Menelusuri Sejarah Masjid Agung Djenné, Masjid Unik yang Terbuat Dari Lumpur

masjid djenne masjid djenne (foto: wikipedia.com)

Muslimahdaily - Masjid merupakan salah satu bangunan penting bagi umat muslim. Tempat untuk beribadah dan melakukan berbagai kegiatan keagamaan. Namun, selain dikunjungi untuk beribadah, beberapa masjid di belahan dunia bahkan menjadi bangunan yang sering dikunjungi para wisatawan untuk menikmati keindahan ataupun keunikan desain arsitekturnya.

Salah satu masjid yang mempunyai keunikan tersendiri adalah Masjid Agung Djenné, Mali. Masjid ini terkenal unik karena terbuat dari lumpur.

Melansir dari laman Khan Academy, Masjid Agung Djenné didirikan antara 800 dan 1250 M. Masjid ini sudah berkembang menjadi pusat perdagangan, pembelajaran islam, budaya Mali serta komunitas Djenné sejak awal abad ke-13. Bahkan, salah satu festival tahunan juga digelar di masjid Djenne.

Menurut sumber, bangunan asli Masjid Agung Djenné didirikan pada abad ke-13 ketika Raja Kpi Konboro, penguasa dan raja Muslim pertama, memutuskan untuk menggunakan bahan-bahan lokal dan teknik desain tradisional untuk membangun tempat beribadah masyarakat muslim. Kompleks masjid ini terus berkembang, hingga di abad ke-16 banyak yang mengklaim bahwa setengah populasi Djenné dapat masuk ke dalam masjid ini.

Atap Masjid Agung Djenné memiliki beberapa lubang yang ditutupi oleh tutup terakota. Fungsinya adalah untuk memberikan udara segar pada ruang interior bahkan selama hari-hari terpanas di Mali.

Sedangkan di sisi luar bangunan terdapat tiga menara utama dan serangkaian kolom yang mengelilingi. Di bagian atas pilar terdapat ekstensi yang berbentuk kerucut dengan telur bunga unta yang merupakan simbol kesuburan dan kemurnian di Mali. Bukan hanya itu saja, terdapat beberapa inovasi lain seperti pengadilan khusus perempuan dan pintu masuk utama masjid yang terbuat dengan pilar tanah yang menandai kuburan dua pemimpin agama setempat.

Karena struktur utamanya terbuat dari lumpur, maka diperlukan pembaruan setiap tahunnya. Hal inilah yang menjadi asal mula adanya festival tahunan Crepissage de la Grand Mosquée. Saat festival ini berlangsung, seluruh kota berkontribusi untuk melakukan pelapisan ulang pada bagian luar masjid. Plesteran yang akan diaplikasikan terbuat dari campuran mentega dan tanah liat halus dari tanah aluvial di Niger dan sekitar Sungai Bani.

Sudah terdapat pembagian tugas yang jelas pada festival ini selama berabad-abad. Bagi para laki-laki akan mengemban tugas mencampur bahan bangunan. Terdapat musisi yang akan menghibur para pekerja, sementara perempuan menyediakan air untuk campuran bahan plester. Para tetua juga ikut berkontribusi dengan datang dan memberikan nasihat. Sedangkan anak-anak banyak yang ikut bernyanyi dan bermain bersama.

Selama bertahun-tahun banyak yang menawarkan upaya untuk mengubah karakter masjid dan budaya festival tahunan. Tapi komunitas Djenné tetap berusaha keras untuk mempertahankan warisan budaya mereka serta keunikan dari masjid ini sendiri. Hingga akhirnya di tahun 1988, UNESCO menetapkan Masjid Agung Djenné dan seluruh kota Djenné sebagai Situs Warisan Dunia.

Leave a Comment