Ketika Umar dan Muslimin Pertama Kali ke Yerusalem

Yerusalem Yerusalem (Foto : Nasional Kompas)

Muslimahdaily - Kala itu, Yerusalem, sebuah kota indah dan berperadaban tinggi, masuk dalam wilayah Syam. Sejak Rasulullah masih hidup, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, berkeinginan melebarkan dakwah Islam ke tanah para nabi tersebut. Namun penguasa Syam bukan lain adalah Kekaisaran Byzantium, sebuah emparium terkuat di masa itu.

Nabiyullah sempat memimpin 30 ribu pasukan menuju Tabuk untuk berjihad melawan Byzantium. Itulah upaya pertama muslimin untuk membebaskan Yerusalem. Namun ternyata Byzantium belum ditakdirkan untuk melawan kedahsyatan kekuatan muslimin, hingga Rasulullah wafat.

Amanah berpindah ke bahu Abu Bakr Ash Shiddiq. Namun masa pemerintahan Abu Bakr sangat singkat hingga tak sempat melanjutkan perjuangan membebaskan Syam. Barulah di era Umar bin Khaththab, muslimin kembali membentuk pasukan yang gagah berani dan siap mati syahid melawan Byzantium. 

Pemimpin pasukan tersebut pun tak main-main, yakni dua shahabat Rasulullah yang tangguh dan ahli dalam strategi perang; Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Perang Yarmuk pun meletus dengan kemenangan di tangan muslimin. Sebagian wilayah Syam, yakni kota-kota di wilayah Suriah, berhasil dibebaskan pasukan mujahid.

Tak lama kemudian, pasukan pun tiba di balik benteng dan tembok Yerusalem. Mereka mengepung kota suci ketiga setelah Makkah dan Madinah itu. Namun tak ada pertumpahan darah di sana. Perwakilan Yerusalem sekaligus kepala gereja Kristen, Uskup Sophronius justru mengajukan permintaan untuk bertemu sang khalifah muslimin.

Umar yang tengah berada di ibu kota Madinah pun segera menuju Yerusalem dengan menunggang seekor keledai dan hanya ditemani seorang pengawal. Sang uskup sangat terkejut saat melihat Khalifah Umar. Pakaiannya sangat sederhana, penampilannya tak berbeda dari pengawalnya, padahal ia merupakan pemimpin muslimin yang wilayahnya hampir mencakup seluruh wilayah Timur Tengah.

Ternyata umat Kristen Yerusalem pula mengetahui sebuah ramalan dari kitab suci mereka bahwasanya akan ada pemimpin yang datang dan melindungi mereka dari ganasnya dunia, termasuk dari kelicikan Yahudi. Ciri-ciri pemimpin tersebut ternyata sangat persis seperti sosok dan perilaku Umar.

Uskup Sophronius pun kemudian menyambut Umar dengan gembira. Diajaknya Al Faruq mengelilingi Yerusalem. Waktu shalat tiba ketika sampai di depan Gereja Makam Suci, tempat di mana umat Kristen meyakini Yesus di makamkan. Si Uskup pun mempersilahkan Umar untuk shalat di gereja yang disucikan Kristiani tersebut. Namun Umar menolak. Ia khawatir umat Islam akan mengubah gereja tersebut menjadi masjid di kemudian hari karena Umar pernah shalat di dalamnya.

Bersama pasukan, Umar pun menunaikan shalat berjamaah di luar gereja. Kelak, sebidang tanah lapang lokasi Umar shalat saat itu dibangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Umar bin Khaththab. Masjid tersebut masih berdiri hingga kini.

Sang khalifah juga menuju sisa-sisa bangunan Haikal Sulaiman yang mana menjadi lokasi Baitul Maqdis, kiblat pertama umat Islam dan tempat persinggahan Rasulullah saat Isra’ Mi’raj. Di atas reruntuhan tempat ibadah yang didirikan Nabi Sulaiman ini pula kelak berdiri Masjid Al Aqsa.

Betapa terkejutnya Umar ketika melihat reruntuhan Haikal Sulaiman dipenuhi sampah. Beliau, bersama pasukan muslimin pun kemudian membersihkan sampah-sampah tersebut dari sana. Masyarakat Nasrani sengaja menjadikan situs itu sebagai lokasi pembuangan sampah sebagai ejekan untuk Bangsa Yahudi. Mereka marah pada Yahudi karena telah menyiksa dan membantai umat Kristen saat mengungsi ke Persia

Setelah berkeliling Kota Yerusalem, Umar pun membuat sebuah perjanjian keamanan dengan penduduk setempat. Perjanjian tersebut berisi kewajiban hak penduduk non Islam di bawah pemerintahan Islam. Uskup Sophronius kemudian mengajukan satu permintaan pada Umar, yakni agar orang-orang Yahudi tak tinggal di Yerusalem. 

Sebagaimana disebutkan, penduduk Kristen Yerusalem amat sangat membenci Yahudi karena kekejaman dan kesadisan mereka. Dalam sebuah riwayat, Umar setuju dan menjamin tak ada seorang pun Yahudi yang tinggal bahkan melintasi Yerusalem. Namun dalam riwayat lain, Umar tetap mengizinkan Yahudi mengunjungi Haikal Sulaiman dan tembok ratapan yang menjadi situs suci bagi mereka. 

Terlepas dari perdebatan sejarah tersebut, Khalifah Umar bersama Uskup Sophronius dan beberapa panglima perang Islam menandatangani perjanjian keamanan. Sejak itulah, Yerusalem resmi masuk ke dalam pemerintahan Islam. Kota Yerusalem dibangun kembali menjadi kota suci dan bersejarah yang sangat indah. Penduduk muslim dan non-muslim hidup berdampingan dengan aman. Tak boleh ada yang saling mengganggu dalam urusan beragama.

Inilah era kedamaian untuk pertama kalinya dirasakan Yerusalem selain saat era kejayaan Raja Thalut, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman di era kuno. Karena sepanjang sejarah kota itu berdiri, setiap pemerintahan yang berkuasa akan memaksakan peradaban mereka, baik Asysyiria, Babilonia, Persia Kuno, Macedonia (Yunani), Suluqiyah, hingga Romawi Timur (Byzantium).

Kedamaian yang dibawa Umar bin Khaththab tersebut sempat goyah ketika pasukan salib berhasil menguasai Yerusalem di abad ke-9. Namun Shalahuddin Al Ayubi berhasil merebut Yerusalem kembali dan menciptakan kembali kehidupan damai di sana. Kedamaian berlangsung hingga kekhalifahan Islam terakhir, Turki Utsmani runtuh dan seluruh wilayah Syam jatuh ke tangan Inggris pada Abad ke-18. Kedamaian lenyap bersama dengan migrasi bangsa Yahudi ke tanah Yerusalem. Mereka terus menyiksa dan menekan penduduk setempat baik muslimin maupun kristiani, menghancurkan situs-situs suci, dan terus mendesak untuk menguasai seluruh Yerusalem, hingga kini.

Last modified on Selasa, 26 Desember 2017 15:35

Leave a Comment