Kecerdasan Luar Biasa Dua Paman Umat Islam

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Umat ini memiliki beberapa khal atau paman dari ibu. Namun hanya dua orang yang mendapat julukan “Khal Al Mukminin”. Ialah Abdullah bin Umar bin Khaththab dan Muawiyyah bin Abi Sufyan. Keduanya mendapat gelar tersebut karena saudari mereka adalah Ummul Mukminin atau ibunda orang-orang beriman. Selain itu, peran mereka untuk agama ini pun sangatlah besar. Jika Ibnu Umar berjasa di bidang agama, maka Muawiyyah di bidang negara. Inilah kisah keduanya yang memiliki kecerdasan luar biasa untuk maslahat umat.

1. ‘Abdullah bin Umar bin Khaththab

Namanya lebih dikenal dengan Ibnu Umar meski sejatinya anak sang khalifah kedua sangatlah banyak. Ia merupakan saudara dari Ummul Mukminin, Hafshah binti Umar bin Khaththab, karena itulah ia pula merupakan saudara ipar Rasulullah hingga dijuluki pamannya kaum mukminin.

Ibnu Umar merupakan seorang ahli hadits dan menjadi salah satu perawi hadits terbanyak di antara shahabat nabi. Ia menghafal dengan rinci setiap hadits yang didengarnya. Ia pula merupakan salah satu pemuda yang tumbuh besar dalam didikan Rasulullah. Tentu banyak sekali hadits yang ia hafal.

Ibnu Umar dikenal sebagai orang yang sangat gigih mengamalkan sunah Rasulullah. Begitu mendengar satu perintah dalam hadits, ia segera dan selalu melaksanakannya sepanjang usianya. Jika ia mendengar larangan dalam suatu hadits, ia pun segera menjauhinya dan meninggalkannya sepanjang usianya. Lebih dari itu, jika ia melihat atau mendengar seseorang bertentangan dengan hadits yang ia dengar dan hafal dari Rasulullah, maka ia pun dengan segera dan dengan tegas meluruskannya.

Ibnu Umar juga dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa. Sang ayah, yakni Umar bin Khaththab bahkan sangat bangga pada putranya ini. Pernah suatu hari, para shahabat berkumpul dalam sebuah majelis Rasulullah. Para shahabat senior ada di sana. Ibnu Umar masih sangat belia saat itu. Ia pun hadir bersama sang ayah, yakni Umar bin Khaththab.

Dalam majelis tersebut, Rasulullah melemparkan sebuah pertanyaan kepada para shahabat beliau. “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim. Maka sebutkanlah padaku apakah pohon itu?”

Para shahabat yang hadir pun menerka berbagai jenis pohon. Sebagian besar mereka menerka itu adalah pohon Wadhi. Ibnu Umar menerka sebuah jawaban yang berbeda, yakni pohon kurma. Namun ia malu untuk mengangkat tangan karena banyaknya shahabat senior di majelis tersebut.

Namun ternyata tak ada satu pun jawaban shahabat yang benar. Mereka pun bertanya pada nabiyullah, “Wahai Rasulullah, beri tahu kami pohon apakah itu?” Rasulullah pun kemudian bersabda, “Ia adalah pohon kurma.”

Sepulang dari majelis, Ibnu Umar pun menceritakan pada ayahnya bahwa sebetulnya ia tadi telah menebak jawaban pohon kurma atas pertanyaan Rasulullah. Namun ia malu untuk menjawabnya karena usianya yang masih muda. Mendengarnya, Umar bin Khaththab pun terkejut. Ia pun menyayangkan mengapa Ibnu Umar tak berani menjawabnya sehingga ia bisa membanggakan putranya di hadapan Rasulullah dan para shahabat.

2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Saudari Muawiyah, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan merupakan istri Rasulullah atau ummul mukminin. Karena itulah Muawiyyah adalah saudara ipar Rasulullah dan dijuluki pamannya kaum mukminin. Hal ini pernah disampaikan Imam Ahmad bin Hanbal, “Mu’awiyah adalah paman kaum mukminin. Demikian pula, Ibnu Umar adalah paman kaum mukminin.”

Berbeda dengan Ibnu Umar yang menjadi ulama, Muawiyyah mengambil peran sebagai kepala negara. Ialah sang pendiri Dinasti Umayyah yang meneruskan kepemimpinan muslimin pasca Khalifah Ar Rasyidin. Namun jauh sebelum menjabat khalifah, Muawiyyah pun mengambil banyak peran untuk perkembangan Islam.

Di era Rasulullah, Muawiyyah pernah diamanahi untuk menulis wahyu. Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa “Mu’awiyah merupakan salah seorang penulis wahyu Rasulullah. Tulisannya sangat indah. Ia fasih pula berbicara, lagi lembut, dan sangat berwibawa.” Lalu di era Abu Bakr Ash Shiddiq, Muawiyyah diangkat menjadi komandan perang memimpin para shahabat. Sejak itulah ia dikenal dengan kecerdasannya dalam menyusun strategi perang.

Tak heran jika kemudian di era Umar bin Khaththab, Muawiyyah diangkat menjadi Gubernur Syam. Di era kekhalifahan Utsman bin ‘Affan, Muawiyyah memimpin pasukan angkatan laut pertama umat Islam. Peristiwa tersebut adalah momen besar dalam sejarah Islam karena sebagian besar muslimin kala itu berasal dari daerah padang pasir. Namun ternyata di bawah kepemimpinan Muawiyyah, pasukan muslimin berhasil menaklukkan samudra dan menuju tanah Eropa, yakni Siprus.

Adanya angkatan laut yang dipimpin Muawiyyah tersebut pernah dimimpikan Rasulullah. Berikut petikan haditsnya; Suatu hari Rasulullah tengah beristirahat siang di rumah Ummu Haram binti Milhan. Tiba-tiba beliau terjaga sambil tertawa. Hal ini pun mengejutkan Ummu Haram, hingga ia bertanya, “Wahai Rasulullah,apa yang menyebabkan engkau tertawa?”

Rasulullah kemudian menjawab, “Aku diperlihatkan sekelompok umatku yang sedang berjuang di jalan Allah dengan menaiki ombak laut (dengan perahu). Mereka begitu gagah perkasa bak para raja yang sedang duduk-duduk di atas singgasananya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). MasyaAllah, sungguh bangga memiliki dua paman yang sangat cakap lagi cerdas.

Last modified on Rabu, 21 Maret 2018 13:44

Leave a Comment