Sepuluh Wanita Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Tepat 71 tahun silam Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Tak lagi menanggung parasit para penjajah kala itu. Merdeka bukan sembarang merdeka, sebuah perjuangan panjang telah dilalui bangsa ini sebelumnya. Ratusan tahun para pejuang bangsa menyusun strategi demi menjadikan Indonesia sebagai negara yang aman dan tentram.

Tak dapat dipungkiri, bukan hanya para pria di balik kesuksesan pulangnya para pemeras rakyat. Tapi juga para wanita yang berjuang dengan caranya masing-masing. Diantara mereka, terdapat muslimah-muslimah yang tangguh dalam pendiriannya. Beberapa dari para muslimah yang jihadnya mengaantarkan Indonesia ke masa kemerdekaannya adalah sebagai berikut.

1.Cut Nyak Dien

Tjoet Nja’ Dhien (Cut Nyak Dien) lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 dan wafat di Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908. Cut Nyak Dien bersama dengan suaminya, Teuku. Mereka memimpin berbagai peperangan di tanah rencong (Aceh) melawan pasukan penjajah Belanda sejak tahun 1880.

2.Cut Nyak Meutia

Tjoet Nja’ Meutia (Cut Nyak Meutia) lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, 1870 dan wafat di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910. Beliau melakukan perlawanan kepada para penjajah Belanda bersama dengan suaminya Teuku Muhammad (Teuku Tjik Tunong).

3.Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang lahir di Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 dan wafat di Yogyakarta, 1828. Beliau merupakan pemimpin daerah Serang. Ia mimpin pasukan dari tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda selama kurang lebih 3 tahun.

4.Hj.Fatmawati Soekarno

Hj. Fatmawati Soekarno lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 wafat di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980. Beliau adalah orang yang menjahit bendera pusaka “Sang Saka Merah Putih” yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

5.Opo Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, 1880 dan wafat di Palopo, Sulawesi Selatan, 10 Februari 1964. Ia melakukan pemberontakan terhadap tentara NICA pada tahun 1946.

6.Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan wafat di Rembang, 17 September 1904. Beliau yang tak asing bagi warga Indonesia adalah pelopor kebangkitan perempuan dengan beberapa pemikiran dan pandangannya yang sangat kritis tentang emansipasi wanita.

7.Hj.Rangkayo Rasuna Said

Hj. Rangkayo Rasuna Said lahir di Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910 dan wafat di Jakarta, 2 November 1965. Karena memprotes ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda, ia dipenjara oleh penjajah Belanda pada tahun 1932. Ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPR-RIS dan Dewan Pertimbangan Agung.

8.Laksamana Keumalahayati

Dengan semangat yang berapi-api, ia pimpin sebanyak 2000 janda melawan pasukan Belanda. Laksamana Malahayati, seorang muslimah pertama di dunia yang menjadi laksamana di zaman pelayaran modern. Wanita asal Aceh ini membuat bergidik bangsa-bangsa adidaya pada masa itu.

(Baca juga: Keumalahayati, Lakasamana Wanita Pemimpin 2000 Janda yang Membuat Penjajah Ketakutan)

9.Rahmah El Yunisiyah

Rahmah dilahirkan di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 29 Desember 1900 dan wafat pada tahun 1969. Wanita bernama lengkap Hajjah Rangkayo Rahma El Yunisiyah ini merupakan reformator di dunia pendidikan Islam di Indonesia. Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, sekolah agama Islam perempuan pertama di Indonesia.

10.Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dan meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun. Ia merupakan tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Dewi Sartika berhasil mendirikan sekolah bernama Sakola Keutamaan Istri pada tahun 1910. Tak hanya di Bandung, sekolah khusus perempuan ini juga didirikan di luar Kota Bandung.

Masih banyak pahlawan-pahlawan wanita yang membela Indonesia melawan segala "penjajah" dengan berani.

Kita sebagai generasi penerus bukan hanya harus tau tentang para pahlawan tapi juga harus menyotoh semangat pengorbanan mereka untuk Indonesia, tentunya dengan cara kita masing-masing.

Last modified on Rabu, 17 Agustus 2016 07:38