Wakil Ketua MPR Ajak Umat Islam Teladani Rasulullah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid ( Foto : Realitarakyat.com )

Muslimahdaily - Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid melalui momentum peringatan Maulid Nabi mengajak umat Islam untuk makin meneladani perilaku Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

"Sudah selayaknya apa yang kita lakukan harus sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam," ujar Jazilul Fawaid atau Gus Jazil dikutip dari republika.com, Senin (18/10/2021).

Menurut Gus Jazil, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam tidak hanya mencontohkan bagaimana beribadah dalam urusan akhirat saja, tetapi soal keduniawian juga.

Dalam urusan dagang, Rasulullah kerap memberi resep agar dagangan laris tanpa berbuat curang atau merugikan orang lain. Rasulullah menerapkan prinsip kejujuran.

"Nabi membawa umatnya kepada kehidupan yang terbuka dan berdampingan dengan umat yang lain. Pada masa kehidupan Nabi, di sana juga ada kehidupan kaum Nasrani, Yahudi, dan penganut-penganut kepercayaan yang lain," katanya.

Selain itu, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam juga memiliki resep dan perjanjian untuk hidup berdampingan dengan umat lain.

Kala itu di Madinah hidup berbagai macam umat beragama dan kepercayaan lainnya. Di kalangan umat Islam saat itu juga terbagi dua kelompok, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar.

"Perbedaan yang ada oleh Nabi ingin dipersaudarakan, disatukan, dengan ikatan hukum yang disepakati bersama. Sebelum mempersaudarakan umat Islam dengan umat yang lain, Nabi lebih dahulu mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, Nabi lebih dahulu menyelesaikan masalah internal umat Islam," jelas dia.

Jazilul berpendapat bahwa setelah sesama umat Islam bersaudara, Rasulullah membuat perjanjian dengan umat lain. Hal tersebut ada dalam Piagam Madinah.

Piagam tersebut menjadi aturan bagi seluruh umat yang tinggal di Madinah. Isinya perihal hak, kewajiban, dan saling menolong dalam kebaikan.

Gus Jazil juga menekankan, selain wajib meneladani bagaimana hidup berdampingan dengan umat lain, umat islam pun wajib meneladani bagaimana Rasulullah menyelesaikan perbedaan dan kepentingan antarumat.

"Nabi mencontohkan apabila ada perbedaan kepentingan dengan yang lain, cara yang dilakukan adalah bermusyawarah," imbuh dia.

Gus Jazil menambahkan, sejarah kehidupan Nabi Muhammad di Madinah hingga lahirnya Piagam Madinah merupakan pengalaman hidup yang tepat di tengah masyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menurutnya, keberagaman kehidupan Madinah pada masa itu kurang lebih sama dengan di Indonesia. Keberagaman pada masa itu bisa dipersatukan oleh Rasulullah dengan kesepakatan hukum dan musyawarah.