Rela Terluka Demi Sang Bunda

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Bakti seorang anak sering kali dikisahkan dari para pendahulu yang hidup di era awal Islam. Mereka merupakan teladan yang luar biasa dalam hal birrul walidain. Termasuk di antaranya yakni kisah bakti Kihmis bin Al Hasan At Tamimi pada ibunya.

Dikisahkan satu hari Kihmis melihat seekor kalajengking di dalam rumahnya. Ia pun bersigap mengejarnya untuk kemudian menangkapnya. Ia berlarian dengan gigih agar dapat menangkap kalajengking itu. Namun kalajengking tersebut kabur dan masuk ke dalam liangnya.

Seorang yang melihatnya begitu heran dengan kelakuan Kihmis. Pasalnya, ia sangat bersikeras mendapatkan kalajengking itu. Wajahnya menampakkan kekhawatiran yang sangat.

Itu belum seberapa. Ulahnya kemudian lebih mengherankan lagi. Saat kalajengking itu masuk ke liangnya. Kihmis bukannya berhenti mengejar dan menyerah, justru ia bertindak bahaya. Dimasukkan jarinya pada liang tersebut, membelakangi si kalajengking. Tentu saja kalajengking itu kemudian menyengatnya. 

Kihmis bukannya tidak tahu akan bahaya memasukkan jari ke dalam lubang kalajengking. Ia tahu betul hewan berbahaya itu akan menyengatnya. Namun ia memiliki alasan yang membuat seorang terharu. Alih-alih melihatnya heran, justru seorang yang tahu alasannya akan tersentuh.

Seorang yang sedari tadi memperhatikan perbuatan Kihmis itu pun bertanya dengan nada heran, “Mengapa kau melakukan hal itu?”

Kihmis pun menjawab, “Aku khawatir kalajengking itu keluar dari lubangnya kemudian menyengat ibuku.”

Masya Allah, luar biasa baktinya pada ibunda. Ia rela berkorban, rela teruka, demi keselamatan dan kesehatan ibunda. Terluka akibat sengatan kalajengking bukan perkara ringan. Hewan itu sangat berbisa dan mampu mengakibatkan sakit parah seseorang yang disengatnya. 

Namun Kihmis tanpa ragu menghadapi hewan tersebut. Tanpa ragu pula ia memasukkan jemarinya ke lubang hingga tersengat menyakitkan. Ia berpikir lebih baik kalajengking itu menyengatnya daripada menyakiti ibunda tercinta.

Itulah kisah sederhana dari seorang Kihmis bin Al Hasan At Tamimi. Meski sederhana, kisahnya tersebut mampu membuahkan pelajaran berharga tentang bagaimana seorang anak berbakti pada orangtua. 

Bukan sebuah fenomena jika yang berkorban adalah seorang ibu. Pada dasarnya, ibu selalu melindungi anak-anaknya, menjaganya agar tak tersengat nyamuk sekali pun. Namun ternyata sangat jarang anak yang membalas hal yang sama seperti yang ibunda lakukan. Anak tak peduli seperti kepedulian seorang ibu pada anaknya.

Padahal seorang ibu akan tersakiti hatinya saat melihat anaknya sakit. Ia jauh lebih terluka ketika melihat anaknya tergores. Ia lebih berduka ketika anaknya dilanda pilu. Bahkan hampir saja jantungnya berhenti berdetak ketika menyaksikan anaknya jatuh, meski itu ringan sekalipun. 

Acap kali anaknya terluka, seorang ibu akan berharap ia saja yang menderita sakit itu asal anaknya sehat selalu. Ia berharap penyakit itu menimpanya saja dan bukan anaknya.

Lalu bagaimana dengan anak? Apakah perasaan itu juga dirasakannya pada ibunda? Mirisnya, hanya beberapa anak yang peduli. Hanyalah yang peduli adalah mereka anak-anak shalih yang berbakti sebagaimana Kihmis bin Al Hasan At Tamimi. 

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki perasaan peduli pada ibunda? Apakah kita merasakan sakit ketika ibunda sakit, merasakan luka ketika ibunda terluka, merasakan pedih ketika ibunda menangis?

Ingatlah sebuah firman Allah, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah-payah (pula).” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Leave a Comment