Kisah Para Wanita Penggendong Ibunda

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Kisah datang dari lisan Rasulullah ketika didatangi dua shahabat beliau, Abu Musa Al Asy’ari dan Abu Amir. Keduanya mengadukan perilaku istri mereka yang buruk hingga berkeinginan meninggalkan para istri di rumah keluarganya. Namun jawaban Rasulullah sungguh mengejutkan. “Allah telah mengampuni istri kalian,” sabdanya dengan senyum tersungging di wajah sang utusan Allah.

Terkejutlah dua shahabat tersebut. Keduanya heran mengapa istri mereka mendapat hadiah spesial dari Allah dengan ampunan-Nya meski seburuk apapun perilaku mereka, para istri. Lalu dikisahkanlah oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bagaimana budi bakti istri dua shahabat tersebut kepada ibunda mereka. Kurang lebih berikut ini kisahnya.

Di suatu hari, ada segerombolan musuh hendak menyerang desa. Para warga pun berhamburan meninggalkan desa menyelamatkan diri dan harta mereka. Pun dengan istri Abu Musa dan istri Abu Amir. Namun yang mereka bawa bukanlah harta yang perlu diselamatkan melainkan ibu mereka yang telah renta.

Kedua wanita yang notabene lemah itu menggendong ibu mereka dan berlari menyelamatkan diri. Sang ibu diletakkan di punggung dan dengan usaha yang keras, mereka berlari secepat mungkin agar tak tetangkap musuh. Jalan yang mereka lalui pun bukan hal ringan, yakni padang sahara.

Di tengah jalan, mereka merasakan kelelahan yang sangat. Tentu beban yang mereka gendong tidaklah ringan. Mereka pun kemudian mengubah posisi gendong sang ibu dari di punggung menjadi di depan. Setelah itu, mereka lari kembali dengan kecemasan musuh akan mampu mengejar.

Sungguh kepayahan yang luar biasa untuk menggendong ibunda ke tempat yang aman. Sesekali mereka kemudian beristirahat. Kaki ibunda ditaruh di atas kaki putri shalihah tersebut dengan maksud agar tak terkena panasnya padang pasir.

Selepas itu, mereka berlari kembali hingga peluh membasahi sekujur tubuh. Namun mereka terus berlari dengan ibunda yang harus digendong. Mereka begitu tulus melakukannya dan berharap dapat selamat bersama ibunda.

Hingga akhirnya tibalah mereka di tempat aman yang jauh dari jangkauan musuh. Mereka pun bahagia dapat selamat dan menyelamatkan ibunda. Keletihan begitu terasa, peluh sudah tak dapat lagi diusap, namun mereka girang karena ibunda selamat dan sehat. Ibunda yang telah sepuh itu pun sangat bersyukur memiliki putri shalihah yang rela berkorban dan berletih-letih demi ibunda.

Merekalah para shahabiyah yang patut diteladani. Sikapnya dalam berbakti memberikan pelajaran pentingnya birrul walidain. Lihatlah bagaimana upaya mereka menggendong, melayani ibunda agar kakinya tak tersengat panas padang pasir. Demi ibunda tercinta mereka melupakan kelemahan fisik dan memilih berletih-letih.

Pantaslah Allah membukakan pintu ampunan bagi mereka para wanita yang telah berbakti. Bahkan ketika para suami membocorkan perilaku mereka yang tak disukai, Allah membela dengan ampunan-Nya.

Kesalahan dalam menjalankan peran di dalam rumah tangga pastilah sering kali terjadi. Namun yang telah pasti adalah, kedua istri tersebut telah menjalankan perannya sebagai anak dengan sangat baik dan berbakti.

Pengalaman berbakti kepada ibunda pun tak pernah mereka umbar sebagai bentuk kesombongan. Jikalau Rasulullah tak mengisahkannya, maka para suami tak mengetahui betapa hebatnya istri mereka dalam menjalankan birrul walidain.

Baik istri Abu Musa maupun Abu Amir, semoga keduanya mendapat balasan yang baik di sisi Allah. Bagi kita yang masih memiliki ibu, semoga dapat meneladani keduanya dalam berbakti pada ibunda.

Leave a Comment