Syaikh Said Nursi, Perjuangan Menjaga Cahaya Islam di Turki

Syaikh Said Nursi Syaikh Said Nursi

Muslimahdaily - Badiuzzaman Said Nursi adalah seorang pejuang yang berjuang dengan kecerdasan dan keberanian semata-mata mengharap ridho Allah subhanhu Wa Ta'ala. Ia merupakan seorang pendiri Medretuz Zahra sebagai pusat pendidikan generasi dan perubahan peradaban hingga ia pun dijuluki sebagai mujaddid yang sangat berpengaruh di Turki dengan kisah yang sarat perjuangan, keteguhan, ketabahan dan kejayaan.

Badiuzzaman merupakan nama yang diberikan oleh Syaikh Molla Fathulah, Badiuzzaman berarti Keajaiban Zaman.

Badiuzzaman Said Nursi adalah satu-satu orang yang berani menghadapi ketua suku Miran, Mustafa Kemal Pasya. Seorang ketua suku yang lalim dan pengumbar maksiat, kehiudpannya penuh dengan jerembab dosa dan kehinaan. Namun, semangatnya menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar melebihi dari protes Mustafa Kemal yang hendak membunuhnya.

Darah perjuangan telah mengalir deras di tubuhnya, Badiuzzaman tergugah untuk memahami urusan politik Kekhalifahan Turki Ustmani yang tengah berada pada titik kedzaliman. Praktik-praktik kelaliman dan cara memerintah yang absolut menjadi ciri kekhalifahan yang dijalankan oleh aparat pemerintah. Sultan Abdul Hamid sebagai kepala pemerintahan tak mampu mengembalikan sistem pemerintahan dengan yang lebih baik.

Hingga Badiuzzaman Said Nursi bertekad untuk menyelamatkan tatanan pemerintahan dari praktik-praktik kelaliman dan kemungkaran pada tatanan negara yang merdeka, bebas dan berkonstitusi islam.

Pada tahun 1896, Badiuzzaman Said Nursi menunjungi kota Van dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan sebagai bentuk perhatiannya untuk mencerdaskan generasi umat, ia pun meyakinkan masyarakat bahwa ilmu agama dan ilmu modern dapat bersatu demi kemajuan umat dan kejayaan Islam. Kemudian pada saat itu, kekhalifahan Turki mengalami kemunduran, situasi di Turki sudah tidak nyaman dan aman. Tercatat dalam sejarah Turki, bahwa pada tahun 1877, Tunisia memerdekakan diri dari Turki Utsmani. Pada 13 juli 1878, perjanjian Berlin sebagai revisi perjanjian San Stefano ditandatangani, akibatnya sebagian daerah Bulgaria harus merdeka dari Turki Utsmani, juga seluruh Montenegoro, Serbia, dan Rumania pun merdeka. Sementara wilayah di timur laut Anatolia harus diserahkan ke Rusia. Atas perjanjian Berlin sekitar 40% Tukri kehilangan wilayahnya dan juga membayar persenjataan perang kepada para musuhnya.

Kondisi Turki yang sedang dilanda kemunduran pun dimanfaatkan untuk menjauhkan eksistensi Islam di tanah Turki, seperti ungkapan Perdana Menteri Inggris yang bernamana William Ewart Gladstone di media media Inggris, “Selam kaum Muslim memiliki Al-Qur’an, kita tidak akan bisa menundukannya. Kita harus mengambilnya dari mereka, menjauhkan Al-Qur’an atau membuat kehilangan rasa cinta pada Al-Quran.” Tentu hal ini membuat Badiuzzaman semakin giat mendirikan bangunan-bangunan pendidikan Al-Qur’an untuk menyelamatkan generasi umat dari pengaruh budaya Barat, dan pemerintahan Turki yang kala itu mengalami kemunduran dan jauh dari nilai-nilai Islam tidak menyetujui langkah Badiuzzaman Said Nursi.

Pandangan Turki pun merasuk pada tatanan sekulerime, tatkala Badiuzzaman Said Nursi yang mengirimkan surat terbuka kepada pertinggi pemerintah dengan ungkapan bahwa Islam adalah guru serta pembimbing ilmu pengetahuan, dan pemimpin serta bapak dari segala pengetahuan. Ia menyematkan usulannya untuk mendirikan sebuah universitas Zahra atau Medresetuz Zahra yang memadukan mekteb yang unggul sebagai akal budi, medrese yang paling baik sebagai hati, dan Zewiye yang paling suci sebagai nurani. Petinggi pemerintahan Turki menuduh Badiuzzaman Said Nursi menjatuhkan martabat Sultan hingga utusan pun mengahampiri Badiuzzaman Said Nursi untuk menangkapnya karena dianggap sebagai orang gila, walau demikian dirinya tetap berjuang untuk kejayaan Islam di Turki.

Sultan Abdul Hamid II mengelarkan sekolah di daratan Tukri namun sistem di dalamnya menggunakan sekuler, sekolah yang hanya berbasis ilmu modern khas Eropa. Tanpa sadar, dari sanalah lahir generasi yang sekuler progresif, pemikiran mereka dipenuhi pemikiran politik ala Barat. Pemuda-pemuda berpendidikan yang sekuler tergabung dalam Commite of Union and Progress, CUP. Dari CUP lahirlah pemuda bernama Mustafa Kemal Attatruk, tokoh sekulerisme di Turki yang mamakzulkan Sultan Abdul Hamid II.

Badiuzzaman Said Nursi meneruskan jihadnya dengan senantiasa mempertaruhkan nyawanya dengan mengingatkan Sultan untuk melakukan reformasi pendidikan, mengadakan musyawarah serta beralih pada konstitusi Islam yang menjamin kemerdekaan. Namun Sultan mengacuhkan nasihat Badiuzzaman Said Nursi hingga pada tanggal 23 juli 1908 CUP mengamambil alih pemerintahan Turki. Setelah CUP mengambil alih pemerintahan, kondisi Turki dilanda kerusuhan, kekerasan sehingga meninggalkan luka yang mendalam bagi penduduk Turki.

Media pun mengkritisi CUP dengan sangat tajam dan para ulama yang didalamnya termasuk Badiuzzaman Said Nursi mendirikan Ittihad-i Muhammedi yang momentumnya dirayakan bertepatan dengan maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam di Masjid Aya Sofia sebagai tandingan CUP. Ittihad-i Muhammedi bertujuan menggerakkan rantai cahaya yang menyatukan seluruh umat Islam, membangun orang-orang yang mencintai tempat-tempat ibadah yang didikan sebanyak-banyaknya, menggunakan sistem Sunnah Rasulullah, serta mendorong untuk kemajuan Islam. Adapun anggotanya adalah seluruh muslim yang ada di Turki. Hingga pada 12 April 1909 para penduduk Turki menentang CUP atas kemaksiatannya, hingga Tukri pun kembali menelan kerusuhan dengan pertumpahan darah, pendudukan yang berjumlah banyak tak lagi mendengarkan nasehat Badiuzzaman Said Nursi yang mengatakan bahwa “Kita semua harus memperlihatkan Islam dalam bentuk yang mulia, indah, dan disenangi.”

Ingatlah, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan dan perpecahan yang tak lain dan tak bukan adalah musuh utama dalam menegakkan kalimah Allah.

Badiuzzaman Said Nursi, mujaddid Turki yang mengubah keadaan Turki dengan pendidikan dan kembali membumikan Islam di tanah tersebut, dengan rintangan yang tiada henti, ia tetap berpegang teguh menyebarkan agama yang mulia. Sungguh suatu perjuangan yang sangat menginspirasi.

Leave a Comment