid.

Perdebatan ini akhirnya berakhir pada Hari Jumat, 10 Juli 2020. Dimana Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menyatakan bahwa Hagia Sophia resmi beralih fungsi kembali menjadi masjid.

Sumber : History.com

 

Last modified on Minggu, 12 Juli 2020 12:01

Leave a Comment