Heboh! Seri Terbaru Game Call of Duty Dianggap Hina Islam

Call of Duty: Vanguard dituding hina islam Call of Duty: Vanguard dituding hina islam ( Foto : Twitter/@BKTO0R )

Muslimahdaily - Call of Duty: Vanguard sebagai seri terbaru dari game Call of Duty ini dianggap menghina islam setelah menampilkan halaman-halaman Al-Qur’an yang berserakan di lantai dan bahkan tampak adanya lumuran darah pada halaman tersebut.

Dilansir dari Detik.com, tampilan halaman Al-Qur’an tersebut dapat terlihat di salah satu lokasi di peta Zombies yang dimana sang pemain yang berkampanye Der Anfang harus membunuh tentara zombie dari berbagai negara dengan latar belakang lokasi berupa Stalingrad saat Perang Dunia II.

Kejadian inipun sontak dibanjiri kritik oleh para pemain dan developer game Muslim di sosial media dan bahkan mengancam akan memboikot game tersebut. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang memuat firman-firman Allah Subhanahu wa ta'ala.

Namun, pada game Call of Duty: Vanguard tersebut justru halaman Al-Qur’an yang suci malah terlihat berserakan di lantai dan karakter di dalam game dapat menginjak halaman-halaman tersebut.

Salah satu developer game yang ikut bersuara di sosial media berkaitan dengan tampilan halaman Al-Qur’an di game ini adalah Rami Ismail.

“Bisakah kita tidak meletakkan teks Al-Qur’an di tanah atau di tempat orang berjalan. Bahkan jika Anda berpikir agama adalah omong kosong, tidak ada alasan untuk tidak menghormati budaya dan kepercayaan dua miliar orang dalam video game,” ujar Rami, dikutip dari NME.

Tak berselang lama, Activision selaku penerbit game Call of Duty: Vanguard, akhirnya menyampaikan permintaan maafnya atas kejadian tersebut. Pernyataan permintaan maaf ini pun disampaikan melalui akun Twitter Call of Duty Timur Tengah dan mereka juga menyampaikan telah menghapus konten tersebut dari game.

“Call of Duty dibuat untuk semua orang. Ada konten tidak sensitif terhadap komunitas Muslim yang secara salah dimasukkan pecan lalu, dan sekarang sudah dihapus dari game,” tulis Activison, dikutip dari Detik.com dalam Kotaku pada Jum’at (12/11) lalu.

“Itu seharusnya tidak pernah muncul di dalam game. Kami memohon maaf sebesar-besarnya. Kamu segera mengambil langkah internal untuk mengatasi situasi untuk mencegah kejadi seperti itu di masa depan,” tambah Activision.