Menelusuri Jejak Kekhalifahan Islam di Inggris

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Pembukaan Islam di Barat memang tak pernah mencapai utara Eropa. Namun di negara Inggris, Islam pernah bersemai dan menarik perhatian masyarakat setempat.

Tak ada jejak peninggalan kecuali sebuah masjid tua di Inggris. Jangan pula bayangkan ada istana ataupun taman-taman kekhalifahan. Hanyalah ada seorang Inggris yang diangkat sebagai pemimpin ataupun Khalifah di kepulauan Britania Raya kala itu. Beliau adalah William Henry Quilliam.

Pada tahun 1894, Quilliam diangkat sebagai pemimpin muslim di Inggris oleh Khalifah Turki Utsmani, Sultan Abdul Hamid II. Ia pun mendapat gelar Syaikhul Islam. Kepemimpinannya pula diakui oleh Shah Persia dan Emir Afganistan kala itu.

Pengangkatan tersebut bukanlah tanpa sebab. Quilliam lah sosok dibalik penyebaran Islam kali pertama di Inggris. Sebuah institusi Muslim didirikannya di Kota Liverpool pada tahun 1889. Dari sana lah kemudian dakwah Islam tersebar dan secara perlahan dapat diterima warga sekitar. Sedikitnya 200 orang kemudian tertarik dan memeluk agama rahmatan lil alamin ini.

Tak cukup membuat institusi yang kemudian menjadi masjid tersebut, Quilliam membuat sebuah media agar dakwah Islam makin tersohor ke seluruh pelosok Inggris. Media tersebut menjadi pelopor jurnalisme berbasis Islam di Inggris. Berhasil, 600 orang dari beragam wilayah Inggris kemudian jatuh cinta pada ajaran Rasulullah.

Islam di daratan Inggris makin memiliki nama. Sebelum adanya institusi di Liverpool, agama Islam dikenal di Inggris sebagai agama Syaitan. Orang-orang membencinya bahkan sebelum mengenal lebih dekat ajaran agama ini. Mereka melempari masjid dan sang pemimpin, Quilliam, dengan batu karena kebencian terhadap Islam yang makin berkembang.

Quilliam pun kemudian berdakwah dengan menjelaskan agama Islam secara rasional. Dakwah tersebut diterima dengan baik karena masyarakat Inggris kala itu sangat mementingkan akal. Islam pun hadir yang dapat menjawab pikiran-pikiran mereka.

Namun tentu tak semua orang menyambut dakwah Islam dengan hati terbuka. Mereka yang berhati batu terus saja merongrong institusi, masjid, Quilliam dan seluruh muslimin Inggris. Kemarahan dan kebencian terus bergulir. Menjawab tantangan tersebut, muslimin kemudian mencurahkan isi hati melalui media Islam yang dibuat Quilliam.

Hingga ketika pertentangan dan permusuhan para pembenci syariat makin memuncak, muslimin Inggris pun berkumpul dan membuat sebuah petisi. Petisi tersebut ditujukan langsung kepada Ratu Victoria. Petisi itu pun kemudian mendapat perhatian besar pihak kerajaan Inggris.

Kondisi muslimin makin membaik. Pilihan mereka memilih jalan lurus mulai dihormati. Apalagi setelah sang pemimpin menerbitkan sebuah buku bertajuk Faith of Islam yang mampu memublikasikan agama akhir zaman ini menjadi familiar di telinga masyarakat Inggris.

Buku Faith of Islam kemudian diterbitkan dalam tiga edisi dan diterjemahkan ke dalam 13 bahasa. Buku Quilliam tersebut benar-benar sangat populer kala itu. Kepopulerannya makin menjadi ketika Ratu Victoria memesan buku dalam jumlah banyak. Bukan hanya sebagai bacaan pribadi, sang ratu membelinya dengan maksud agar anak cucunya juga menjadikan buku tersebut sebagai referensi.

Saksi sejarah awal komunitas muslim Inggris tersebut masih nampak pada masjid tertua di Inggris, Al Rahma Mosque. Masjid tersebut dahulu merupakan Institut Muslim yang didirikan Quilliam. 

Saat ini, Al Rahma Mosque masih berdiri anggun di Hatherley Street, Toxteth, Liverpool dan dapat menampung 2 ribu hingga 2.500 jamaah. Komunitas muslim di kota Liverpool pula terus berkembang. Jumlah muslimin di kota tersebut diperkirakan lebih dari 25 ribu orang. Angka yang cukup banyak bagi agama minoritas.

 

Last modified on Kamis, 01 Desember 2016 23:21

Leave a Comment