Menengok Suasana Hari Raya Idul Fitri di Turki

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Negara Turki merupakan salah satu negara yang menjadi tujuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan study-nya. Negara Kebab ini juga dikenal dengan negara yang “mewah” dengan banyak bangunan bersejarah dan para tokoh yang tak kalah terkenalnya. Sebut saja Museum Hagia Shopia dan Presiden Erdogan yang semangat untuk membela hak-hak rakyat Palestina.

Menjalani bulan Ramadhan sekaligus Hari Raya Idul Fitri bagi warga Indonesia di Turki tentu akan berbeda. Lalu, bagaimana pengalaman pelajar Indonesia yang tinggal di Turki?

Waktu berpuasa di Turki lebih lama dibandingkan dengan berpuasa di Indonesia yang hanya sekitar 13 jam. “Waktunya sampai dengan 18 jam,” seperti yang dikatakan oleh Janitra, Mahasiswa asal Indonesia yang sedang berkuliah di Ankara, Turki. Saat di hubungi oleh Muslimahdaily.com melalui Facebook (07/07/2016).

“Pas puasa, kita dari buka sampe sahur ga pernah tidur karena cuma sedikit waktunya. Kita puasa dari jam 3 lebih, sampai jam setengah 9 malam. waktu Isya disana tuh jam 10 lebih jadi waktu kira-kira tarawih selesai antara jam 11.30-12.30 tergantung mesjid dan imamnya. Jadi biasanya tidur dari jam 4 sampe jam 8-9 an,” lanjutnya.

Karena berbeda mazhab, pelaksanaan shalat tarawih di Turki dilakukan oleh kaum laki-laki saja, sedangkan yang perempuan tidak melakukan shalat tarawih. Layaknya di Indonesia, jumlah rakaat shalat tarawih sebanyak 11 atau 23 rakaat tergantung dengan imam masjid di sana.

Jikalau di Indonesia saat malam takbiran ramai oleh suara-suara masjid yang berlomba-lomba untuk bertakbir mengagungkan asma Allah ditambah meriahnya anak-anak yang bermain petasan dan kembang api. Berbeda dengan di Turki, malam takbiran tak seramai di Indonesia. Namun, untuk orang-orang Indonesia yang sedang tinggal di Turki biasanya melakukan takbiran khusus di kantor KBRI.

Perayaan Idul Fitri di Turki tidak semeriah di Indonesia. Karena ada perbedaan mazhab, sama seperti pelaksanaan shalat tarawih, hanya kaum laki-laki saja yang melaksanakan shalat Id. Namun bagi para muslimah asal Indonesia biasa menggelar shalat Id di kantor KBRI, sehingga tak meninggalkan kesempatan untuk tetap melaksanakan ibadah ini.

Tak jauh beda, tradisi seperti sungkeman, pulang ke kampung halaman, kumpul bersama keluarga, dan berbagi sedikit rezeki bagi anak-anak kecil juga jadi rutinitas yang tak boleh terlewatkan jika Idul Fitri tiba. Namun sedikit berbeda, biasanya anak-anak dibagikan “hadiah” seperti permen, manisan, cokelat, dan yutkish delight.

Yang tidak ketinggalan dari khas lebaran di Indonesia adalah makanan opor ayam dan ketupat. Hampir di setiap daerah pasti menyediakan menu tersebut sebagai andalan dalam berlebaran. Berbeda kalau di Turki, “disini ga ada makanan khas lebaran kayak ketupat gitu. Di sini ya makanan khas mereka aja dari daerah masing-masing. Seperti Maklube, Kebab, Pide. Manisannya, Lokum dan Baklava,” ujar Janitra.

Leave a Comment