Inggris Sampaikan Permintaan Maaf Telah Menuduh Pria Muslim Lakukan Ekstremis

Salman Butt dituduh melegitimasi terorisme Salman Butt dituduh melegitimasi terorisme ( Foto : islam21c.com )]

Muslimahdaily - Pemerintah Inggris telah meminta maaf kepada seorang pria muslim pada Senin (15/11) karena secara keliru digambarkan sebagai pengkhotbah kebencian ekstremis.

Pada siaran pers tahun 2015 lalu, Salman Butt selaku pemimpin redaksi situs web Islam21c, disebut oleh pemerintah Inggris sebagai orang yang melegitimasi terorisme.

"Pemerintah menerima bahwa tuduhan bahwa Butt adalah pengkhotbah kebencian ekstremis yang melegitimasi terorisme sepenuhnya salah dan oleh karena itu seseorang yang pengaruhnya terhadap siswa harus dilindungi," Aidan Eardley, penasihat hukum untuk Menteri Dalam Negeri Priti Patel, mengatakan di pengadilan.

"Saya minta maaf atas kerugian yang dideritanya dan khususnya untuk fakta bahwa tuduhan itu dibuat dan dipertahankan begitu lama," tambahnya, membacakan sebuah pernyataan.

Melansir Anadolu Agency, Rabu (17/11), Atas proses hukum yang harus dijalani Butt karena tuduhan palsu itu, Home Office menyetujui untuk membayar kompensasi Butt disamping biaya hukum dan akan menghapus namanya dari siaran pers.

“Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini, khususnya adalah betapa tidak berdasarnya gagasan ekstremisme,” kata Butt menanggapi kasus ini. Butt percaya narasi ekstremisme sebenarnya sudah hilang.

“Semakin banyak orang menyadari ekstremisme adalah istilah tidak jelas yang digunakan oleh pihak yang berkuasa untuk membungkam setiap pikiran, ide, atau ucapan yang tidak mereka sukai atau tidak dapat ditantang tanpa paksaan. Ini adalah kebohongan,” tambahnya.

Sementara pada laman berita di islam21c.com menuliskan sebuah hasil putusan pengadilan di Inggris. Di berita itu dinyatakan Pemerintah Inggris telah meminta maaf kepada Dr Salman Butt, Pemimpin Redaksi Islam21c, karena menyebutnya sebagai seorang ekstremis dalam siaran pers yang diterbitkan pada 17 September 2015 oleh Perdana Menteri David Cameron.