Bagaimana Islam Memandang Mimpi?

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Siapa yang tidak pernah bermimpi saat terlelap? Pasti semua orang pernah mengalaminya. Mimpi atau yang disebut juga bunga tidur memang kerap membingungkan. Banyak fakta yang diragukan kebenarannya tentang mimpi itu sendiri. Tidak luput dari teori konspirasi tentang makna di balik mimpi yang seringnya terasa tidak masuk akal. Yang kita tahu, ada mimpi indah dan mimpi buruk.

Islam sebagai agam menyempurna pun ternyata membahas yang disebut sebagai bunga tidur ini. Seperti yang disebutkan pada hadits dari Abu Hurairah Radiallahu'anhu yang menyebutkan, "Mimpi itu ada tiga macam; bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah." (HR Bukhari).

Sementara dalam riwayat Auf bin Malik, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam membagi mimpi menjadi 3 jenis mimpi yaitu:

1. Al-ru’ya, mimpi baik dan bahagia yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

2. Mimpi buruk, menimbulkan kesedihan dan kebencian yang berasal dari syaitan.

3. Mimpi sehari-hari, yang berasal dari kondisi psikologis atau pikiran manusia pada saat itu yang disebabkan oleh ego, nafsu, atau rasa tidak percaya diri.

Dalam Islam, mimpi dilihat seperti portal yang ditawarkan pada kehendak Illahi sebagai satu-satunya bentuk dari ramalan atas masa depan. Mimpi memiliki wewenang spesial karena dipercaya mengkomunikasikan kebenaran dari dunia supernatural (Dar Al-haq).

Kembali mengingat kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya lewat mimpi, terdapat pada QS. Ash-Shaaffaat ayat 99-111 dimana Allah memberikan wahyu kepada Nabi-Nya lewat mimpi. Sesungguhnya hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah, termasuk mimpi.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap terhadap mimpi-mimpi yang kita alami?

Riwayat Bukhari Radiallahu'annhu yang berkata, "Dari Abu Sa`id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi Muhammad bersabda, 'Apabila seorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah (bertahmid) atas mimpinya itu dan hendaklah ia memberitakannya. Dan apabila ia melihat (bermimpi) tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari syaitan, maka hendaklah ia memmohon perlindungan (ta`wwudz kepada Allah) dari keburukaannya dan janganlah menuturkannya kepada seseorang, maka mimpi itu tidak membahayakannya (madharat)'.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tetap bersyukur atas mimpi baik yang terjadi, dan jika kamu mengalami mimpi buruk, akan lebih baik untuk tidak diceritakan. Karena Rasulullah bersabda, “Mimpi itu datangnya dari Allah, sedangkan mimpi lamunan itu datang dari setan.” (HR Bukhari).

Percayalah hanya kepada Allah dengan tidak sembarang menafsirkan mimpi. Senantiasa meminta petunjukNya dengan berdo’a atas apapun mimpi yang terjadi.

Leave a Comment