Kisah Pilu Di Balik Ayah dan Anak Tertawa Bahagia Mendengar Suara Ledakan di Suriah

Abdullah dan Salwa Abdullah dan Salwa ( Foto: Arab News )

Muslimahdaily - Hidup di daerah konflik seperti Syiria, tak memberikan banyak pilihan dalam hidup. Selain tak dapat menikmati hidup layaknya manusia lain, daerah konflik bukan teman yang aman bagi anak-anak. Setiap harinya diisi dengan suara letupan senjata api, ledakan bom, dan meriam.

Bagi Abdullah Al Mohammed, cara yang paling tepat untuk membuat anaknya sedikit lebih tenang adalah dengan mengubah sudut pandang tempat tinggalnya menjadi sebuah permainan.

Pada video yang beredar dan menjadi viral beberapa waktu belakangan, ayah berumur 32 tahun ini terlihat sedang bersama putrinya, Salwa. Walau berada di daerah konflik, keduanya tidak menunjukkan ketegangan pada wajanya.

Malah ayah dan anak tersebut terlihat tertawa. Sang ayah mengajukan pertanyaan pada putrinya sebagai bagian dari “permainan” ala mereka.

“Apakah itu pesawat atau mortir?” tanya sang ayah.

“Mortir. Kalau itu mortir, kita akan tertawa,” jawab Salwa sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi sebuah ledakan. Kedunya lantas tertawa. Sebuah potret yang menggemaskan namun nyatanya menyayat hati.

Cara ini telah dilakukan oleh Abdulullah sejak dua tahun lalu. Awalnya, Salwa nampak ketakukan saat mendengar suara ledakan.

“Saya dapat ide itu sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu sedang liburan dan anak-anak sedang bermain kembang api. Dia (Salwa) ketakutan. Jadi saya langsung menggendongnya. Dan saya bilang tidak perlu takut, itu cuma anak -anak yang sedang bermain,” kisahnya seperti dikutip dari Arab News.

“Saya berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa apa yang terjadi bukanlah hal buruk tetapi sebaliknya, bahwa hal tersebut lucu,” tutur Abdullah pilu.

Abdullah dan keluarganya tinggal di Sarmanda, kota di Suriah yang berusaha dihancurkan pasukan rezim yang didukung Rusia. Sebelumnya, ia melarikan diri dari Saraqeb, kota lain di Idlib yang telah direbut oleh pasukan rezim.

Setelah hampir sembilan tahun terjadi konflik yang menewaskan lebih dari 380.000 orang, Abdullah sudah kehilangan harapan dan mimpinyanya.

“Kami lelah mengirim pesan, kami tidak punya aspirasi. Kami hanya ingin anak-anak ini memiliki kehidupan yang layak,” tutupnya.