Deteksi Dini Disleksia Pada Anak

Muslimahdaily - Disleksia merupakan gangguan belajar yang terjadi pada anak-anak. Disleksia berasal dari kata dys yang berarti kesulitan dan lexis yang berarti bahasa atau kata-kata. Jika digabungkan maka disleksia berarti kesulitan dalam berbahasa. Gangguan ini ditandai dengan kesulitan membaca yang dialami oleh anak usia sekolah dasar. Selain mengalami kesulitan dalam mengeja dan membaca, anak-anak dengan disleksia juga memiliki kesulitan dalam menulis (disgrafia) dan berhitung (diskalkulia).

Penyebab disleksia ini belum diketahui secara pasti. Olehsebab itu, ada kemungkinan bahwa setiap anak dapat terlahir dengan gangguan ini. Namun demikian, bunda tidak perlu khawatir. Bunda dapat mencegah keparahan disleksia dengan senantiasa waspada dan peka terhadap gejala-gejala yang dimunculkan oleh anak. Melakukan deteksi dini disleksia pada anak dapat mencegah gangguan tersebut semakin parah, sehingga dampak buruk dari gangguan tersebut pun dapat diminimalisasi.

Berikut beberapa langkah untuk mengenali gejala disleksia pada anak

1. Terlambat berbicara

Bunda perlu waspada jika buah hati terlambat berbicara dibandingkan anak-anak seusianya. Terlambat berbicara merupakan satu indikator kemungkinan disleksia. Umumnya, anak mampu berkomunikasi dengan mengucapkan kata pertamanya pada usia 10-14 bulan. Anak dengan usia tersebut sudah mampu menyampaikan keinginannya pada orang lain dalam wujud satu atau dua kata. Anak tidak lagi sekedar menangis untuk berkomunikasi. Selanjutnya, pada usia 1,5 - 2 tahun kosa kata anak bertambah sangat cepat sehingga mereka mulai sering mengucapkan berbagai macam kata dan berkomunikasi menggunakan kalimat. Jika hingga usia 2 tahun kosakata anak masih terbatas, dan anak belum mampu menyampaikan maksudnya dengan jelas secara verbal, ada kemungkinan anak mengalami disleksia.

2. Sulit mengeja dan sering terbalik membaca huruf

Umumnya anak mampu membaca di usia 5 tahun. Anak dengan disleksia mengalami kesulitan dalam mengeja dan membaca. Mereka sangat sulit mengeja dan berulang kali terbalik membaca huruf. Bahkan, hal ini masih bisa terjadi ketika anak sudah duduk di kelas 4 SD, yang mana seharusnya anak sudah lancar membaca. Anak dengan disleksia sering terbalik membaca huruf misalnya “b” dengan “d” dan kesulitan pula membedakan huruf kapital dengan huruf kecil.

3. Cara baca sering salah dan terbata-bata

Perkembangan kemampuan membaca anak dengan disleksia sangat lamban. Ketika teman-teman seusianya sudah lancar membaca, mereka masih membaca dengan terbata-bata dan sering salah. Misalnya, membaca “lari” sebagai “tari” dan “makan” sebagai “makam”.

4. Sulit mengingat urutan

Jika anak mengalami kesulitan mengingat sesuatu yang cukup kompleks, maka bunda perlu waspada. Anak dengan disleksia sulit mengingat urutan sesuatu yang cukup banyak misalnya nama bulan dan nomor telepon. Jika diminta untuk mengingat hal-hal tersebut dan menyebutkannya secara runut, mereka cenderung akan salah atau bahkan tidak ingat.

5. Lamban memahami informasi

Anak dengan disleksia sedikit lebih lamban dalam memahami informasi yang ia peroleh baik dari bacaan maupun secara lisan. Otak mereka butuh waktu lebih lama untuk menggabungkan kata, mengeja kata, dan menyusun satu per satu fragmen dari informasi sehingga membentuk kesatuan informasi yang utuh. Jika anak lamban dalam memahami kata-kata yang bunda sampaikan, atau mereka seringkali menangkap pesan secara salah, maka bunda perlu waspada karena hal tersebut merupakan salah satu gejala disleksia.

6. Lamban dalam menulis

Kemampuan menulis muncul setelah anak mampu membaca. Jika sejak awal anak memiliki gangguna dalam membaca, maka kemampuan menulisnya pun sudah pasti terhambat. Di usia sekolah yaitu sekitar usia kelas 2 SD atau 3 SD umumnya anak sudah memiliki kemampuan menulis yang cukup baik. Jika anak kesulitan dalam menulis, lamban dalam menulis, dan sering menulis menggunakan huruf yang salah atau terbalik, ada kemungkinan bahwa anak memiliki disleksia.

Enam gejala di atas merupakan gejala-gejala yang sering muncul pada anak dengan disleksia, sehingga bunda dapat melakukan deteksi dini disleksia dengan mengidentifikasi hadirnya gejala-gejala tersebut padaa anak. Jika bunda menemukan gejala-gejala tersebut pada anak, jangan gegabah dan langsung memberikan stigma bahwa anak tersebut bodoh atau “cacat”. Sebaliknya, bunda harus memberikan support dan stimulasi yang lebih pada anak agar gangguan tersebut tidak menghambat prestasi belajar anak. Dengan penanganan yang tepat dari orangtua, anak-anak dengan disleksia mampu tumbuh dan berprestasi sebagaimana anak yang normal.