Hotel Tempat Karantina Suspect Virus Korona di China Runtuh

para petugas tengah menyelamatkan korban runtuhnya Hotel para petugas tengah menyelamatkan korban runtuhnya Hotel (foto:AFP/AlJazeera)

Muslimahdaily - Hotel Xinjia, Quanzhou, China yang dijadikan tempat karantina terkait wabah virus Corona, runtuh pada Sabtu malam (7/3) waktu setempat.

Kejadian ini menewaskan sepuluh orang dan 23 lainnya masih terperangkap di bawah puing-puing bangunan hotel tersebut. Dari 71 orang
yang awalnya terperangkap, pihak berwenang berhasil menyelamatkan 48 orang, 38 orang lainnya telah dibawa ke rumah sakit, dikutip dari AlJazeera, Senin (9/3).

Departemen Pemadam Kebakaran Fujian telah mengerahkan lebih dari 1.000 petugas pemadam kebakaran dan responden darurat lainnya, yang bekerja sepanjang malam untuk menemukan orang yang masih selamat.

"Kami menggunakan instrumen pendeteksi kehidupan untuk memantau tanda-tanda kehidupan dan alat pembobolan profesional untuk membuat entri secara paksa. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak," kata Guo Yutuan, pemimpin skuadron unit polisi bersenjata Quanzhou, dilansir dari CNN, Senin (9/3).

Seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Senin (9/3), salah satu saksi mata mengungkapkan kejadian runtuhnya hotel tersebut.

"Saya berada di sebuah pompa bensin dan mendengar suara keras. Saya melihat ke atas dan seluruh bangunan runtuh. Debu ada di mana-mana, dan pecahan-pecahan kaca beterbangan," kata seorang saksi mata mengatakan dalam sebuah video yang diposting di aplikasi
streaming Miaopai.

Seorang wanita lainnya, Chen, mengatakan kepada Beijing News bahwa kerabat termasuk saudara perempuannya telah dikarantina di hotel seperti yang ditentukan setelah kembali dari provinsi Hubei, tempat virus corona muncul. Dia mengatakan, mereka telah dijadwalkan untuk pergi segera setelah menyelesaikan 14 hari isolasi.

"Saya tidak bisa menghubungi mereka, mereka tidak menjawab telepon. Saya juga dikarantina (di hotel lain) dan saya sangat khawatir,"

Wabah virus Corona, yang telah menewaskan lebih dari 3.300 orang di seluruh dunia, sebagian besar di China. Pemerintah provinsi Fujian mengatakan bahwa pada hari Jumat, provinsi tersebut memiliki 296 kasus dan 10.819 orang telah diobservasi.

Leave a Comment