Bukan Harta dan Emas, Ini Perhiasan Muslim yang Lebih Utama

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Bagi sebagian besar kita, perhiasan merupakan pelengkap penampilan yang terbuat dari emas atau sesuatu yang bernilai mahal. Semua itu cenderung merupakan benda yang sulit didapatkan dan mahal harganya.

Namun, tahukah Sahabat Muslimah bahwa apa perhiasan lain yang lebih utama baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia dan makhuk lain? Ya perhiasan-perhiasan itulah yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan emas atau intan di dunia. Saking mahalnya, perhiasan tersebut sering jadi cobaan bagi beberapa orang.

Apa saja perhiasan tersebut? Yuk simak ulasan berikut.

Di dalam Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al Jawi, dituliskan menurut Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, ada delapan perhiasan bagi delapan perkara.

Pertama, tidak meminta-minta adalah perhiasan kefakiran. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Bingkisan orang mukmin di dunia adalah kefakiran.” (HR. ad-Dailami).

Kedua, syukur adalah perhiasan nikmat. Bersyukur menjadi penyebab kekalnya berbagai nikmat yang telah ada dan perantara untuk mendapatkan nikmat yang belum ada.

Ketiga, sabar adalah perhiasan bencana. Rasulullah bersabda:

“Sabar itu menjadi penutup berbagai kebingungan dan menolong berbagai urusan.”

Selain itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Kesabaran adalah kendaraan yang tidak pernah terjerembab. Dan qanaah adalah pedang yang tidak pernah tumpul.”

Keempat, sopan santun adalah hiasan leluhur. Maksudnya adalah sesuatu menjadi kebanggaan manusia, baik berupa nasab, agama, harta benda, kemurahan hati, maupun keberaniannya. Di antara tanda-tanda tawaduk (sopan santun) adalah suka merendahkan diri dan menerima kebenaran dari mana pun datangnya, baik dari atasan maupun bawahan.

Kelima, sikap penyantun. Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut:

“Bahwa seorang perempuan dari tawanan berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Nabi menjawab, ‘Siapa kamu?’ Dia menjawab, ‘Anak seorang laki-laki yang pemurah, yaitu Hatim.’ Kemudian Nabi menjawab, ‘Kasihanilah kaum yang mulia, kemudian dia jatuh hina, kasihanilah orang yang kaya, kemudian ia fakir, kasihanilah orang alim yang terlantar di tengah-tengah orang bodoh.”

Keenam, rendah hati adalah perhiasan orang yang menuntut ilmu. Sebagaimana salah satu hadits, Nabi Muhammad bersabda:

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka Allah akan membukakan kepadanya pintu ke surga, dan malaikat merentangkan sayapnya, dan untuknya pula para malaikat penghuni langit serta ikan-ikan di laut memohon rahmat kepada Allah.” (HR. Abu Ya’la).

Ketujuh, tidak menerima pemberian adalah perhiasan kebaikan, yakni perbuatan baik.

Kedelapan, khusyuk adalah perhiasan shalat, yaitu rasa takut yang terus-menerus di dalam hati.

Wallahu ‘alam.

Leave a Comment