Kemulian Sayyidah Zainab, Istri Rasulullah yang Cinta Kaum Dhuafa

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Zainab binti Khuzaimah Radhiyallahu’anha merupakan istri Rasulullah yang ke-5. Sayyidah Zainab termasuk kelompok perempuan pertama yang menerima Islam.

Ia dikenal akan sifat lemah lembut dan dermawannya terutama terhadap kaum miskin. Sayyidah Zainab bahkan telah medapat gelar sebagai Ummul Masakin atau ibunda orang-orang miskin, sebelum ia memutuskan mengikuti agama Nabi Muhammad.

Nama lengkapnya adalah Zainab binti Khuzaimah bin Al Harits bin Abdullah bin Amr bin Abdu Manaf. Ibunya merupakan Hind binti Auf Zuhari bin Al Harits. Sang ibunda pun turut dikenal karena memiliki menantu yang terdiri dari orang-orang mulia pada zaman itu.

Di antara para menantunya, yakni, Rasulullah Shalallallahu ‘alaihi wa sallam, Abbas bin Abdul Muthalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ja’far bin Abu Thalib, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar as-Siddiq, dan Syaddad bin Usamah bin Al Hadi.

Selain sebagai Istri Rasulullah, kemuliannya juga terletak dari sifat lembut dan dermawannya terhadap kaum miskin. Sayyidah Zainab sangat mencintai dan peduli terhadap mereka yang hidup kekurangan.

Kasih sayangnya kepada kaum fakir yang menjadikan Sayyidah Zainab memiliki kemulian tersendiri di antara para istri-istri nabi yang lain. Beliau dikenal sebagai sosok yang paling budiman kepada anak-anak yatim dan kaum miskin. Ia senantiasai memberi makan dan bersedekah kepada mereka. Karena itulah ia dijuluki sebagai Ummul Masakin.

Ada beberapa versi mengenai kehidupan Sayyidah Zainab sebelum menjadi istri Rasulullah. Pada salah satu riwayat, beliau dikisahkan telah dua kali menjalani kehidupan pernikahan. Pernikahan pertamanya adalah ketika masa Jahiliyah, ia menikah dengan ath-Thufail bin Al Harits bin Al Muthalib bin Abdu Manaf. Namun kemudian, ath-Thufail menceraikannya dengan alasan tak kunjung memberikan keturunan saat hijrah ke Madinah.

Tak lama setelah itu, Sayyidah Zainah dinikahkan oleh Ibaidah bin Harits Radhiyallahu’anhu, yakni saudara laki-laki ath-Thufail. Ubaidah dikenal sebagai penunggang kuda yang paling berkasa setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abu Thalib.

Sebagai bentuk perjuangan membela Islam, baik Ubaidah dan Zainab, keduanya ikut berperan dalam perang Uhud. Sementara Ubaidah berada pada garis terdepan, Sayyidah Zainab bersama muslimah lainnya menjadi tim medis yang merawat para sahabat yang terluka. Mereka juga bertugas menyediakan makan dan minum.

Pada perang inilah, suami Sayyidah Zainab, Ubaidah gugur sebagai syahid. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Sayyidah Zainab bersikap tegar saat tahu suaminya syahid. Ia tetap pada tugasnya merawat para sahabat dan prajurit yang terluka alih-alih menangisi dan meratapi kepergian suaminya.

Untuk memuliakan Zainab, Rasulullah pun menikahinya. Selain itu, Rasulullah pun luluh karena sifat kasih sayang dan kedermawannya Sayyidah Zainab.

Rasulullah menikahi Sayyidah Zainab pada bulan Ramadhan tahun 3 H. Saat itu, Sayyidah Zainab masih berusia 29 tahun. Rasulullah memberi 12,5 Uqiyah sebagaimaharnya. Sementara itu, 1 Uqiyah dapat disetarakan dengan 40 dirham. Tamu undangannya tak hanya datang dari para sahabat dan kaum berada, namun juga mereka dari kaum miskin dan dhuafa.

Dikisahkan juga bahwanya Rasulullah biasanya mengingkari gelar seseorang di masa Jahiliyahnya. Namun hal ini tidak berlaku dengan Sayyidah Zainab. Gelarnya sebagai Ummul Masakin disukai dan diakui oleh Rasulullah.

Pernikahan Sayyidah Zainab dengan Nabiyullah tidak berlangsung lama. Setelah 3 bulan menikah, Sayyidah Zainab meninggal dunia. Beliau meninggal pada akhir bulan Rabiul Akhir di Madinah saat berusia 30 tahun. Rasulullah menguburkan almarhumah di Baqi’. Almarhumah menjadi salah satu orang pertam dari Ummuhatul Mukminin yang dimakamkan di di Baqi’.

Leave a Comment