Kisah Adzab Anak Durhaka, Dihisap Bumi Hingga Tangan Lumpuh

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Alkisah ada seorang anak yang memiliki istri pelacur. Tak ada sedikitpun kebaikan dalam diri si istri. Bahkan tak jelas dari mana asal istrinya tersebut.

Lantaran tak baik, sang ibu anak tadi telah sering kali menasihati anaknya akan kejelekan si istri. Namun, hampir tiap kali pula si anak menolak nasihat ibunda karena tepengaruh dengan istrinya.

Ketika terjadi perselisihan antara ia dengan ibunya, dia berniat untuk membunuh sang ibu. Hal tersebtu tak lain atas hasutan dari si istri.

“Maukah ibu pergi jalan-jalan bersamaku?” tanyanya pada sang ibu.

Sang ibu mengira anaknya telah berubah jadi baik. Maka diiyakanlah ajak tersebut.

“Tentu anakku, aku mau pergi bersamamu. Semoga Allah memberimu hidayah,” kata sang ibu gembira.

Dibawalah sang ibu naik mobil menuju padang pasir. Ia sebagai supir, sementara sang ibu duduk di belakang. Selama perjalanan, rasa girang tak henti-hentinya menghiasi hati sang ibu. Saking bahagianya, ia bahkan menangis.

Mobil keduanya melaju di jalan raya hingga pada satu waktu keluar dari jalur. Sampai di gundukan bebatuan, kegelapan menyambut mereka. Di situlah tempat para binatang buas berkumpul. Ia menghentikan mobilnya dan meminta sang ibu turun dari mobil.

“Apakah kita sudah sampai ke tempat orang yang mengundang kita?” tanya sang ibu heran. Jelas tak akan ada seorang pun yang tinggal di tempat gelap gulita seperti ini.

“Tidak ada seorangpun yang yang mengundang kita, akan tetapi aku akan membunuh ibu, karena ibu telah membuat kehidupanku dan istriku susah,” kata si anak.

Tentu sang ibu kaget dengan niat anaknya. Ia tak menduga anaknya justru telah berencana membunuh ibunya sendiri. Ia sangka anaknya telah taubat hingga mau mengajaknya jalan-jalan.

“Kalau begitu tempatkan aku di sebuah rumah, seorang diri,” kata sang ibu seraya menangis.

“Kalau seperti itu, orang-orang akan mencelaku. Tapi jika aku membunuhmu, maka tidak akan ada seorangpun yang tahu perbuatanku,” jawab si anak.

“Sesungguhnya Allah Maha Tahu dengan perkaramu, dan Dia pasti akan membalas perbuatanmu dan istrimu,” balas sang ibu.

“Jika demikian, Allah pasti akan menyelematkan ibu dari cengkramanku,” kata si anak. Ia justru menantang Allah. Sungguh tak ada sedikitpun ketakutan dalam dirinya.

“Allah pasti akan membalasmu. Aku tidak takut mati selama kamu sudah berketetapan hari untuk membunuhmu. Karena Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Maka apabila telah datang waktunya (kematian), mereka tidak dapat mengundurnya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya’,” sang ibu menjawab dengan lantang.

Saat hendak dibunuh, sang ibu berkata lagi, “Biarkan aku shalat dua rakaat terlebih dahulu, apabila aku telah sampai pada bacaan tasyahud, maka bunuhlah aku jika kamu mau. Karena sesungguhnya aku tidak mampu melihatmu membunuhku.”

Setelah itu, didirikanlah shalat dua rakaat oleh sang ibu. Bahkan takbirnya diucapkan dengan penuh keyakinan terhadap Allah. Sang ibu shalat dengan khusyuk. Sementara si anak menunggu dalam diam. Dalam hatinya sebenarnya tersimpan ketakutan. Walau sudah terpengaruh, namun rasa baktinya belum hilang sepenuhnya.

Allah, Dzat yang Maha Mengetahui tentu paham dengan isi hati si anak. Oleh karena itu, pertolongan-Nya datang tatkala si anak tengah bersiap membunuh.

Dengan keadaan tubuh bergetar dan bercucuran keringat, ia menoleh ke kanan dan kiri. Sejauh mata memandang, tak ada seorangpun di sekitarnya. Jika ia memang berniat membunuh ibunya, maka inilah waktu yang tepat. Tidak akan ada seorangpun yang melihat perbuatannya. 

Ia mengangkat batu dengan tangan kirinya hendak menimpa kepala ibunya dari belakang.

Di saat yang sama, sang ibu tengah bersiap. Namun, bukan rasa sakit yang ia rasa. Malahan sang ibu mendengar teriakan anaknya. Dengan terheran-heran, ia menoleh ke belakang. Ternyata anaknya hampir ditelan bumi. Tangannya yang memegang batu telah lumpuh hingga tidak mampu digerakkan.

“Ya Allah, aku tidak punya anak selain dirinya, apa yang terjadi pada anakku?” kata sang ibu sambil menangisi anaknya. Hatinya tak tega melihat anaknya terluka hingga lumpuh sebagian.

Dengan penuh kasih sayang, sang ibu mengeluarkan anaknya dari bumi yang hampir menelannya seraya mengatakan, “Sekiranya aku mati tanpa terjadi hal ini padamu, wahai anakku.”

Demikianlah adzab yang Allah turunkan bagi anak yang berniat membunuh ibunya. Sungguh Allah Maha Kuasa dalam membalas hamba-hamba-Nya.

Wallahu ‘alam.

Sumber: Kisah Muslim.

Last modified on Jumat, 24 Juli 2020 17:07

Leave a Comment