Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menyikapi Takdir Buruk?

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Dalam hidup, ada dua takdir yang senantiasa ditetapkan pada tiap makhluk Allah, yakni takdi baik dan takdir buruk. Ada kalanya kita diberi kenikmatan hingga bersuka cita, namun sering juga ditimpa takdir buruk, misalnya musibah, didzalimi, hingga ditinggalkan orang tersayang.

Seorang mukmin hendaknya senantisa percaya bahwa segala takdir, baik maupun buruk datang dari Allah semata. Walau demikian, janganlah kita beranggapan bahwa keburukan itu bagian dari Allah, karena tidak ada satupun keburukan yang terdapat pada diri Allah. Tidak boleh satupun keburukan disandarkan pada dzat, nama, sifat, dan perbuatan-Nya.

Lantas, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim saat mengalami takdir buruk?

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya Al Fawaid bertutur, “Jika sebuah takdir yang buruk meninpa seorang hamba, maka ia memiliki enam sikap dan sisi pandang:

Pertama, kacamata tauhid. Bahwa Allahlah yang menakdirkan, menghendaki, dan menciptakan kejadian tersebut. Segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan segala sesuatu yang tidak Allah kehendaki tidak pasti terjadi.

Seorang mukmin hendaknya meyakni bahwa segala yang terjadi dalam hidupnya telah Allah tetapkan padanya, baik atau buruk. Yakinlah bahwa setiap yang Allah tetapkan punya hikmah di baliknya, yang mungkin nanti akan kita ketahui atau tidak.

Ketika menghadapi sebuah musibah, misalnya bencana, didzalimi, atau difitnah orang lain, maka pandanglah dalam kacamata tauhid tadi. “Bahwasanya Allah telah memilih saya untuk jadi korban musibah ini. Saya tidak akan memprotes takdir.”

Dengan begitu, saat tertimpa musibah, hamba tersebut akan menerimanya dengan lapang dada dan menggantungkan harapannya semata hanya kepada Allah. Selain itu, cara pandang seperti ini akan meningkatkan ketaqwaan kita sebagai hamba kepada Allah.

Kedua, kacamata tauhid. Bahwa dalam kejadian tersebut berlaku hukum-Nya dan adil ketentuan takdir-Nya.

Sebaik-baiknya keadilan adalah keadilan dari Allah Subahanahu wa ta’ala. Bahwasanya setiap kejadian yang telah ditakdirkan pada seorang hamba, pastilah yang paling adil dari sisi Allah. Perlu diingatkan pula bahwa Allah tidak pernah berbuat dzalim kepada hamba-Nya.

Allah berfirman,

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Fushshilat: 46).

Kemudian Allah juga berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)” (Asy-Syuuraa: 30).

Ketiga, kacamata kasih sayang. Bahwa rahmat-nya dalam peristiwa pahit tersebut mengalahkan kemurkaan dan siksaan-Nya yang keras, serta rahmat-Nya memenuhinya.

Jikalau memang takdir buruk tersebut merupakan tanda murkanya Allah kepada hamba-Nya, maka yakinlah bahwa ada rahmat dan kasih sayang Allah yang lebih besar daripada kemuraan-Nya. Bahwa kasih sayangnya tersebut mampu mengalahkan murka-Nya.

Allah berfirman,

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al Araf: 156).

Dalam salah satu hadits disebutkan,

“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, kacamata hikmah. Hikmah-Nya menuntut menakdirkan kejadian itu, tidaklah Dia menakdirkan begitu saja tanpa tujuan dan tidaklah pula Dia memutuskan suatu ketentuan takdir dengan tanpa hikmah.

Ada alasan di balik tiap peristiwa. Di situlah hikmah Allah berada. Sayangnya, hikmah dan alasan tersebut tidak selalu diketahui oleh seorang hamba. Walau demikian, ketidaktahuan ini janganlah jadi penghalangan bagi kita agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Sebagaimana kita tahu, Allah Maha Bijaksana dalam menetapkan takdir bagi tiap makhluknya.

Allah berfirman,

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminuun: 115).

Allah juga befirman,

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Al-Qiyaamah: 36).

Kelima, kacamata pujian. Bahwa Dia Subhanahu terpuji dengan pujian sempurna atas penakdiran kejadian tersebut, dari segala sisi.

Maksudnya, Allah terpuji dari segala sisi, terpuji dzat, nama, sifat, maupun perbuatan-Nya. Termasuk juga terpuji dalam menakdirkan suatu takdir yang pahit, karena takdir tersebut berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya.

Allah berfirman,

“Do’a mereka di dalamnya ialah subhanakallahumma dan salam penghormatan mereka ialah salam. Dan penutup doa mereka ialah segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.” (Yuunus: 10).

Keenam, kacamata peribadatan. Bahwa orang yang menjalani takdir yang buruk itu adalah sekedar hamba semata dari segala sisi, maka berlaku atasnya hukum-hukum Sang Pemiliknya, dan berlaku pula takdir-Nya atasnya sebagai milik dan hamba-Nya, maka Dia mengaturnya di bawah hukum takdir-Nya sebagaimana mengaturnya pula di bawah hukum Syar’i-Nya. Jadi, orang tersebut merupakan hamba yang berlaku atasnya hukum-hukum ini semuanya.

Seorang mukmin hendaknya meyakini bahwa ia hanyalah milik Allah sehingga ia percaya bahwa Allah berhak mengaturnya dengan bentuk pengaturan bagaimanapun. Ia ridha dengan segala pengaturan dan takdir yang diputukan atasnya. Sikap seperti inilah yang dimaksud benar-benar menghamba kepada Allah semata.

Dalam keadaan bagaimanapun, seorang mukmin sadar bahwa dirinya seorang hamba yang dituntut untuk mempersembahkan ibadahnya dan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana dalam keadaan senang dan lapang, seorang hamba tetap dituntut untuk peribadah dan menyembah kepada-Nya.

Allah berfirman,

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (Maryam: 93).

Wallahu ‘alam.

Sumber: Muslim.or.id.