Kisah Keteguhan Hati Nabi Ibrahim ‘Alahissalaam

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah, sebagaiman tercantum dalam Q.S An-nisa ayat 125 yang artinya, “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”. Taatnya kepada Allah sangat erat dan memiliki kedudukan yang tinggi.

Allah mendorong seluruh hambanya untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yakni Tauhid. Ajarannya semata-mata tentang perintah untuk mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tiada yang berhak disembah selainNya. Nabi Ibrahim diturunkan Allah di suatu negeri yang penduduknya menyembah berhala, bahkan ia hadir dari seorang ayah yang mengantungkan hidupnya dari membuat patung yang kelak disembah oleh kaum kafir Quraisy.

Keindahan Islam senatiasa hadir dalam sanubarinya, hingga kedua orang tuanya pun ia hormati. Ia bahkan memenuhi permintaan ayahnya untuk menjual berhala-berhala, tetapi dalam perjalanan, Ibrahim melepas berhala-berhala tersebut ke dalam jurang. Keteguhan hatinya memeluk keesaan Allah mengalahkan syariat orangtua dan nenek moyang terdahulu. Ia sangat mengingkari peribadatan yang dilakuka kaumnya untuk menyemba berhala, jutaan kata seruan untuk tauhid telah lantang ia ucapkan, namun tak jua kaumnya itu mendengar. Bahasa yang halus hingga peruntutan yang dinilai secara logis pun tak mereka hiraukan, padahal mereka menyadari bahwa patung tidak mampu berkutik.

Kegeraman Ibrahim terhadap prilaku kaumnya yang sangat angkuh terhadap Allah membuatnya mengadakan siasat untuk menghentikan aktifitas kemusyrikan tersebut. Pada suatu hari tatkala seisi desanya pergi ke sebuah perayaan hari besar, Ibrahim pun mengendap-ngendap dan melihat semua berhala yang mereka sembah dengan keadaan dihiasi. Tangan kananya dengan cepat menghancurkan berhala-berhala sumber kemusyrikan itu, dan menyiskan berhala yang besar. Ketika para kaum musyrikin itu pulang dari hari perayaan, semuanya terhenyak dengan yang mereka lihat. Situasi seperti ini harusnya dijadikan pelajaran bagi mereka bahwa berhala hanya benda mati yang tidak memiliki kekuatan apapun apalagi sifat-sifat Tuhan.

Tentunya kejadian itu sangat membuat marah kaumnya, mereka menyediakan perapian untuk membakar Ibrahim, sebagaimana tercantum dalam Al-qur’an yang artinya,

“Mereka berkata, ‘Buatlah bagunan (perapian) untuknya (membakar Ibrahim); lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu. Maka mereka bermaksud memperdayai dengan (membakarnya), (namun Allah menyelamatkannya), lalu kami jadikan mereka orang-orang yang hinia.” (QS Ash-Shaffat : 97-98).

Keteguhan hati Ibrahim dalam mengesakan Allah sungguh tak ternilai tingginya, hingga Allah menyelamatkan Ibrahim dengan menjadikan api yang menyala-nyala rasa yang amat dingin. Sebagaimana tercantum dalam Al-qur’an yang artinya,

“Wahai Api ! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!”  (QS Al-Anbiya : 69).

Sungguh, Maha Besar Allah dengan segala pertolonganya, atas kejadian itu pula ayah Ibrahim mengusinya dari desa, sungguh Ibrahim merasakan kepiluan yang teramat dalam karena keluarganya lebih memilih berhala-berhala itu dibandingka dirinya.

Kisah Ibrahim pun berada pada perdebatannya bersama Raja Namrud, yakni seorang raja yang amat congkak, lalim dan mengaku sebagai Tuhan. Tindakannya semena-mena terhadap masyarakat, pikirannya hanya dipenuhi oleh kepentingan dunia. Ibrahim pun menyeru kepada Namrud untuk mengesakan Allah semata. Namun Raja itu bersikeras mengaku sebagai Tuhan, maka berkatalah Ibrahim, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan, orang itu berkata, ‘saya dapat menghidupkan dan mematikan.”

Perkataannya itu telah membuat sang Raja geram, ia mengatakan bahwa dirinya juga dapat menghidupkan dan mematikan, sungguh ucapannya telah melampaui batas. “Sungguh, Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dari barat,” jawab Ibrahim. Mendengar itu, Namrud hanya mampu diam seribu bahasa, namun Tauhid tak jua mengetuk hatinya, hingga Allah mendatangka azab bagi dirinya dan pasukanya dengan azab yang amat pedih.

Keteguhan hati Nabi Ibrahim kepada Allah patut dijadikan contoh oleh kita sebagai umatnya, hatinya tak goyah walau api yang menyala-nyala di hadapannya. Diusir sang ayah dari desa tak menjadikan dirinya berkecil hati, sungguh Allah telah menjadika Ibrahim sebagai kekasih Allah yang teramat patuh pada setiap perintahnya.

Leave a Comment