Konflik Wamena, ACT Ajak Bantu Korban Lewat Gerakan #KamiPeduliWamena

Ibnu Khajar, Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar, Presiden Aksi Cepat Tanggap ( Foto : Witri/Muslimahdaily )

Muslimahdaily - Lewat Gerakan #KamiPeduliWamena, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali mengajak para dermawan untuk mengulurkan tangan membantu korban dari konflik sosial yang terjadi di Wamena, Jayawijaya, Papua. Demonstrasi yang berujung rusuh ini telah memakan 33 korban jiwa dan puluhan ribu orang diungsikan, serta banyak fasilitas yang dibakar oleh para demonstran yang bersifat anarkistis.

Menurut update yang diberikan ACT ada 165 rumah dan 465 ruko yang dibakar; 15 kantor yang hangus terbakar; dan 5 kantor yang mengalami rusak berat. Tak hanya itu, peristiwa ini pun mengakibatkan eksodus besar-besaran yang mengakibatkan sekitar 7.293 jiwa terdaftar untui diberangkatkan keluar Wamena.

“Informasi yang kita terima total pengungsi sebelum eksodus ada 17ribu. Hari ini tadi ada 1000 orang yg bergerak difasilitasi oleh pesawat herkules mengungsi dari Wamena ke Sentani. Hari ini tidak ada yang bisa memberikan data eksak karena sedang dalam kondisi emergency,” ujar Ibnu Khajar, Presiden Aksi Cepat Tanggap, di ACT Learning Center, Senin (1/10).

Dalam kondisi emergency saat ini, ACT telah memberikan bantuan dengan memenuhi kebutuhan dasar, seperti sandang, pangan, kesehatan, dan yang paling diutamakan ialah korban anak kecil serta wanita yang membutuhkan tingkat higenitas tinggi. Dari kondisi ini yang paling dikhawatirkan ialah rentan tersebarnya wabah penyakit, untuk itu mereka mengutamakan kesehatan para korban.

Senior Vice President of Group of Distributio Program, Imam Akbari mengaku bahwa saat ini tengah dilakukan pendataan para pengungsi yang minta dievakuasi, terutama yang sakit dan tidak dapat ditangani di lokasi. Selain itu, ACT juga membangun 10 posko dan turut membantu mensetup posko di Wamena bersama TNI dan sejumlah pihak terkait serta memfasilitasi keberangkatan pengungsi dari Wamena ke Sentani menggunakan pesawat Hercules.

“Kemudian di Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan yang paling banyak korban dan yang paling banyak eksodusnya lebih dari sekitar 7ribu dan kemungkinan akan terus bertamabah kita memfasilitasi menyediakan pesawat untuk mereka tentu ini biayanya ga kecil juga untuk satu keberangkatan bisa hampir setengah miliar dan ini sekedar informasi sekilas aja, dan untuk santunan-santuna para korban kita sudah serahkan beberapa.

Setelah emergency selesai akan  dilakukan pula recovery. Bangunan yang rusak akan dibangun kembali, baik masjid, sekolah, maupun fasilitas umum hingga tempat mata pencaharian mereka. Dan akan didata lebih lanjut saat konsisi sudah mulai kondusif.

“Rumah yang hancur kita bangun kemabli, tempat usaha yang hancur kita bangun kembali, mungki ada tempat ibadah dan sekolah kita akan kembali. Setelah selesai kita akan kirimkan bersama mereka akan kembali kepada Wamena,” ujarnya.

Leave a Comment