Sebagaimana Menghafal Al Qur’an, Apa Menghafal Hadits Juga Berpahala?

Muslimahdaily - Keutamaan membaca, mempelajari dan menghafal Al Qur’an banyak disebutkan Rasulullah dalam hadits beliau. Sebut saja pahala per huruf yang dibaca, mendapat balasan lebih baik dari unta besar, hingga mahkota untuk orang tua. Lalu bagaimana dengan Al Hadits, apakah membaca, mempelajari dan menghafal hadits juga memiliki keutamaan sebagaimana Al Qur’an?
Dalam hadits banyak disebutkan mengenai keutamaan membaca Al Qur’an. Di antaranya hadits dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali.” (HR. At Tirmidzi).

Rasulullah juga bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al Bukhari). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga berkata, “Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim).

Sebagaimana Al Qur’an, hadits pun memiliki keutamaan tersendiri bagi pembaca dan penghafalnya. Mengingat hadits merupakan kunci memahami Al Qur’an, jalan untuk mengetahui petunjuk Rasulullah, dan sumber dalil syar’i setelah Al Qur’an. Berikut ini beberapa balasan pahala yang ditujukan pada mereka yang membaca ataupun menghafal hadits.

1. Dibaguskan Wajahnya

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan lebih dari 20 orang shahabat, Rasulullah menyebut sebuah keutamaan agung bagi seorang yang membaca, memahami dan menghafal hadits. Keutamaan tersebut bukan main-main, yakni sebuah doa yang dipanjatkan langsung oleh beliau, sebuah do’a yang pastilah diijabah oleh Allah Ta’ala.

Do’a yang Rasulullah panjatkan tercantum dalam sabda beliau, “Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia memahami dan menghafalnya, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain).” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan ath-Thabrani).

Menjelaskan hadits tersebut, Ibnul Qayyim menuturkan bahwa andaikan tak ada lagi keutamaan mempelajari hadits selain keutamaan tersebut, maka sangat cukup sebagai sebuah keutamaan tersebut. “Seandainya tidak ada keutamaan mempelajari ilmu (hadits) kecuali (dalam hadits) ini, maka cukuplah itu sebagai kemuliaan (yang agung).”

Dalam hadits tersebut pula menunjukkan bagaimana Rasulullah memuliakan dan mengkhususkan orang-orang yang mempelajari hadits dengan mendoakan mereka. Doa tersebut pun tak diberikan pada selainnya di kalangan umat Islam.

Adapun makna mencerahkan atau mengelokkan rupa yang dimaksud Rasulullah dalam hadits di atas berkaitan dengan kehidupan di akhirat kelak. Sebagaimana dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman, “Pada hari itu, ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman, karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.’ Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga). Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali ‘Imran: 106-107).

2. Dimudahkan Jalannya Menuju Surga

Menurut para ulama, membaca dan menghafal hadits merupakan bagian dari menuntut ilmu. Al hadits merupakan ilmu yang paling agung untuk dipelajari setelah Al Qur’an. Seseorang mustahil memahami ilmu agama tanpa mempelajari hadits. Karena itulah pahala mempelajari hadits tercakup dalam keutamaan mempelajari ilmu.

Sementara pahala menuntut ilmu sangatlah banyak. Salah satunya yakni kemudahan jalan menuju surga. Sebagaimana sabda Rasulullah dari Abu Hurairah. Beliau berkata, “Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Rasulullah juga pernah bersabda, “Barang siapa yang diinginkan kebaikan oleh Allah, maka Allah akan pahamkan ia dalam masalah agama.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Syekh Bin Baz dalam fatwanya menuturkan, bahwa mempelajari ilmu agama merupakan bentuk mengikuti tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah (Hadits). “Dan mempelajari As Sunnah merupakan tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba. Sebagaimana mempelajari Al Qur’an juga demikian.” (Fatawa Nurun ‘alad Darb).

Pahamlah kini bahwasanya membaca, menghafal, ataupun mempelajari hadits juga memiliki keutamaan dan dijanjikan pahala yang bernilai tinggi. Tak hanya hafidz Qur’an, dahulu para shahabat juga menghafal hadits-hadits Rasulullah, lalu mengamalkannya dan atau mengajarkannya. Tak heran jika kemudian kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga menjadi kitab utama nomor dua setelah Al Qur’an. Allahu Ta’ala A’lam.

Last modified on Kamis, 28 Desember 2017 02:49

Leave a Comment