PPMI : Merawat Tradisi Berkisah Bertema Islami

Komunitas persaudaraan pencerita muslim Indonesia Komunitas persaudaraan pencerita muslim Indonesia

Muslimahdaily - Belajar sambil mendengar dongeng adalah salah satu kegiatan yang disukai anak-anak. Apalagi, jika sang pencerita mendongeng dengan gaya yang enerjik dan menyenangkan. Namun, masih minimnya juru dongeng dari kalangan muslim membuat segolongan pemuda membentuk komunitas Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI).

Komunitas PPMI berawal di kota istimewa Yogyakarta. Awalnya, dari sebuah sanggar bernama sanggar Ardika. Yakni, sanggar yang menangani anak-anak mengaji sambil bercerita. “Kami memberikan pengalaman yang menyenangkan kepada anak-anak saat mengaji. Jadi, sebelum mengaji kami bercerita selama 15 menit, agar mereka tidak mudah bosan,” tutur Hadiyan Mariyadi ketua PPMI wilayah Jatim. 

Kegiatan tersebut berlangsung selama delapan tahun. Mereka berkeliling dari satu masjid ke masjid lain. “Ternyata banyak sekali peminatnya. Akhirnya kami kepikiran untuk mengukuhkan menjadi sebuah komunitas,” ujar juru dongeng kelahiran Yogyakarta tersebut. 

Tepat Februari 2010, PPMI pun terbentuk. Kelahiran PPMI tidak dapat dipungkiri dari keberadaan Yayasan Pusat Dakwah dan Pendidikan Silaturrahmi Pecinta Anak (SPA) Yogyakarta. Hadiyan mengungkapkan, PPMI dibentuk berdasarkan dorongan dari sebuah kesadaran untuk merealisasikan Islam yang rahmatan lil’alamin, serta kewajiban untuk meneruskan mata rantai perjuangan dakwah dan tarbiyah Islam melalui kisah atau cerita islami. 

“Selama ini kita selalu menceritakan dongeng-dongeng yang kadang memiliki nilai kurang baik. Misalnya, kisah soal kancil mencuri timun. Ini akan mempengaruhi pikiran dan karakter anak,” ungkap Hadiyan. 

PPMI sendiri memfokuskan pada kisah-kisah islami dalam penyampaian materi mereka. “Yang membedakan PPMI  dengan komunitas dongeng lain antara lain seperti yang tercantum dalam visi dan misi kami yakni bercerita atau berkisah dengan materi yang Islami. Yakni yang berasal dari kisah qurani, sirah nabawiyah, tarikh khulafa, sejarah para ulama serta cerita fiksi Islami,” tuturnya. 

Menurut Hadiyan, aktivitas berkisah dirasa efektif dalam menyampaikan nilai-nilai agama kepada anak-anak. Sebab, melalui kisah dan cerita, anak-anak merasa tidak digurui dengan nasehat yang diberikan. Mereka bisa menerima pesan secara menyenangkan. 

“Manfaat berkisah begitu banyak, selain meningkatkan keimanan anak-anak juga menjadi sarana komunikasi yang positif  bagi para orangtua dan pendidik dalam rangka menyampaikan pesan moral dan akhlak yang ingin ditanamkan kepada mereka,” ungkapnya.

Bahkan dampak berkisah dengan nilai islami bisa membekas diingatan anak anak dan perubahan tingkah perilakunya dalam keseharian. “Hal tersebut sering kami peroleh dari testimoni yang didapat dari para orangtua maupun pendidik,” lanjut Hadiyan. 

Berksiah untuk anak-anak membutuhkan keterampilan tersendiri. Hadiyan mengatakan, berkisah membutuhkan jam terbang dengan memperbanyak praktik bercerita. “Misalnya dengan menggunakan media belajar Visual, Auditori dan Kinestetik dalam bercerita akan membuat anak anak menjadi betah mendengarkan cerita,” katanya. 

Hadiyan mengaku susah-susah gampang saat berkisah ke hadapan anak-anak. “Kesulitannya saat kita dihadapkan dengan kondisi yang serba tidak terduga seperti ketika bercerita di daerah bencana atau konflik,” ungkapnya. 

Di komunitas PPMI, siapa saja dapat menjadi juru kisah. Hadiyan mengaku, saat ini permintaan juru kisah dari kalangan muslim sangat tinggi. Sebab, makin banyak orangtua dan pendidik yang menyadari pentingnya cerita-cerita Islami untuk anak-anak mereka. “Saat ini masyarakat kita merindukan kisah kisah qurani dan sirah untuk mendidik anak anak,” ujarnya. 

Sehingga, siapa saja dapat bergabung dalam komunitas ini. dia mengaku anggota di PPMI telah mencapai 300 orang lebih. “PPMI ada di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur (Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lumajang, Bojonegoro, Sumenep ) Jawa Barat, Wilayah Kepulauan Riau, Wilayah Bengkulu, Wilayah Sumut dan Wilayah Kaltim,” papar Hadiyan. 

1 comment

Leave a Comment