Siswi muslim Amerika: "Saya Muslim, Tapi Bukan Berarti Teroris"

Sumaiya Mahee Sumaiya Mahee

Muslimahdaily - Seorang siswi muslim Amerika berusia 13 tahun akhirnya angkat bicara soal penghinaan yang harus dihadapinya setiap hari di sekolah. Dia meminta pihak sekolah untuk menambahkan pelajaran mengenai keberagaman ke dalam kurikulum untuk membenahi stereotip yang salah tentang Islam yang banyak beredar di pemberitaan dan sosial media.

“Saya menghadapi (penghinaan) ini setiap hari karena saya seorang gadis muslim. Ini yang saya rasakan (setiap hari)” kata Sumaiya Mahee, seperti dikutip dari laman OnIslam.net.

“Menulis esay ini membantu saya untuk mengembalikan lai rasa percaya diri dan memberi saya jalan untuk menangkal stereotip buruk tentang agama saya. Saat saya mulai bersuara tentang hal ini, saya baru tahu bahwa saya tidak sendiri karena ada anak muslim lainnya yang mengalami hal yang sama” tambahnya.

Tinggal di kota Cambridge, Massachusetts, dengan penduduk yang beragam, Mahee tidak terlepas dari pandangan negatif mengenai agama dan juga kebudayaannya di setiap hari.

Berusaha menjelaskan apa yang harus dihadapinya setiap hari, Mahee menulis sebuah esay yang berjudul ‘You`re not who you say you are: Beyond the single story’. Esay ini merupakan tugas bahasa Inggris di sekolahnya; Kennedy-Longfellow School yang kemudian dia sulap menjadi esay tentang stereotip tentang dirinya. Esay ini bertujuan untuk mengajarkan kepada seluruh siswa di sekolahnya bahwa setiap anak di sekolah itu memiliki image stereotype masing-masing dan bagaimana hal tersebut salah diartikan.

Esay Mahee menjadi perbincangan di dunia maya dan ditampulkan di laman Public Radio International dalam bagian Global nation Education. Esay ini menunjukkan kematangan pribadi Mahee yang melebihi usianya yang masih muda.

“Sangat sulit untuk menghadapi semua ini karena saya dicap sebagai teroris oleh orang-orang” kata Mahee.

Dalam esaynya Mahee menjelaskan bagaimana imagenya tersebut sangat dipaksakan untuk melekat padanya. “Berdasarkan penilaian masyarakat dan semua yang terjadi di dunia ini, saya tidak bisa menjadi siapa yang saya inginkan. Saya bukanlah gadis yang lugu yang melukai dunia saat saya melangkah diatasnya. Karena kekerasan, dari pengeboman di marathon Boston hingga kasus bom yang hampir meledak di New York oleh seorang pemuda dari Bangladesh, saya sepertinya adalah anak dari ‘teroris’ yang melakukan semua hal buruk tersebut”

“Tujuan saya adalah untuk terus berusaha untuk membenarkan stereotip yang salah itu” kata Mahee.

“Saya tidak ingin ada anak Muslim yang harus tumbuh dengan menghadapi masalah yang sama dan tidak bisa berbuat apa pun”

Menghadapi penghinaan di setiap harinya, Mahee menuliskan pengalamannya ketika dia merasa begitu marah setelah mendapatkan penghinaan yang beruntun di setiap harinya. Momen tersebut terjadi saat Mahee, kakaknya dan temannya sedang berjalan pulang ke rumah setelah dari masjid pada suatu malam. Mereka semua memakai hijab kemudian ada dua orang pria yang tertawa ke arah mereka dan berkata “ Awas bahaya! Ada muslim disini!”.

Mahee yang merasa sangat marah kemudian berteriak kepada mereka dan berkata ‘Tunggu sampai kami sampai ke tempat kalian! Kalian tidak akan selamat!”

Hal ini kemudian membuat Mahee sadar bahwa rasa benci tidak bisa dilawan dengan rasa benci juga.

Salah paham

Untuk gadis sekecil Mahee, media merupakan penyumbang terbesar terciptanya opini yang menggambarkan muslim sebagai teroris.

“Jika ada seseorang yang memanggil saya sebagai teroris, saya tidak akan bereaksi dengan menunjukkan kemarahan seperti yang pernah saya lakukan. Saya ingin memberi tahu anak muslim lainnya untuk membalas mereka dengan menunjukkan bagaimana muslim yang sebenarnya” kata Mahee.

“Di TV muslim selalu disebut sebagai teroris dan hal ini membuat orang-orang berpikir bahwa semua muslim adalah teroris”

Dalam esaynya mahee ingin agar sekolah mulai mengajarkan keberagaman kepada para siswa dan menganjurkan para siswanya untuk berdialog secara terbuka untuk mengerti satu sama lain.

“Akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengganti mindset seseorang” kata Mahee.

“Sekolah harus memberi siswanya akses untuk melihat sesuatu dari kacamata yang sama, meski kita semua berasal dari latar belakang yang berbeda. Hal ini akan menjadi langkah penting untuk perubahan.”

“Saya seorang muslim dan dari Bangladesh. Saya memiliki dua karakteristik ini namun hal itu tidak berarti saya seorang teroris atau seseorang yang mengancam bagi masyarakat” tambahnya.

Di Amerika sendiri diperkirakan ada 6 hingga 8 juta Muslim. Sebuah survey di Amerika menunjukkan kebanyakan orang Amerika hanya tahu sedikit tentang islam.

 

Leave a Comment