Mengenal Sosok Penerjemah Al-Qur'an Pertama di Jepang “H Umar Ryoichi Mita”

H Umar Ryoichi Mita H Umar Ryoichi Mita ( Foto : Islampeace1.com/ Abdul Rahman )

Muslimahdaily - Menjadi sosok generasi muslim pertama di Jepang, nama H Umar Mita akhirnya terkenal dikalangan umat muslim Jepang. Beliau merupakan senior yang memiliki jasa begitu besar bagi masyarakat islam negeri Sakura tersebut. Menjabat sebagai presiden kedua Asosiasi Muslim Jepang, H Umar Mita telah berhasil menerjemahkan Al-Qur’an kedalam teks jepang pada tahun 1972.

Dengan jasa yang begitu besar bagi masyarakat muslim di Jepang, sosoknya menjadi kebanggaan yang tak terlupakan. Hingga Abu Tariq Hijazi menulis artikel berisikan biografi tentang H Umar Mita dengan judul” Umar Mita: Japanese translator of Quran”.

Perjalanan Umar Mita Hingga Menjadi Mualaf

Beliau lahir di Kota Chofu, Yamaguchi pada 19 desember 1892 dengan nama asli Ryoichi Mita, ia terlahir dari keluarga penganut Buddha yang dimana menjadi agama mayoritas keluarga di Jepang. Sejak kecil hingga tumbuh dewasa, Umar Mita sama sekali tidak kenal islam, dan ia juga tidak pernah berjumpa dengan orang-orang muslim karena memang lambatnya penyebaran islam di Jepang itu sendiri.

Awalnya iya belajar di sekolah jepang dan lulus dari Yamaguchi Commercial College. Hingga pada akhirnya ia pergi mengunjungi china, dan belajar Bahasa disana.

China merupakan negara yang dimana memang lebih dulu mendapatkan ajaran-ajaran islam dibandingkan Jepang. Saat Umar Mita berada di negeri tirai bambu ini, akhirnya dia bertemu dengan masyarakat-masyarakat muslim china dan terkesan dengan cara hidup mereka. Hal tersebut membuat ia tertarik untuk mengenal islam lebih dalam, karena cara hidup komunitas muslim yang ia temukan di china sangat berbeda dengan apa yang ia jumpai di Jepang. Ketertarikannya ini membawanya untuk terus memperdalam sekaligus menyebarkan ajaran islam yang ia tuangkan dalam sebuah tulisan artikel berjudul "lslam in China" di majalah Jepang berjudul "Toa Keizai Kenkyu".

Tidak sampai disitu saja, seiring dengan berjalannya waktu, Umar Mita lalu berjumpa dengan muslim pertama yang melakukan haji yaitu Haji Omer Yamaoka. Pada tahun berikutnya, Haji Omer Yamaoka akhirnya Kembali ke Jepang dan memulai perjalannya unruk memperkenalkan dan berdakwah tentang islam.

Hal ini akhirnya berdampak kepada pengajaran islam di Jepang yang membuat Umar Mita semakin penasaran. Lalu Mita akhirnya bertemu Kembali dengan Yamaoka dengan tujuan untuk memperdalam ilmunya tentang islam.

Rasa penasaran dan proses pembelajaran yang Umar Mita lakukan dalam beberapa tahun akhirnya membawanya untuk memeluk agama islam pada 1941 saat usia-nya menyentuh 49 tahun. Setelah resmi menjadi mualaf, ia pun memantapkan diri untuk lebih giat dalam belajar ilmu islam dan Bahasa Arab.

Untuk mencapai tujuannya tersebut, ia sampai pergi ke Pakistan untuk memenuhi sejumlah undangan sekaligus melakukan dakwah. Sepulangnya Umar Mita melakukan ibadah haji ke tanah suci pada tahun 1958, yang kemudian dua tahun setelahnya terjadi musibah dimana presiden Asosiasi Muslim Jepang meninggal dunia, sehingga Umar Mita ditunjuk sebagai presiden pengganti.

Selama menjabat sebagai presiden kedua, ia telah banyak mengeluarkan karya dengan menulis buku-buku yang berkaitan dengan islam. Seperti "Understanding Islam" and "An Introduction to Islam." Umar Mita juga membantu dalam menerjemahkan buku kedalam Bahasa Arab, yaitu buku karya Maulana Muhammad Zakaria Hayat-e-Sahaba (Kehidupan Para Sahabat).

Menjadi Penerjemah Al-Qur’an

Dengan ketekunannya dalam mempelajari islam dan Bahasa Arab, serta kemampuan Bahasa jepang yang menjadi Bahasa utamanya, akhirnya ia berhasil dalam menerjemahkan Al-Qur’an ke Bahasa Jepang. Sebelumnya memang sudah ada yang menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa jepang yang telah diterbitkan pada tahun 1920, 1937 dan 1950.

Namun semua terjemahan itu dilakukan oleh orang non-Muslim. Sampai akhirnya pada tahun 1957, Umar Mita menjadi muslim pertama yang mampu menerjemahkan Al-Qur’an kedalam Bahasa jepang.

Terjemahan yang sudah selesai direvisi, diterima oleh Asosiasi Muslim Jepang. Dengan penuh tekad untuk bisa menyebarkan terjemahan Al-Qur’an teks Bahasa Jepang, lalu Umar Mita menyerahkannya ke Liga Dunia Muslim di Mekah. Enam bulan setelahnya, karya tersebut disetujui untuk di cetak dan disebarkan melalui Perusahaan Percetakan Takumi Kobo di Hiroshima.

Usaha dan kemampuan yang ia miliki tidak sia-sia, karena selama 12 tahun bekerja keras, kesempatan yang didapat diperjuangkan dengan sepenuh hati hingga Umar Mita mencapai kesuksesannya. Meskipun pada yahun 1976, ia tutup usia, namun semua karya-karya nya masih di apresiasi dan dikenang, terutama oleh masyarakat muslim Jepang.

Last modified on Selasa, 16 November 2021 11:09