Melawan Patriarki, Zarifa Ghafari Menjadi Wali Kota di Afghanistan

Zarifa Ghafari Zarifa Ghafari (foto: eca.state.gov)

Muslimahdaily - Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Zarifa Ghafari bahwa dirinya akan menjadi Wali Kota. Pasalnya sebelum karirnya yang baru itu, Zarifa telah meraih gelar sarjana di India dan memiliki usaha stasiun radio. Namun, dorongan dari keluarga akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti ujian pegawai negeri. Hingga akhirnya, perempuan kelahiran 1992 itu mendapat pengumuman bahwa dirinya ditunjuk sebagai Wali Kota Maidan Shar, yaitu kota dengan 35.000 jumlah penduduk yang berada di provinsi Wardak.

Dilansir dari The New York Times, Zarifa dilantik menjadi Wali Kota Maidan Shar saat usianya baru 26 tahun. Oleh sebab itu, ia mendapat predikat sebagai Wali Kota perempuan pertama dan termuda di Afghanistan. Selain itu, ia juga merupakan perempuan pertama yang menjabat di pemerintahan Kota Maidan Shar. Berkat jabatan yang diterimanya, Zafira semakin sadar bahwa dirinya bisa terus berada di garis terdepan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan Afghanistan.

Perjuangannya menjadi seorang Wali Kota sesungguhnya tak berjalan mulus begitu saja. Ia harus dihadapkan pada berbagai masalah. Khususnya masalah budaya patriarki yang melekat di tengah masyarakat Afghanistan. Penolakan dan ancaman dari masyarakat membuatnya tak berani untuk menetap di kota tersebut. Zarifa lebih memilih tinggal di Kabul, ibu kota Negara Afghanistan. Demi menjaga keamanan, ia harus rela untuk bolak-balik antara Kabul dan Maidan.

Kesabaran Zarifa Ghafari kembali diuji. Meskipun telah diangkat pada 2018 silam, ia harus menunda bekerja selama beberapa bulan. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa permasalahan yang harus dihadapi. Setelah itu, akhirnya ia bisa kembali bekerja. Tak sampai disitu, lagi-lagi Zarifa dihadapkan pada masalah, saat sejumlah laki-laki yang marah sambil memegang tongkat dan batu datang mengerumuni kantornya. Hingga ia harus dikawal oleh Badan Intelijen Afghanistan, kemudian ketika ia berjalan pergi, banyak yang meneriakinya sambil berkata, "Jangan Kembali."

"Itu adalah hari terburuk dalam hidupku," ungkapnya. Setelah itu, ia langsung menuju ke istana Presiden Kabul dan mengatakan kepada para pejabat disana bahwa ia tidak akan mudah menyerah.

Setelah beberapa lama, akhirnya Zarifa bisa kembali ke Maidan Shar. Disana ia mulai mengadakan pertemuan dengan 20 pejabat kota yang semuanya adalah pria. Kala itu, beberapa pejabat datang terlambat, tidak memperhatikan dengan menatap ponselnya, bahkan ada yang berbicara dengan pejabat lainnya. Seakan mengabaikan kehadiran Zarifa disana.

Hingga akhirnya Zarifa berteriak dan berkata, "Ini adalah pertemuan formal. Jika seseorang memiliki urusan pribadi, dia bisa pergi," teriaknya. Ia berhasil membuat mereka duduk dan kembali mendengarkan. Lalu, di akhir pertemuan ia berkata, "kembalilah bekerja dan lakukan pekerjaanmu". Lagi-lagi ia direndahkan, setelah ia keluar dari ruangan terdengar gelak tawa dari dalam.

Permasalahan seakan tidak berhenti menghampiri wanita hebat ini. Ketika ia membagikan kantong sampah plastik dalam kampanye Clean City Green City. Sebagian masyarakat menolak menerimanya. Meskipun begitu, ia tetap teguh membagikan sambil berteriak, "Ini kota kita, kita harus menjaganya tetap bersih, aku tidak bisa melakukan ini tanpa bantuanmu."

Bahkan beberapa orang masih ada yang menertawakannya. Zarifa mengatakan kepada salah seorang reporter, "Ketika seorang wanita ingin bekerja di masyarakat yang sangat konservatif, dia harus menyembunyikan kepribadian aslinya, dia pasti kasar atau tidak ada yang mau mendengarkannya. Saya perlu membuktikan kepada mereka bahwa wanita tidak lemah."

Hinaan dan ancaman yang diterima tak lantas membuatnya menyerah. Pada pertemuan yang membahas mengenai proyek jalan yang sedang diperjuangkan oleh Zarifa membuatnya mendapat secerca dukungan. Atas kegigihan dan semangat yang dimiliki membuatnya sampai pada titik saat ini.

Dilansir dari Good Morning America, Zarifa Ghafari merupakan salah satu dari 12 perempuan yang dihormati oleh pemerintahan Trump. Melalui penghargaan International Women of Courage, acara tahunan yang dimulai oleh Sekretaris Negara Condoleezza Rice tahun 2007.

Leave a Comment