Kisah Pemuda yang Rajin Ibadah tapi Sulit Meninggal karena Durhaka

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Terdapat suatu kisah tentang satu pemuda bernama Alqamah yang hidup pada jaman Rasulullah. Alqamah dikenal sebagai pemuda yang saleh, patuh, setia, dan taat beragama sejak kecil. Ia selalu berada di shaf depan di antara sahabat lainnya saat melaksanakan salat berjamaah. Kesantunannya terhadap sang ibu tidak tertandingi, segala kepentingan ibunya tidak pernah diabaikan. Bahkan dirinya tidak pernah membiarkan ibunya mengambil air sendiri.

Kemudian Alqamah pun menikah dan tinggal di rumah sendiri bersama istrinya. Setelah menikah, disengaja atau tidak, dirinya kurang memberi perhatian lagi kepada ibunya. Tetapi ibunya tidak pernah melapor mengenai kekurangannya kepada siapapun.

Beberapa lama kemudian, Alqamah pun jatuh sakit dan penyakitnya sangat berat. Hingga di penghujung hayatnya, Alqamah sulit untuk mengucap syahadat. Istrinya langsung mengirim utusan untuk memberi tahu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kondisi suaminya.

Maka Rasulullah pun kembali mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar-Rumi dan Bilal bin Rabah untuk melihat keadaan Alqamah secara langsung. Rasulullah berkata, “Pergilah ke rumah Alqamah dan talqin-lah untuk mengucapkan La Ilaha Illallah.”

Sesampainya di sana, para sahabat yang sudah diutus mencoba menolong Alqamah. Alqamah yang sudah dalam keadaan sakaratul maut terus berusaha mengucap syahadat, namun lidahnya tetap kelu dan kaku. Akhirnya para utusan langsung melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah.

Setelah mendapat laporan lengkap, Rasulullah bertanya, “Apakah dia masih memiliki kedua orangtua?”

“Ada wahai Rasulullah, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta,” jawab salah satu utusan.

Mendengar jawaban tersebut, tanpa ragu Rasulullah segera mengirim utusan untuk menemui sang ibu dari Alqamah. Rasulullah juga memberikan pesan kepada utusan tersebut, “Katakan kepada ibu dari Alqamah, ‘Jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rasulullah, maka datanglah. Namun kalau tidak, maka biarlah Rasulullah yang datang menemuimu.”

Pesan tersebut disampaikan kepada ibunda Alqamah dan dibalas oleh sang ibu, “Saya lah yang lebih berhak untuk mendatangi Rasulullah.”

Datanglah sang ibu menemui Rasulullah dengan berjalan menggunakan tongkat. Sesampainya di rumah Rasulullah, beliau langsung berkata kepada ibunda Alqamah, “Wahai ibu Alqamah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau berbohong, maka akan datang wahyu dari Allah yang akan memberitahukan kepadaku. Bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqamah?”

“Wahai Rasulullah, dia rajin mengerjakan salat, banyak berpuasa dan senang bersedekah,” jawab sang ibunda dengan yakin.

Rasulullah kembali bertanya, “Lantas bagaimana perasaanmu padanya?”

“Saya marah kepadanya, Wahai Rasulullah, karena dirinya lebih mengutamakan istrinya dibandingkan dengan saya. Dia pun durhaka kepadaku,” ucap sang ibu.

Saat itu, Rasulullah langsung bersabda, “Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqamah, sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”

“Hai Bilal, kumpulkanlah kayu bakar sebanyak-banyaknya,” perintah Rasulullah kepada Bilal.

Sang ibu langsung menginterupsi, “Untuk apa, ya, Rasul?”

“Aku akan membakarnya Alqamah," jawab Rasulullah tak disangka-sangka.

Sang ibu pun langsung terkejut seraya berkata, “Wahai Rasul, dia itu anakku. Hatiku tetap tak tega melihatmu membakar tubuhnya. Apalagi dilakukan di depan mataku sendiri.”

Mendengar rujukan sang ibu, Rasulullah menjawab, “Wahai Ibu Alqamah, sesungguhnya adzab Allah lebih pedih dan lebih kekal. Kalau engkau ingin agar Allah mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqamah, Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, shalat, puasa, dan sedekah ‘Alqamah tidak ada manfaatnya selama engkau masih murka kepadanya.”

“Wahai Rasulullah, di hadapan Allah, para malaikat-Nya, dan seluruh kaum Muslimin yang hadir, aku bersaksi bahwa aku meridhai anakku ‘Alqamah,” sang ibu langsung berikrar di hadapan Rasulullah.

Kemudian, Rasulullah kembali memberikan perintah kepada Bilal, “Wahai Bilal, pergilah kepadanya dan lihatlah apakah Alqamah sudah bisa mengucapkan syahadat atau belum, barangkali ibu Alqamah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari dalam hatinya, barangkali dia hanya malu kepadaku.”

Tanpa pikir panjang, Bilal kembali mengecek kondisi Alqamah. Ia pun mendengar Alqamah dari dalam rumah mengucapkan lafadz La Ilaha Illallah. Maka Bilal pun masuk dan menyampaikan kabar ini, “Wahai semua yang hadir, sesungguhnya murka sang ibunda-lah yang membuat lisan ‘Alqamah terhalang mengucap syahadat. Setelah ibunya ridha, barulah lisan ‘Alqamah ringan mengucapnya.”

Saat itu juga, Alqamah menghembuskan nafas terakhirnya. Rasulullah segera memberi perintah agar jenazah Alqamah dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau akan menshalatkannya serta menguburkan jenazahnya.

Saat pemakaman dilangsungkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di pinggir kubur Alqamah seraya bersabda, “Wahai kaum Muhajirin dan Anshar, siapa saja yang mementingkan istrinya daripada ibunya, maka laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia adalah untuknya. Allah tidak akan menerima kebaikan dan keadilannya kecuali ia bertobat kepada Allah, memperbaiki sikapnya kepada ibu, dan berusaha mengejar ridhanya. Sesungguhnya ridha Allah berada pada ridha ibu. Murka Allah juga berada pada murka ibu.”

Demikian kisah Alqamah dan sang ibu. Semoga dari kisah ini kita semua bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran. Wallahu ‘alam.

Leave a Comment