Pria Jepara Ini Terlilit Hutang 2,2 Miliar dan Sempat Tidur di Emperan Masjid, Kini Sukses Jadi Pebisnis Skincare

Hendra Dinata Hendra Dinata ( Foto : Youtube/PecahTelur )

Muslimahdaily - Keputusasaan hampir merenggut jiwa Hendra Dinata. Ia sudah tidak lagi mempunyai apa-apa, kecuali hanya tubuhnya dan utang sebesar Rp 2,2 miliar. Agar terlepas dari jeratan hutang, Hendra rela melakukan apa saja. Terpenting, hutangnya cepat pergi dari tanggungan hidupnya.

Mulanya, Hendra merupakan seorang pengusaha laundry yang memiliki pendapatan stabil. Usahanya itu kian berkembang pesat, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka tiga cabang. Namun, biaya bagi hasil yang perlu dibayarkan sangatlah besar. Sebab itu, ia berniat untuk meminjam uang dari bank dengan angsuran yang ringan.

Setelah itu, ia ingin mengembangkan pangsa pasar dengan membeli sebuah franchise dari seorang pebisnis. Hendra pun berkeyakinan bahwa bisnis franchise tersebut akan mengalami sukses besar. Mengingat, pebisnis yang mengimingi-imingi keunggulan franchise kepada Hendra merupakan seorang pebisnis tersohor di Tanah Air.

Naas, keberuntungan belum berpihak pada Hendra. Alih-alih, investasinya mengikuti jejak kesuksesan seperti pebisnis franchise tadi, justru franchise yang diidam-idamkan oleh Hendra hanya menjadi angan-angan belaka. Ketika kesepakatan telah ditentukan, anehnya si pebisnis menghilang, padahal franchise tersebut belum sama sekali dibuka.

Nasib buruk kini tengah menguji dirinya. Pinjaman modal yang ia dapatkan raib tanpa menghasilkan laba sedikitpun. Imbasnya, bisnis laundry miliknya pun mengalami kredit macet.

Ia terpaksa meminjam uang kepada banyak orang untuk menutupi hutangnya. Dengan bunga yang terus membengkak, ditambah pemasukan yang tidak mencukupi, Hendra dinyatakan bangkrut. Ia harus rela menjual semua harta benda yang dimilikinya saat itu.

“Semua harta dijual, mulai dari rumah, mobil, sampai perabotan rumah, sampai piring, sampai kompor, sampai rice cooker itu dijual semua. Karena ternyata waktu itu, akumulasi dari total hutang gali lubang tutup lubang itu cukup besar sampai sekitar Rp 2.2 miliar," ujar Hendra di kanal YouTube Pecah Telur.

Bahkan, Hendra sampai merasa takut menerima telepon dari si penagih utang. Ketika menanggapi panggilan telepon dari debt collector, ia kerap dicaci maki dengan kata-kata kotor yang membuat dirinya trauma untuk menerima telepon.

Lebih tragisnya lagi, tatkala Hendra didatangi oleh seorang penagih utang yang memaksa dirinya segera melunasi hutang-hutangnya. Dengan ketegaran hati, Hendra menjelaskan bahwa saat ini, ia tidak mempunyai apa-apa kecuali hanya punya tubuhnya saja.

“Pernah pada suatu waktu itu, ada orang yang datang nagih, ngamuk-ngamuk, maki-maki, dan saya tuh sudah gak bisa jelasin apa-apa, karena setiap kali saya bersuara, dia pasti misuh-misuh, saya sudah gak tahu mau jawab apa, ya udahlah pak, saya hanya punya diri ini. Nah, kira-kira apa yang bisa membuat dengan diri ini hutangku iso lunas semua. Yang penting lunas loh pak, lunas semua dunia akhirat," ungkapnya.

Demi melunasi hutang-hutangnya, bahkan ia sampai merelakan nyawa dan tidak masalah jika harus dipenjara.

Setelah rumah dijual, Hendra kini hidup tanpa mempunyai tempat tinggal. Tak punya banyak pilihan, ia menetap sementara di rumah mertua. Namun, penagih utang terus berdatangan ke rumah mertua nya. Sang mertua pun sampai rela menjual sebagian rumahnya agar Hendra bisa membayar hutang-hutangnya.

Sebab rumah mertua sudah laku terjual dan menjadi semakin sempit, bermodalkan sisa uang Rp 700.000, ia memboyong istri dan anaknya ke kos-kosan putri. Sementara Hendra, memutuskan bertempat tinggal sementara di emperan masjid.

“Kalian kost putri, saya dipikirin nanti saja, lah, saya laki-laki gampang. Terus mereka kost saya akhirnya jadi gelandangan, tinggal di teras-teras masjid, mau beli makan enggak ada (uang),”timpalnya.
Pasrah pada nasib, ia menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Secercah pertolongan itu hadir sehabis menunaikan salat Asar. Hendra membaca papan pengumuman pelatihan pembuatan sabun herbal secara gratis.

Ia pun memutuskan untuk mengikuti pelatihan, karena diliputi oleh rasa penasaran bagaimana mengubah minyak menjadi sabun. Tanpa disangka, sabun herbal itu menjadi titik awal dirinya merintis bisnis kembali.

Singkat cerita, selama sebelas bulan, ia melakukan uji coba terhadap sabun yang semula berbentuk sabun padat menjadi sabun gel. Ia pun mulai menjajakan sabun herbal yang diberi nama merek Salina Herbal.

Hidup yang sulit tidak serta-merta menghilangkan semangat juangnya. Pertolongan dari Allah lagi-lagi datang menghampiri hidupnya. Bentuk pertolongan itu adalah sebuah motivasi dari kejadian seorang pasien yang mengalami kecelakaan kerja di bengkel las.

Pasien itu sudah dirawat di Rumah Sakit Moewardi selama satu tahun setengah, tepat hari itu pasien diperbolehkan pulang, dan kebetulan Hendra bersama temannya lah yang menjemput pasien tersebut.
“Jadi keinget, aku mengeluh. Mengeluh terus menyalahkan Allah, wah aku merinding banget itu, aku langsung diam, langsung istighfar sepanjang jalan, sambil minta ampun, Ya Allah aku masih orang yang paling beruntung di dunia, kondisiku itu gak ada apa-apanya, karena yang diambil itu hanya harta, hartaku itu masih bisa dicari," kata Hendra.

Hendra yang mulanya sempat berprasangka buruk kepada Allah, seketika mengambil hikmah dari kejadian tersebut, perasaan buruknya itu langsung sirna. Hikmah itu, hingga kini masih dipegang erat-erat oleh dirinya dijadikan sebagai pedoman hidup.

Kehidupan terus berlanjut, kesempatan terus berdatangan pada setiap harinya. Berbekal temuan sabun herbalnya, Hendra rajin mengikuti produk inovasi dan memenangkan berbagai kejuaraan.

Berkat jerih payahnya, Hendra kini dikenal sebagai seorang pebisnis skincare bermerek Feed Skin yang diproduksi oleh Salina Herbal. Bahkan, ia telah mengantongi hak paten dari hasil temuan skincare-nya itu.
Lika-liku perjalanan hidup Hendra telah berhasil mengantarnya untuk melunasi segala hutang-hutangnya. Bukan itu saja, ia bahkan menjadi sosok inspirasi berkat kegigihan hidupnya yang tidak mengenal kata menyerah.