Hasil Riset: Obesitas Lebih Beresiko Terpapar Virus Covid- 19

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Obesitas atau kelebihan berat badan disebut lebih berisiko terinfeksi virus Corona COVID-19. Kelompok masyarakat yang mengalami obesitas atau kegemukan tidak hanya mengakibatkan gerakannya jadi terbatas. Riset menyebutkan, orang obesitas yang terinfeksi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) berisiko mengalami komplikasi, dilansir dari Detik Health, Sabtu (10/10).

Hal ini dikarenakan obesitas mengarah pada beberapa kondisi medis yang serius seperti gangguan kekebalan tubuh, peradangan kronis, hingga penggumpalan darah. Kesemuanya dapat memperburuk Covid-19 yang diderita.

Orang dengan obesitas lebih mungkin memiliki penyakit komorbid daripada orang lain dengan berat badan normal. Sebagaimana diketahui, penyakit komorbid menjadi faktor utama yang bisa memperparah Covid-19 seperti gangguan jantung, penyakit pada paru-paru, dan tekanan darah tinggi.

Data dari Center for Disease and Control Prevention (CDC) Amerika Serikat mengatakan bahwa kematian orang yang mengidap obesitas dan terpapar COVID-19 meningkat hingga 50 persen.

Mengutip dari CNN Indonesia, Sabtu (10/10), laman Science menuliskan bahwa patologi fisik yang membuat orang dengan obesitas rentan terhadap Covid-19 muncul melalui beberapa mekanisme.

Pertama, melalui keberadaan lemak pada perut. Lemak pada perut dapat mendorong dan menyebabkan otot diafragma mengenai paru-paru hingga membatasi aliran udara. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan kolapsnya saluran udara di lobus bawah paru-paru.

Kedua, penggumpalan darah yang kerap terjadi pada orang dengan obesitas. Kondisi tersebut bisa memicu risiko yang serius selama infeksi dengan timbulnya pembekuan darah.

Ketiga, kekebalan tubuh juga melemah pada orang dengan obesitas. Sebagian diantaranya disebabkan oleh sel lemak yang menyusup ke organ tempat sel kekebalan diproduksi dan disimpan.

Sebuah metanalisis yang diterbitkan dalam Obesity Reviews juga memperlihatkan bahwa sel T-sel kekebalan tubuh yang utama-tidak berfungsi dengan baik dalam keadaan obesitas. Begitupun dengan vaksin flu, akibatnya, orang dengan obesitas tetap berisiko terinfeksi virus.

Keempat, penderita obesitas juga menderita peradangan kronis. Sel lemak mengeluarkan beberapa zat kimia pemicu peradangan yang disebut hormon sitokin. Hasilnya, aktivitas sitokin menjadi kian tidak terkendali. Kondisi ini menjadi salah satu ciri peradangan parah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan.

Itulah berbagai alasan yang menjadikan obesitas lebih berisiko terkena Covid-19. Orang dengan obesitas disarankan untuk lebih berhati-hati demi menjaga diri agar aman dari infeksi. Mereka juga disarankan untuk rutin berolahraga demi menghindari keparahan Covid-19.

Leave a Comment