Gaslighting, Trik Manipulasi yang Abusive

By February 10, 2020 0
Ilustrasi Ilustrasi ( Foto: Today )

Muslimahdaily - Netflix baru-baru ini menayangkan film terbarunya yang ramai menjadi perhatian netizen, berjudul Marriage Story yang menceritakan tentang dinamika kehidupan pernikahan. Ada salah satu scene saat pasangan ini bertengkar hebat selama 2 menit lamanya tanpa henti. Mereka saling adu argumen dan istrinya mengatakan bahwa suaminya melakukan gaslighting padanya setelah sang istri mengungkapkan perasaannya. Mungkin kita jarang atau bahkan baru pertama kali mendengar istilah gaslighting, sebenarnya apa itu?

Ternyata gaslighting adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan kekerasan psikologis dimana korban dimanipulasi sehingga meragukan realita atau kewarasannya. Istilah ini berasal dari drama Gas Light tahun 1983 atau dikenal sebagai Angel Street di United States oleh Patrick Hamilton seorang penulis drama dan adaptasi film berjudul Gaslight (1944) tentang seorang perempuan yang dimanipulasi suaminya. Si suami meyakinkan bahwa istrinya gila sehingga mengakibatkan istrinya meragukan dirinya dan realitanya. Mengerikan, bukan?

Dilansir dari Psychology Today, gaslighting membuat kekuatan dinamis yang tidak adil dalam suatu hubungan. Dengan korban yang menjadi sasaran pengawasan gaslighter (pelaku gaslighting) yang tidak masuk akal, bukan berdasarkan fakta, penilaian, atau perilaku buruk yang sifatnya minor. Paling buruknya, dapat menjadi bentuk kontrol pikiran dan pelecehan psikologis yang parah. Gaslighting bisa terjadi tidak hanya dalam hubungan pribadi namun di tempat kerja, atau di seluruh jenis kelompok masyarakat.

Menurut Robin Stern, seorang associate director dari Yale Center for Emotional Intelligence dan juga seorang psikoanalis, membuat beberapa tanda yang perlu kita perhatikan untuk mengenali tanda-tanda gaslighting sebagai berikut:

- Kamu terus mempertanyakan dirimu sendiri, seperti “Apakah aku terlalu sensitif?”

- Kamu sering merasa bingung bahkan hampir gila dalam hubungan tersebut

- Kamu selalu meminta maaf

- Kamu tidak mengerti alasan kamu tidak merasa lebih bahagia

- Kamu sering membuat alasan/pembelaan terhadap perilaku pasangan

- Kamu tahu sesuatu itu salah, tapi kamu tidak paham alasannya

- Kamu mulai berbohong untuk menghindari pemutarbalikan fakta

- Kamu kesulitan membuat keputusan

- Kamu terus berpikir apakah kamu sudah merasa cukup

Dan beberapa kalimat yang sering dikatakan seorang gaslighter:

- Kamu terlalu sensitif!

- Kamu tahu itu cuma karena kamu tidak percaya diri.

- Jangan gila deh! Atau, kamu terdengar gila, tahu!

- Kamu cuma paranoid saja.

- Kamu memang sengaja suka menyesatkan aku.

- Aku cuma bercanda!

- Kamu cuma mengada-ngada saja.

- Itu bukan masalah besar.

- Kamu cuma berimajinasi.

- Kamu berlebihan.

- Itu nggak pernah terjadi.

- Kamu kan tahu kamu pelupa.

- Mulai lagi deh, nggak bersyukur banget sih kamu.

Teknik seorang gaslighter dengan merusak emosi dan perasaan pasangan adalah cara untuk menyangkal realita mereka. Persepsi pasangan dikatakan salah dengan terus menerus dianggap tidak nyata sehingga meyakinkan korban bahwa mereka hanya mengada-ngada scenario yang tidak ada, ketika pada kenyataannya, apa yang dirasakan atau dialami orang itu adalah nyata dan benar adanya.

Pelaku gaslighting bahkan tidak dasar bahwa dirinya manipulatif karena kurangnya kesadaran diri dan mungkin berpikir bahwa dia hanya mengekspresikan dirinya secara langsung atau cenderung jujur. Gaslighting dapat menjadi kebiasaan buruk yang berasal dari hubungan sekitarnya. Jika ada partner atau teman, orangtua seorang gaslighter mampu berusaha untuk mengubah cara mereka berargumen dan berinteraksi, perubahan yang lebih baik masih memungkinkan. Tapi, akan sulit jika mereka terus menahan realita yang kamu percaya.

Sumber: Psychology Today, vox.com

Leave a comment

© 2019 Muslimahdaily.com All Rights Reserved. Part Of Genmediautama