Ahli Ungkap Sindrom MIS-C Dapat Menyebabkan Kematian Pada Anak

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Sindrom MIS-C yang diderita anak-anak setelah sembuh dari COVID-19 ternyata dapat menyebabkan kematian. Hal ini disampaikan oleh Dr Alvaro Moreira MD MSc, seorang ahli Neonatalogi dari Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Texas di San Antonia.

Sindrom MIS-C atau Multisystem inflammatory syndrome in children sendiri merupakan yang menyerang anak-anak dan remaja berusia 2-15 tahun yang pernah terpapat dari virus COVID-19. Kabarnya, sindrom ini akan memengaruhi banyak sistem organ seperti jantung, paru-paru, sistem neulogolis, sampai sistem pencernaan penderitanya.

Berdasarkan hasil pengamatan yang melibatkan 662 pasien penderita sindrom MIS-C mulai dari Januari hingga Juli 2020, Alvaro dan tim menemukan sejumlah fakta.

Salah satunya, sindrom ini memiliki gejala yang mirip dengan penyakit Kawasaki dan sindrom syok toksik (Toxic Shock Syndrome). Selain nampak demam, 73,7 persen pasien MIS-C ini mengalami nyeri perut atau diare. Sementara 68, 3 persen ditambah dengan muntah-muntah.

Fakta lainnya adalah bahwa 11 dari 622 anak dalam penelitian tersebut dinyatakan meninggal dunia. Angka ini sama sama dengan 1,7 persen dari jumlah total.

“Akan tetapi angka ini sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka kematian 0.09 persen yang diamati pada anak-anak dengan COVID-19,” ujar Alvaro seperti dilansir dari Liputan 6, Rabu (9/9).

Tak hanya itu, 54 persen dari 90 persen dari anak-anak yang mengalami MIS-C juga menunjukkan adanya kelainan saat dilakukan pemeriksaan irama jantung (EKG).

Kelain tersebut meliputi pelebaran pembuluh darah coroner, penurunan kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh jaringan tubuh, dan 10 persen pasien mengalami aneurisma pembuluh koroner sehingga beresiko pada masalah jantung di kemudian hari.

“Anak-anak ini membutuhkan pemantauan lebih serius guna melihat apakah masalah sindrom MIS-C ini mampu teratasi dengan baik selama sisa hidup mereka,” imbuh Alvaro.

Leave a Comment