Memilih Pemimpin Jakarta Sesuai Tuntunan Rasulullah

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Pada rabu(19/4) warga ibu kota akan turut serta dalam pesta demokrasi akbar. Ada dua pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang maju ke putaran dua kali ini, yakni pasangan Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan - Sandiaga Uno.

Kedua calon merasa mampu mengurus lebih dari 10 juta penduduk Jakarta. Di antara mereka, adakah yang sesuai atau setidaknya mendekati dengan kriteria pemimpin yang disampaikan Rasulullah? Berikut ini kriteria yang haru dimiliki pemimpin seperti yang disampaikan dalam Al-Qur’an dan Hadits.

1.Adil

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Ada tiga doa yang tak tertolak; yakni doa pemimpin yang adil, doa orang yang berpuasa hingga berbuka dan doa orang yang didzalimi," (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majjah).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan shahihain, beliau shallallahu 'alaihi wasallam menyebut tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari tak ada naungan selain dari-Nya. Salah satu golongan tersebut yakni seorang imam atau pemimpin yang adil. Dari dua hadits tersebut, nampak jelas bagaimana keutamaan sifat adil bagi pemimpin.

2.Baik budi pekertinya

Pemimpin yang baik akan membawa keberkahan bagi warganya. Begitu pula sebaliknya, apabila pemimpin berkelakuan buruk, maka warganya pula yang akan tertimpa musibah. Meski pemimpin yang melakukan kedzaliman, namun warga akan turut terkena dampaknya.

Hal ini disebut dalam firman Allah, "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu," (QS. Al Anfal ayat 25). 

Al Walid bin Hisyam menuturkan bahwa rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, rakyat pula akan menjadi baik karena baiknya pemimpin. Penjelasan tersebut menjadi alasan mengapa sangat penting memiliki pemimpin yang baik.

3.Amanah

Dalam kitabullah disebutkan, “Sesungguhnya manusia terbaik yang kamu tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat lagi amanah," (QS. Al Qashas ayat 26). 

Ayat tersebut sangat terang menjelaskan bahwa seorang kuat dan amanah lah kriteria untuk menjadi pemimpin yang akan bekerja sepenuh hati untuk warganya.

4.Kuat dan Profesional

Dalam surah Al-Qashshash ayat 26 di atas disebut pula kriteria kuat. Dalam Siyasah Asy Syar'iyah dijelaskan bahwa kuat dalam ayat tersebut yakni ada dua jenis, yakni kuat secara fisik dan kuat dalam menegakkan hukum. Kuat di sini pula dalam arti profesional.

"Sifat kuat untuk setiap pemimpin, tergantung dari medannya. Kuat dalam memimpin perang kembali kepada keberanian jiwa dan kelihaian dalam berperang dan mengatur strategi. Karena inti perang adalah strategi. Sementara kuat dalam menetapkan hukum di tengah masyarakat kembali kepada tingkat keilmuannya memahami keadaan yang diajarkan Al Quran dan sunah, sekaligus kemampuan untuk menerapkan hukum itu," Syaikhul Islam dalam Siyasah AsySyar’iyyah, dikutip dari konsultasisyariah.

5.Mampu menjadi Qadhi

Seorang pemimpin haruslah mampu menjadi qadhi atau hakim bagi warganya. Jika ada suatu kasus atau permasalahan, maka pemimpin mampu terjun langsung menanganinya. Hal ini sebagaimana penjelasan Muhammad Asy Syinqithi dalam Adhwaul Bayan,

"Pemimpin haruslah seorang yang mampu menjadi Qadhi bagi rakyatnya. Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu meminta fatwa kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya dikutip dari buletin assunnah.

6.Membela yang didzalimi

“Seandainya Allah tidak menolak (kejahatan) sebagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini," (Al Baqarah ayat 251).

Ayat ini ditafsirkan oleh Ath Thurthusyi bahwa para pemimpin lah yang dimaksud 'sebagian manusia penolak kejahatan manusia lain'. Karena mereka lah yang berkuasa membela orang yang lemah dan orang yang didzalimi. Jika pemimpin tidak mengambil peran ini, maka rusaklah muka bumi dengan kejahatan yang merajalela.

7.Pemaaf dan memiliki sifat kasih dan sayang

Allah Ta’ala berfirman melalui Rasul-Nya, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh,” (QS. Al A’raf ayat 199). 

Disebutkan pula dalam hadits. Aisyah pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah membalas dendam terhadap kedzaliman yang dilakukan terhadap beliau. Hanya saja, bila sesuatu dari hukum Allah dilanggar, maka tidak ada satu pun yang dapat menghadang kemarahan beliau.”

Selain pemaaf, sifat kasih sayang sebagaimana yang disampaikan beliau dalam sabdanya, “Sayangilah orang-orang di muka bumi, niscaya Allah yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. At Tirmidzi).

8.Muslim yang baik dan memahami agama

Terakhir namun juga sangat penting yakni pemimpin semestinya memahami ilmu agama dengan baik dan menjalankan syariat Allah dengan baik pula. Pasalnya, pemimpin yang saleh akan membawa masyarakat yang saleh pula. Dalam banyak hadits, Rasulullah sangat mengkhawatirkan umatnya dipimpin oleh seorang yang bodoh dalam agama.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Tsauban, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas diri kalian adalah para pemimpin yang menyesatkan,” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Hadits lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, Allah tidak mengangkat ilmu sekaligus dari umat manusia, namun Allah mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak lagi tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Mereka mengeluarkan fatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat lagi menyesatkan,” (HR. Al Bukhari).

Lalu siapa yang dipilih di antara dua calon gubenur DKI Jakarta, adakah yang sesuai dengan kriteria diatas? Maka perlu dicari informasi lebih lanjut bagaimana ketiganya memahami dan menjalankan agama, sifat kasih dan sayang, kemampuan berbuat adil dan poin selainnya seperti disebut sebelumnya.

Last modified on Selasa, 18 April 2017 08:16

Leave a Comment