Hati-hati! Inilah 5 Taubat yang Salah dan Ditolak

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Sebagai hamba Allah, manusia pasti tak luput dari yang namanya dosa. Namun, dengan sifat Maha Pengampun, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat. Selain itu, Allah akan membuka pintu ampunannya dengan luas bagi siapa saja yang menyesal atas perbuatan dosanya di masa lalu.

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kembalilah kalian kepada Tuhan Kalian (Bertaubat)….”. (QS. az-Zumar: 53-54).

Walau demikian, taubat tidak bisa dilakukan secara sembarang dan main-main. Ada beberapa keadaan yang menyebabkan taubat kita salah hingga tidak akan diterima oleh Allah. Apa saja kesalahan tersebut? Berikut 5 di antaranya:

1. Tidak ikhlas

Taubat yang tidak dilandasi dari hati yang tulus maka bukanlah taubat yang baik. Pasalnya, salah satu syarat-syarat taubat adalah dilakukan dengan ikhlas. Taubat haruslah didasari oleh rasa penyesalan atau perilaku dan dosa-dosa yang telah diperbuat.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. at-Tahrim: 8).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyesali kesalahan adalah tobat.” (HR Ibnu Majah).

Mereka yang ikhlas dalam bertaubat maka akan lebih lembut hatinya. Mereka juga cenderung merubah gaya hidupnya karena tulus meninggalkan keburukan-keburukan di masa lalu. Selain itu mereka akan lebih senang bergaul bersama orang-orang shalih.

Rasulullah bersabda, “Berkumpullah bersama orang yang taubat karena hati mereka lembut.”

2. Mengulangi lagi perbuatan maksiatnya

Jika setelah bertaubat, tapi mengulangi lagi perbuatan dosanya itu, maka dapat dipastikan taubatnya sebelumnya belum benar-benar menyesal. Mereka yang ikhlas dalam taubatnya, maka akan senantisa tertanam dalam hatinya bahwa Allah Maha Melihat setiap perbuatannya. Sehingga pastilah ia meninggalkan dosa-dosa yang lalu.

3. Tidak menunaikan hak orang-orang

Taubat tidak hanya berkaitan dengan Allah saja, melainkan juga kepada manusia yang pernah didzaliminya. Apabila seseorang pernah berbuat dosa terhadap anak adam lain, maka wajib baginya meminta maaf kepada orang yang bersangkutan tersebut. Misalnya, minta diikhlaskan, mengembalikan atau mengganti barang yang telah dirusak atau dicuri olehnya.

Bila dosa tersebut berupa ghibah (menggunjing), qodzaf (menuduh berzina), atau semacamnya, dan orang yang dituduh belum mengetahuinya, maka cukup bagi yang menuduh untuk bertaubat kepada Allah, mengungkapkan kebaikan-kebaikan orang yang dituduh dan mendoakannya.

4. Dilakukan menjelang ajal

Taubat yang baik adalah ketika seseorang sadar bahwa dirinya melakukan sebuah dosa lantas segera melakukan taubat. Sementara taubat yang dilakukan menjelang ajal tidak akan diterima. Menurut para ulama, tidak diterimanya taubat tersebut lantaran dilakukan dalam kondisi darurat, bukan dalam kondisi normal dan banyak pilihan.

Allah berfirman, “Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan, kemudian segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

“Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, "Saya benar-benar bertaubat sekarang." Dan tidak (pula diterima taubat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih." (QS. an-Nisa': 18-19).

5. Taubatnya orang mati yang keadaan kafir

Masih mengutip dari ayat 19 Surat an-Nisa di atas, taubat yang salah dan tidak diterima adalah taubatnya orang-orang yang telah mati dalam kekafiran. Pasalnya, salah satu syarat diterimanya taubat adalah dilakukan sebelum ajal menjemput, sehingga bila telah meninggal, taubat dan penyesalannya itu tidak diterima. Di samping itu pula, dosa syirik tidak diampuni oleh Allah.

Allah berfirman, "Sungguh, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki... " (QS. an-Nisa': 116).

Namun perlu diperhatikan bahwa tanda-tanda taubat yang salah di atas bukanlah sebagai pemutus semangat kita dalam mencari ampunan-Nya. Ingatlah bahwa sesungguhnya ampunan Allah sangat luas sehingga tak ada alasan kita untuk tetap berusaha. Justru kesalahan-kesalahan di ataslah yang jadi pengingat kita untuk segera bertaubat.

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133).

Semoga kita termasuk golongan yang diampuni oleh-Nya. 

Wallahu ‘alam.