5 Jenis Komunikasi Motivasi untuk Anak Melalui Bahasa Al Qur'an

Ilustrasi Ilustrasi ( Foto: Instagram/hamidahrachmayanti )

Muslimahdaily - Sebagai orang tua, membangun dan meningkatkan motivasi anak adalah hal terpenting. Motivasi akan tersampaikan dengan baik apabila dapat dipahami dengan mudah oleh anak, tepat sasaran dan efektif. Hal ini bisa tercapai apabila orang tua memiliki komunikasi yang baik dengan anaknya. Yaitu komunikasi motivasi.

Jalaludin Rakhmat mengungkapkan pendapatnya tentang prinsip-prinsip komunikasi menurut Al Qur'an. Salah satu prinsipnya adalah qaulan sadidan, yaitu berkomunikasi dengan benar dan tidak terbelit-belit. Komunikasi hendaknya bersifat tidak menutupi kebenaran dengan menggunakan kata-kata yang menimbulkan penafsiran yang berbeda. Tentunya juga tidak mengandung kebohongan.

Berdasarkan prinsip qaulan sadidan, Mohammad Fauzil Adhim dalam bukunya "Mengajar anak anda mengenal Allah melalui membaca" memaparkan 5 konsep komunikasi motivasi yang bisa diterapkan oleh orangtua bagi sang buah hati:

Komunikasi Syakartum

Komunikasi syakartun merupakan salah satu komunikasi untuk memotivasi anak dalam melakukan hal-hal baru dengan cara menunjukkan nilai positifnya. Cara ini juga digunakan oleh Allah dalam Al Qur'an saat memberikan perintah kepada masyarakat zaman jahiliyah, "iqra!", bukan perintah untuk menghapus kejahiliyahan.

Komunikasi motivasi yang diturunkan oleh Allah adalah dengan mendahulukan kebajikan, tidak dengan menunjukkan cacat dari apa yang sedang dilakukan oleh masyarakat.

Penggunaan komunikasi motivasi syakartum kepada anak, akan membawa manfaat yang sangat besar. Anak akan terbentuk menjadi pribadi yang optimis, karena ketika semua hal tidak memungkinkan, Allah Tuhan Yang Mahakuasa akan selalu memungkinkan harapan anak terwujud. Ini terutama jika anak sedari awal telah dididik bahwa Allah memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.

Komunikasi syakartum juga merupakan metode "menghadirkan" Allah di dalam setiap kebajikan. Allah adalah sumber kebajikan dan kepada-Nya kebajikan diabadikan. Pemakaian komunikasi ini akan mengakrabkan anak terhadap sifat Allah, yaitu yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ketika Allah memperingatkan orang-orang yang tidak mau mensyukuri nikmat-Nya, Allah tidak mengatakan Aku akan menyiksa atau mengazabmu dengan pedih, tetapi menyatakan "sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Saat komunikasi ini diterapkan anak saat melakukan kesalahan, anak tidak dihadapkan bahwa sumber dari kegagalan adalah anak. Sebaliknya, anak akan "disadarkan" bahwa sumber kegagalan adalah tindakan yang tidak sesuai dengan aturan, hukum, agama atau norma. Kesalahan anak adalah ketika anak memilih melakukan tindakan itu.

Komunikasi La Takrabu

Komunikasi la takrabu digunakan untuk mengenalkan larangan pada anak. Komunikasi ini berguna untuk memotivasi anak menghindari tindakan yang tidak baik, orangtua dituntut untuk menjelaskan ketidakbaikan dari hal yang dilarang tersebut.

Orangtua dituntut untuk memberi pengertian kepada anak mengapa sesuatu itu membahayakan atau merugikan. Sifat membahayakan atau merugikan dari sesuatu itu akan mengenai setiap orang yang melakukan. Maka titik tekan tentang siapa yang akan menerima risiko jika melakukan tindakan yang merugikan itu tidak pada anak, sebab anak memang belum melakukan.

Titik tekannya adalah pada siapa yang melakukan tindakan tersebut. Di sisni ada konsep menjauhi suuzhan (berprasangka buruk). Anak dihargai dan tidak dikenai kemungkinan menderita kerugian karena melakukan hal yang jelek itu, karena anak memang belum melakukan.

"Janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al Isra: 32).

Maka ketika seorang ibu melarang anaknya, komunikasi la takrabu merupakan cara yang memanusiakan anak. Katakan misalnya, "Ibu sangat bangga kepadamu. Ibu ingin kamu menjadi anak yang pandai. Jangan membolos, sebab membolos menyebabkan bodoh dan tidak naik kelas."

Komunikasi Wal Ashr

Komunikasi wal ashr merupakan cara berkomunikasi untuk memotivasi anak melakukan tindakan yang bagus tanpa memerintahkannya. Anak dirangsang untuk bertanya kepada diiri sendiri, berpikir dan bertanggung jawab atas dirinya. Anak di hadapkan pada kondisi tidak ideal yang secara umum terjadi atau bersifat sunatullah, hanya jika ada tindakan tertentu yang menggugurkan kondisi tidak ideal tersebut.

Penggunaan komunikasi wal ashr ini akan merangsang anak untuk kritis terhadap kondisi masyarakatnya, dalam lingkup kecil teman-teman sebayanya. Komunikasi ini juga bisa digunakan oleh orangtua untuk menghibau anak melakukan tindakan tertentu yang sifatnya tidak saat ini juga harus dilakukan.

Jenis komunikasi ini juga mengajak anak untuk memikirkan sendiri kebaikan dari suatu tindakan yang dapat menggugurkan kondisi tidak ideal, sehingga ia akan membangun motivasi.

Komunikasi Tobat

Komunikasi tobat merupakan cara berkomunikasi untuk memotivasi anak pada saat anak gagal, telah melakukan kesalahan, atau ketika anak menyesali diri karena telah melakukan tindakan yang keliru.

Dalam komunikasi ini, optimisme diletakkan di depan sebelum menyebutkan kesalahan yang terjadi. Sesudah menyebutkan tindakan salah yang dilakukan, optimisme kembali dihadirkan. Pada saat ini Allah menghadirkan diri dengan menyebut nama-Nya, Maha Pengasih dan Penyayang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.

Orangtua tidak perlu lagi mengatakan kepada anak, "Ya sudah, Kalau sudah terjadi tidak apa-apa. Tapi harus janji, jangan mengulangi lagi perbuatan itu."

Penerapan komunikasi tobat untuk memotivasi anak ketika menyampaikan larangan adalah dengan memberikan alternatif tindakan yang baik sesudah menyampaikan larangan.

Komunikasi Lanjut

Komunikasi lanjut digunakan untuk menegaskan suatu larangan yang telah lama disampaikan dan tidak pernah atau jarang dipatuhi. Menggunakan pendekatan dengan langsung menunjuk ke diri anak dengan memakai kata kamu.

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (QS. Ash Shaff: 2-3).

Hal yang terlebih dahulu perlu dikemukakan kepada anak adalah perkara salah yang dilakukan oleh anak. Baru sesudah itu, orang tua menyatakan sikapnya terhadap kesalahan anak. Kalimat yang dinyatakan terlebih dahulu akan ikut memberi "arti" bagi kalimat berikutnya.

Leave a Comment