5 Perilaku yang Sering Dianggap Sepele, Nyatanya Membuat Puasa Sia-Sia

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Di bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini, umat Islam diwajibkan untuk berpuasa. Menahan lapar dan haus mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Dianjurkan juga untuk memperbanyak ibadah kepada Allah, karena pada bulan ini Allah akan melimpahkan ampunan dan pahala pada hamba-Nya.

Namun, di tengah bulan yang sangat Mulia dan spesial ini, masih banyak orang yang pada akhirnya hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja. Seluruh pahala puasanya luntur hanya karena hal-hal yang mungkin menurut mereka adalah sederhana.

Sebagaimana Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy).

Lalu, apa saja perilaku tersebut? Berikut 5 hal yang sering dianggap sepele namun nyatanya dapat membuat puasa kita menjadi sia-sia:

1. Berkata Dusta (az zuur)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari).

Berkata dusta di kala puasa sungguh akan membuat puasa kita menjadi sia-sia. Hal seperti ini kadang dilakukan oleh seseorang tanpa sadar. Seperti misalnya bercanda dengan suatu kebohongan saat sedang berpuasa, menyebarkan berita hoax di sosial media dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, ada baiknya kita menjaga lisan kapanpun dan dimanapun, terutama saat sedang berpuasa agar pahal kita tak menjadi sia-sia.

2. Berkata lagwu dan rofats

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Dalam kitab Fathul Bari, Al-Akhfasy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah. Lalu yang dimaksud dengan rofats, Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan bahwa istilah rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.

Menurut Al-Azhari, istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yan diinginkan laki-laki pada wanita. Dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.

Lagi dan lagi, semua berasal dari lisan. Maka ada baiknya, kita benar-benar menjaga lisan kita untuk tidak mengeluarkan perkataan yang sia-sia.

3. Ghibah

Kata seorang ulama tafsir, Masruq, “Ghibah adalah jika engkau membicarakan sesuatu yang jelek pada seseorang. Itu disebut mengghibah atau menggunjingnya. Jika yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak benar ada padanya, maka itu berarti menfitnah (menuduh tanpa bukti).”

Tak hanya di bulan puasa, ghibah atau membicarakan orang lain sudah seharusnya tak dilakukan oleh seorang muslim di setiap harinya. Jika hal ini dilakukan di bulan puasa, maka akan memungkinkan pahala puasamu akan menjadi sia-sia.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

4. Melakukan berbagai macam maksiat

Perlu diingat, bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjauhi perbuatan-perbuatan yang haram. Terdapat nasihat yang bagus dari Ibnu Rojab Al Hambali,

“Ketahuilah, amalan taqorub (mendekatkan diri) pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri,) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.”

Jadi ada baiknya saat puasa ini kita benar-benar berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauh dari hal-hal yang Allah larang. Hindarilah berkata dusta, berbuat dzholim dan permusuhan antar sesama. Sudah seharusnya saat Ramadhan ini kita menenangkan diri dengan beribadah.

Jabir bin ‘Abdillah juga menyampaikan nasihat yang bagus,

“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

5. Pelit dengan harta

Di bulan Ramadhan adalah waktu yang paling baik untuk bersedekah. Karena Allah berjanji akan menggantinya dengan yang lebih baik. Seperti kita ketahui juga saat kita bersedekah, maka sesungguhnya harta kita akan bertambah sebagai timbangan kebaikan di akhirat kelak.

Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi).

Hendaknya di bulan Ramadhan ini kita menghindari hal-hal yang akan membuat puasa kita sia-sia agar Allah memberikan ganjaran yang sempurna bagi kita. Jika kita terpikir hendak melakukan maksiat, maka ingatlah hal yang lebih baik yang akan kamu dapatkan apabila menghindarinya.

dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim).

Wallahu a’lam.

Sumber: Rumaysho