Apa yang Terjadi pada Psikologis Kita saat Self-Quarantine?

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah tertularnya virus corona dari orang lain. Mulai dari rutin mencuci tangan dengan air dan sabun, physical distancing hingga self-quarantine.

Jika memang tidak ada keperluan mendesak, maka pilihan self-quarantine lah yang paling bijak untuk dilakukan. Langkah pencegahan ini akan meminimalisir bertemunya antar individu, yang mana virus corona memang menyabar melalui perantara manusia.

Kini, sudah hampir lebih dari tiga minggu sebagian orang melakuka kegiatannya belajar, bekerja, dan ibadahnya di rumah. Hal yang jarang terjadi ini pasti punya efek samping pada psikologis individu, bukan?

Untuk menjawab hal tersebut, berikut Muslimahdaily paparkan apa yang terjadi pada seseorang secara psikologis pada masa karantina. Paparan ini berdasarkan review cepat oleh Psikolog Samantha Brooks dan kawan-kawan yang didapat dari 3166 paper mengenai karantina.

Stresor (penyebab stres) saat masa karantina:

- Durasi karantina

Semakin lama masa karantina berlaku, semakin tinggi resiko mengalami gangguan psikolig seperti gejala stres pasca-trauma atau post-traumatic syndrome, perilaku menghindar, dan marah.

- Takut terpapar

Individu yang melakukan karantina merasa khawatir akan kesehatan dirinya sendiri, bahkan berpikir apakah mereka yang justru menularkan virus tersebut (carrier) kepada orang terdekat. Rasa khawatir ini cenderung dirasakan oleh mereka yang melakukan karantina dibanding yang tidak melakukan.

- Bosan dan frustasi

Individu merasa bosan dan frustasi selama masa karantina karena tidak dapat melakukan rutinitas sehari-hari serta kontak sosial atau fisik dengan orang lain.

- Persediaan bahan makanan yang tidak memadai merupakan sumber frustasi dan kecemasan seseorang.

- Kurangnya informasi

Informasi yang tidak memadai atau tidak jelas tentang virus tersebut, tindakan yang harus dilakukan, tujuan karantina, hingga resiko terpapar virus.

Stresor tak sampai pada masa karantian saja. Setelah masa ini berakhir, stresor dapat berupa:

- Kerugian finansial

Tak bisa dipungkiri bahwa masa karantina akan mengakibatkan kerugian finansial di berbagai sektor. Kerugian tersebut dapat berupa pemotongan gaji, omset menurun, hingga diberhentikan kerja. Hal tersebut dapat menyebabkan stres pada individu.

- Berkembangnya stigma buruk

Virus yang menyebar melalui perantara manusia akan membuat individu berprasangka buruk terhadap individu lain. Hal ini akan berlanjut bahkan pada masa karatina sudah selesai.

Stigma buruk ini cenderung akan menyerang para tenaga kesehatan. Orang-orang akan mencurigai dan menolak kehadiran mereka di lingkungan sekitar karena takur terpapar virus. Bahkan hal ini dapat dilakukan oleh keluarga tenaga kesehatan itu sendiri.

Walau terdapat efek samping dari karantina ini, namun bukan berarti kita harus menghilangkan efek tersebut. Nyatanya, stres dibutuhkan sebagai dorongan agar individu melakukan tindakan pencegahan. Yang dapat dilakukan adalah mengimbangi konsekuensi efek buruk karantina dengan melakukan berbagai usaha.

Leave a Comment