Takjub, Pemuda Ini Merawat Ibu Cacat dan Ayah Pikun

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Sebuah kisah memilukan datang dari pengalaman hidup seorang pemuda. Sebuah kisah nyata tentang birrul walidain yang dilakukan seorang pemuda meski banyak penderitaan yang harus dilewati dan mimpi yang dikorbankan. Inilah kisah yang disampaikan Syekh Hamad Al Mursyid tentang pemuda yang dikenalnya itu, sebagaimana dilansir syahidadotcom.

Si pemuda memiliki orang tua dan menjadi ujian baginya. Suatu hari, sang ibu yang biasa merawatnya tiba-tiba jatuh terjungkal hingga masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Lumpuhlah sang ibu lagi buta matanya. Ibunda tak mampu beraktivitas apapun. Tugas rumah tangga terbengkalai sejak musibah itu terjadi.

Si pemuda lah yang kemudian mengambil alih tugas ibunda. Ia memasak, mencuci pakaian, membereskan rumah. Tak hanya itu, pemuda berakhlakul karimah itu pula merawat ibunya dengan sangat sabar. Ialah yang mengurus ibunda, menyuapinya, menjaga kebersihannya, mengganti pakaian, dan segala kebutuhan lainnya.

Hal itu dilakukan si pemuda bukan satu dua bulan, melainkan bertahun-tahun lamanya. Ia mengurus ibunda dengan sangat sabar meski banyak aktivitas di luar yang menunggunya. Teman-temannya sukses meniti pendidikan, karier, dan rumah tangga. Pemuda lainnya dapat berkumpul-kumpul dan hang out bersama teman-teman. Namun pemuda ini, ia memilih untuk berbakti kepada ibunya.

Setelah bersabar tahun demi tahun, pemuda itu kehilangan ibunya. Sang ibunda menemui ajalnya. Namun itu bukan akhir dari ujian si pemuda. Tak lama setelah ibunya wafat, ia harus menghadapi ayahnya yang tiba-tiba menjadi pikun.
Lebih berat dari ujian sebelumnya, si pemuda harus merawat ayahnya yang menderita penyakit alzheimer. Ayahanda tak dapat mengenali orang-orang di sekililingnya, termasuk anaknya sendiri. Ia bahkan gemar marah-marah dan memukul siapa saja yang dijumpainya.

Namun ada keajaiban yang terjadi saat merawat ayahanda. Si pemuda tak pernah sekali pun dipukul sang ayah. Padahal ayahnya selalu marah-marah dan memukul semua orang yang dijumpainya. Acap kali hendak memukul anaknya, si ayah pikun itu tiba-tiba saja kelu. Tangannya kaku tak mampu digerakkan, lalu ia menangis tergugu. Seakan-akan hati dan tubuhnya tahu bahwa putranya adalah anak yang sangat berbakti, meski otaknya tak lagi mengenali putranya sendiri.

Setelah membagi kisah pemuda berbakti, Syekh Hamad berkata, “Demi Allah, inilah buah dari birrul walidain yang didapat di dunia, sebelum ia mendapatnya kelak di akhirat. Sang pemuda tetap tabah dan bersabar hingga ayahnya meninggal dunia. Demi Allah, tidak pernah aku menemukan lagi seorang anak yang diberi taufik oleh Allah dalam berbakti kepada orang tua selain pemuda itu.” Masya Allah.

Mengurus Orang Tua yang Sakit

Islam sangat menekankan birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua. Ketika orang tua sakit, maka saat itulah anak mendapat kesempatan untuk berbakti kepada keduanya. Allah telah berfirman,

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra’: 23).

Dalam ayat di atas disebutkan, “Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” Maknanya bersifat umum, yakni segala jenis kebaikan kepada kedua orang tua. Termasuk dalam hal ini, merawat ayah dan ibu ketika keduanya sakit. Dalam kondisi inilah, keduanya sangat membutuhkan perbuatan baik dari anak berbakti.

Sebagaimana penjelasan tafsir dari Syekh As Sa’di mengenai makna “Berbuat baiklah kepada ayah ibu.” Beliau mengatakan bahwasanya “Berbuat baiklah kepada mereka berdua dengan seluruh jenis kebaikan, baik dengan ucapan maupun perbuatan.”

Segala jenis kebaikan yang dimaksud ialah seluruh perbuatan baik kepada orang tua. Tak peduli apakah disenangi anak atau tidak, dan tanpa perdebatan, tanpa membantah, serta tanpa merasa berat hati. Semua kebaikan kepada orang tua tersebut dilakukan dengan ikhlas, ta’at, dan menyayangi keduanya. Itulah hakikat berbakti yang sesungguhnya. Yakni melakukan kebaikan kepada kedua orang tua meski dalam perkara yang tidak disenangi.

Leave a Comment