Kisah Jenazah yang Dilindungi Lebah saat Hendak Dipenggal

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Perang Uhud merupakan salah satu peristiwa besar bagi umat Islam. Saat itu, umat Islam baru saja mendapatkan kemenangan besar melalui perang Badar. Pasukan muslim yang sebagian besar adalah warga Madinah tentu merasa senang.

Sebaliknya, kaum Quraisy yang kebanyakan datang dari Mekkah merasa sangat jengkel. Mereka khawatir dan mulai memperhitungkan kekuatan Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah. Barulah kesempatan menuntut balas datang pada perang Uhud.

Dinamakan perang Uhud karena perang tersebut pecah di dekat gunung Uhud. Terhitung setidaknya ada 700 pasukan muslim yang melawan 3.000 pasukan Quraisy. Dari jumlahnya saja, tantara muslim kalah jauh dari musuh. Namun, kemenangan sempat singgah di pihak kaum Muslim. Hingga akhirnya pasukan Rasulullah harus rela menerima kekalahan mereka lantaran ada sebagian tantara yang meninggalkan pos karena tergoda dengan harta rampasan.

Di sinilah, kaum Quraisy memanfaatkan kesempatan untuk menyerang balik pasukan muslim. Kemenangan pun jatuh ke tangan pasukan Quraisy. Setelah kemenangan tersebut, para wanita Quraisy mulai turun ke medan perang. Dengan semangat, mereka merusakn dan mencincang mayat-mayat kaum muslim dengan amat keji. Mereka mencungkil mata, memotong telinga, hingga membelah dada-dada mereka.

Adalah Sulafah binti Sa’ad yang justru terlihat cemas. Ia mengkhawatirkan nasib suami dan ketiga anak laki-lakinya yang ikut dalam perang tersebut. Lama mencari, akhirnya ditemukan mayat sang suami yang sudah terbujung kaku. Kemudian didapati juga jenazah Musafi dan Kilab, sementara Julas masih dalam kedaan setengah sekarat. Ia lantas menanyakan siapa yang telah membuat anaknya sedemikian menderita.

“Ashim bin Tsabit, dia pula yang telah merobohnya Musafi dn…” belum usai bicaranya, Julas menghembuskan napas terakhir.

Tentu saja hal tersebut membuat kemarahan Sulafah makin menjadi-jadi. Ia bersumpah tidak akan makan dan menghapus air matanya sebelum orang Quraisy membunuh Ahim dan menyerahkan batok kepalanya untuk dijadikan wadah minum kham.

Sulafah bahkan bersedia memberikan hadiah yang besar bagi siapa saja yang mampu menyerahkan Ashim dalam keadaan hidup maupun tak bernyawa. Kabar tersebut membuat warga Mekkah berlomba-lomba untuk menemukan Ashim.

Ashim bin Tsabit sendiri merupakan sosok seorang prajurit yang tak terkalahkan. Strateginya dalam berperang bahkan mendapat pujian langsung dari Rasulullah.

Suatu hari, Ashim diperintahkan untuk memimpin sebuah rombongan yang berisi enam orang guna melaksanakan suatu perkara penting. Di tengah perjalanan, mereka dikepung oleh sekelompok kaum Hudzail.

Peperangan kecil pun terjadi. Sebelum menghunuskan pedangnya, Ashim sempat berucap, “Ya Allah, aku memelihara agamamu dan bertempur untuknya. Maka lindungilah daging dan tulangku. Jangan sampai musuh menjamahnya.”

Tak disangka, romobongan Ashim mulai gugur satu per satu. Sementara kaum Hudzail mash belum tahu bahwa salah satu jenazah tersebut merupakah Ashim. Namun, setelah mengetahuinya, mereka senang bukan main membayangkan hadiah yang akan diberikan Sulafah pada mereka.

Saat hendak memisahkan kepala Ashim dan tubuhnya, mereka dikejutkan dengan datangnya lebah-lebah dari segala arah. Bahkan mereka berulang kali mencoba mendekat, namun berkali-kali juga lebah tersebut melindungi jenazah Ashim.

Mereka akhirnya menyerah dan menunggu malam datang dengan harapan lebah-lebah tadi sudah menghilang. Namun yang terjadi justru, turun hujan yang sangat lebat yang mampu membuat aliran cukup kuat sampai bisa menghanyutkan jenazah Ashim bin Tsabit. Jenazahnya tersebut tak dapat ditemukan hingga besok harinya. Bahkan tak ada bekas sedikitpun, hingga orang-orang Quraisy kesulitan mencari.

Ternyata doa Ashim diijabah oleh Allah. Tubuhnya tersebut tak tersentuh oleh orang kafir karena dilindungi Allah. Wallahu ‘alam.

Sumber: Islami.co

Leave a Comment